Pages

Tampilkan postingan dengan label KEDUDUKAN HADIS TAKBIR PADA SALAT IED. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label KEDUDUKAN HADIS TAKBIR PADA SALAT IED. Tampilkan semua postingan

Selasa, 28 Agustus 2012

KEDUDUKAN HADIS TAKBIR 7 & 5 PADA SALAT IED (BAGIAN II-TAMAT)

Riwayat Abdullah bin Amr bin Al-Ash 
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ قَالَ قَالَ نَبِيُّ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ التَّكْبِيرُ فِي الْفِطْرِ سَبْعٌ فِي الْأُولَى وَخَمْسٌ فِي الْآخِرَةِ وَالْقِرَاءَةُ بَعْدَهُمَا كِلْتَيْهِمَا
Dari Abdullah bin Amr bin al-‘Ash, ia berkata, “Nabi saw. bersabda, ‘Takbir pada iedul fitri tujuh pada rakaat pertama, dan lima pada rakaat terakhir dan membaca al-fatihah setelah keduanya (setelah takbir 7 dan lima)’.”
Hadis qawli (sabda Nabi) ini diriwayatkan oleh Al-Baihaqi (As-Sunanul Kubra III:285-286), Abu Dawud (Sunan Abu Dawud I:299), dan Ad-Daraquthni (Sunan Ad-Daraquthni II:48).
Sedangkan Ibnu Abu Syaibah (Al-Mushannaf I:493) Ahmad (Musnad Al-Imam Ahmad, II:180), Al-Baihaqi (As-sunanul Kubra, III:285-286), Abu Daud (Sunan Abu Daud, I:299), Ad-Daraquthni (Sunan ad-Daraquthni, II:48-49), Ibnu Majah, At-Thahawi (Syarah Ma’anil Atsar, III:343), Ibnul Jarud (Al-Muntaqa, I:76) dalam bentuk fi’li (amaliah Nabi saw.)

Hadis di atas, baik qauli maupun fi’li, semuanya diriwayatkan oleh Abdullah bin Abdurrahman At-Thaifi, dari Amr bin Syu’aib, dari ayahnya, dari kakeknya (Abdullah bin Amr bin Al-Ash).
At Thaifi, dinyatakan daif oleh sebagian ulama, di antaranya Ibnu Main berkata ,’Daifun’. Abu Hatim berkata,’Laisa bil Qawwi, Layinul Hadis’. (Tahdzibut Tahdzib V: 299). An Nasai berkata, ‘Laisa bil Qawwi. (Ad Duafau wal Matruqin : 145) Imam Al-Bukhari berkata, ‘Fihi Nazharun (perlu ditinjau kembali).
Sedangkan ulama yang lain menyatakan bahwa At Thaifi itu Tsiqat. Ibnu Main berkata, ‘Shalihun, Shuwailih’. Ibnu Adi berkata,’Adapun seluruh hadisnya  yang ia riwayatkan dari Amr bin Syuaib mustaqimatun’. Ad Daraqutni berkata,’Yu’tabaru bihi’. Imam al-Bukhari berkata,’Muqaaribul hadits’.  Al-‘Ijli berkata, “Tsiqatun” (Tahdzibut Tahdzib, V:299)
Memperhatikan kedua penilaian di atas, maka penilaian daif terhadap At Thaifi tidak dapat diterima karena tidak diterangkan sebabnya, mengapa ia dipandang lemah. Adapun penilaian Fihi Nazharun Imam Al-Bukhari, bukan ditujukan kepada Abdullah bin Abdurrahman At Thaifi  tetapi ditujukan kepada Abdullah bin Abdurrahman tanpa pakai At Thaifi.
Dalam kitab Mizanul ‘Itidal II:452 tercatat bahwa Abdullah bin Abdurrahman itu ada dua: Abdullah bin Abdurrahman bin Ya’la At Thaifi No. rawi 4411 dan  Abdullah bin Abdurrahman tanpa  pakai At Thaifi No. rawi 4412, dan rawi inilah yang dinyatakan oleh Al Bukhari Fihi Nazharun.
Adapun perkataan wa Fihi Nazharun dari Imam Al Bukhari yang tercatat dalam kitab Tahdzibut tahdzib V:299,  bukan sebagai celaan terhadap At Thaifi, karena ketika Imam At Tirmidzi bertanya kepada Imam Al Bukhari tentang At Thaifi, Imam Al-Bukhari berkata, “Huwa Shahihun (Dia shaleh).”
Dengan demikian yang dimaksud Fihi Nazharun oleh Imam Al-Bukhari ialah beliau hendak menerangkan rawi yang ditinggalkan oleh para ulama, bukan oleh Imam Al-Bukhari. Bahkan dapat dipahami bahwa perkataan Imam Al-Bukhari tersebut merupakan celaan terhadap ulama yang meninggalkan At Thaifi.
Berdasarkan keterangan tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa Imam Al Bukhari tidak pernah mencela At Thaifi,  bahkan sebaliknya beliau menyatakan  hua shahihun dan beliau  merasa salut kepadanya.
Perlu diketahui bahwa At Thaifi termasuk rawi Muslim. Dalam Shahih Muslim riwayat At Thaifi  ditempatkan pada satu tempat yaitu
كتاب الشعر – صحيح مسلم  2: 385   –
Dengan demikian hadis-hadis yang diriwayatkan melalui Abdullah bin Abdurrahman At Thaifi itu shahih. Demikian pula  hadis tentang takbir tujuh dan lima pada salat Ied.

Tata Cara Pengamalan Takbir 7 & 5

Pertanyaan
Pada salat hari raya, takbir yang pertama tujuh kali dan pada rakaat yang kedua lima kali takbir, apakah tujuh kali takbir itu sudah mencakup takbiratul ihraam? Dan apakah lima kali takbir pada rakaat yang kedua itu termasuk takbir intiqal (bangkit dari sujud). Jadi takbir angkat tangannya cuma empat kali angkat tangan?

Jawaban :
Sebagaimana ditegaskan oleh Nabi saw. bahwa pada rakaat pertama tujuh kali takbir. Berdasarkan sabda beliau, maka dapat dipahami bahwa tujuh kali takbir itu meliputi takbiratul ihram. Sebagaimana pada rakaat kedua, Nabi saw. menegaskan lima kali takbir tanpa menyebut pemisahan dengan takbir intiqal (bangkit dari sujud). Berdasarkan sabda beliau, maka dapat dipahami bahwa lima kali takbir itu meliputi takbir intiqal (bangkit dari sujud). Hal ini sesuai dengan pengamalan Nabi saw.
عَنْ عَمْرِو بْنِ شُعَيْبٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُكَبِّرُ فِي الْفِطْرِ الْأُولَى سَبْعًا ثُمَّ يَقْرَأُ ثُمَّ يُكَبِّرُ ثُمَّ يَقُومُ فَيُكَبِّرُ أَرْبَعًا ثُمَّ يَقْرَأُ ثُمَّ يَرْكَعُ قَالَ أَبُو دَاوُد رَوَاهُ وَكِيعٌ وَابْنُ الْمُبَارَكِ قَالَا سَبْعًا وَخَمْسًا
Dari 'Amr bin Syu'aib, dari ayahnya dari kakeknya, bahwa Nabi saw. dalam shalat Iedul Fithri beliau bertakbir tujuh kali pada raka'at pertama kemudian membaca (Fatihah dan surat Al Qur'an). kemudian (pada rakaat kedua) beliau berdiri dan bertakbir empat kali lalu membaca (Fatihah dan surat Al Qur'an) setelah itu beliau ruku'." Abu Daud mengatakan, "di riwayatkan pula oleh Waki' dan Ibnu Mubarrak, keduanya berkata, "(bertakbir) tujuh kali dan lima kali." (HR. Abu Dawud, Sunan Abu Dawud, I: 299, No. hadis 1152)

Adapun praktiknya sebagai berikut: Anda bangkit dari sujud yang kedua pada rakaat pertama menuju rakaat yang kedua mengucapkan takbir dengan mengangkat tangan dan termasuk takbir yang pertama dari yang lima itu.

Pertanyaan:
Imam lupa pada takbir Ied seharusnya 7 kali takbir tetapi ia malah 6 kali, bagaimana kedudukan salat tersebut?
Jawaban:
Salat ‘Iednya sah. Sebab untuk kekurangan takbir ini tidak ada keterangan untuk mengerjakan sujud sahwi.
Pertanyaan
Kami masih ragu dan ingin bertanya tentang bacaan apa yang harus kita ucapkan di antara dua takbir waktu melaksanakan salat ‘Idul Fitri maupun Idul Adha.
Jawaban :
Salat ‘Idul Fitri dan ‘Idul Adha itu, dua salat yang berbeda dengan salat-salat lainnya. Seperti salat Gerhana dua rakaat dengan empat fatihah, empat surat, empat ruku. Salat ‘Idul Fitri dan ‘Idul Adha seperti salat Shubuh, tetapi pada rakaat pertama tujuh kali takbir dan pada rakaat kedua lima kali takbir.
عَنْ عَمْرِو بْنِ شُعَيْبٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ أَنَّ النَّبِيَّ  صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَبَّرَ فِي عِيدٍ ثِنْتَيْ عَشْرَةَ تَكْبِيرَةً سَبْعًا فِي الأُولَى وَخَمْسًا فِي الآخِرَةِ وَلَمْ يُصَلِّ قَبْلَهَا وَلَا بَعْدَهَا قَالَ أَبِي وَأَنَا أَذْهَبُ إِلَى هَذَا.
Dari Amr bin Syu’aib dari bapaknya (Syu’aib), dari datuknya (Abdullah bin Umar), sesungguhnya Nabi saw. takbir dalam salat ‘Ied dua belas kali takbir, tujuh di rakaat pertama, dan lima di rakaat yang akhir, tidak salat sebelumnya dan tidak pula sesudahnya, (yaitu tidak ada qabliah dan ba’diah) Abdullah bin Ahmad berkata: Bapak saya berkata: Dan saya berpendirian sesuai dengan hadis ini. (HR. Ahmad)
Adapun antara takbir dan takbir, tidak terdapat keterangan yang menunjukkan adanya bacaan


Sumber: Ust Amin Mukhtar

KEDUDUKAN HADIS TAKBIR 7 & 5 PADA SALAT IED (BAGIAN I)

Hadis-hadis tentang takbir 7 & 5 pada salat ied yang mudah kita dapati adalah melalui tujuh orang sahabat, yaitu Aisyah, Abdullah bin Amr bin Al-Ash, Amr bin Auf, Ibnu Abas, Ibnu Umar, Amr bin Al-Ash, Ammar bin Saad. Namun yang paling menarik perhatian untuk dikaji secara mendalam adalah dari sahabat Aisyah dan Abdullah bin Amr bin Al-Ash.

Riwayat Aisyah 
عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ  صلى الله عليه وسلم  كَانَ يُكَبِّرُ  فِي الْفِطْرِ وَالأَضْحَى فِي الأُوْلَى سَبْعَ تَكْبِيْرَاتٍ وَفِي الثَّانِيَةِ خَمْسًا
Dari Aisyah, sesungguhnya Rasulullah saw. bertakbir pada salat iedul fitri dan adha, pada Rakaat pertama 7 takbir dan rakaat kedua 5 takbir. (HR. Abu Dawud, Sunan Abu Dawud, I: 229, No. hadis 1149)
Hadis ini diriwayatkan oleh Abu Dawud, melalui Qutaibah dari Ibnu Lahi’ah. Sedangkan pada riwayat Abu Daud lainnya melalui Abdullah bin Wahb dari Ibnu Lahi’ah dengan tambahan lafal
سِوَى تَكْبِيرَتَيِ الرُّكُوعِ
"Selain dua takbir untuk ruku." (Sunan Abu Dawud, I: 229, No. hadis 1150)

Hadis ini diriwayatkan pula oleh para imam lainnya dengan redaksi yang berbeda:
  • Riwayat Ibnu Majah, Sunan Ibnu Majah I:407;
عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى الله عَليْهِ وسَلَّمَ كَبَّرَ فِي الْفِطْرِ وَالأَضْحَى سَبْعًا وَخَمْسًا ، سِوَى تَكْبِيرَتَيِ الرُّكُوعِ
عَنْ جَدِّهِ ، أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى الله عَليْهِ وسَلَّمَ كَبَّرَ فِي الْعِيدَيْنِ سَبْعًا فِي الأُولَى ، وَخَمْسًا فِي الآخِرَةِ
  • Riwayat Ahmad, Musnad Al-Imam Ahmad VI:65 dan 70;
عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُكَبِّرُ فِي الْعِيدَيْنِ سَبْعًا وَخَمْسًا قَبْلَ الْقِرَاءَةِ
عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُكَبِّرُ فِي الْعِيدَيْنِ سَبْعًا فِي الرَّكْعَةِ الْأُولَى وَخَمْسًا فِي الْآخِرَةِ سِوَى تَكْبِيرَتَيْ الرُّكُوعِ
  • Ad-Daraquthni, Sunan Ad-Daraquthni II:46;
أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم كَبَّرَ فِي الْفِطْرِ وَالأَضْحَى سَبْعًا وَخَمْسًا سِوَى تَكْبِيرَتَىِ الرُّكُوعِ
كَانَ النَّبِيُّ  صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُكَبِّرُ  فِي الْعِيدَيْنِ فِي الأُوْلَى سَبْعَ تَكْبِيْرَاتٍ وَفِي الثَّانِيَةِ بِخَمْسٍ قَبْلَ الْقِرَاءَةِ
  • Riwayat Al-Baihaqi, As-Sunanul Kubra III:286-287;
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يُكَبِّرُ فِى الْعِيدَيْنِ فِى الأُولَى سَبْعَ تَكْبِيرَاتٍ ، وَفِى الثَّانِيَةِ خَمْسَ تَكْبِيرَاتٍ قَبْلَ الْقِرَاءَةِ
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- كَبَّرَ فِى الْفِطْرِ وَالأَضْحَى سَبْعًا وَخَمْسًا سِوَى تَكْبِيرَةِ الرُّكُوعِ
  • Al-Hakim, Al-Mustadrak I:297;
كَانَ النَّبِيُّ  صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُكَبِّرُ فِى الْعِيدَيْنِ فِى الأُولَى سَبْعَ تَكْبِيرَاتٍ ، وَفِى الثَّانِيَةِ خَمْسَ تَكْبِيرَاتٍ قَبْلَ الْقِرَاءَةِ
  • At-Thahawi, Syarhu Ma’anil Atsar III:343;
* أن رسول الله  صلى الله عليه وسلم  صلى بالناس يوم الفطر والأضحى فكبر في الأولى سبعا وقرأ ق والقرآن المجيد وفي الثانية خمسا وقرأ اقتربت الساعة وانشق القمر

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُكَبِّرُ فِي الْعِيدَيْنِ سَبْعًا وَخَمْسًا فِي الْآخِرَةِ سِوَى تَكْبِيرَتَيْ الرُّكُوعِ
  • At-Thabrani, Al-Mu’jamul Ausath, III:270;
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُكَبِّرُ فِي الْعِيدَيْنِ فِي الْأُولَى سَبْعًا وَفِى الثَّانِيَةِ خَمْسًا قَبْلَ الْقِرَاءَةِ

Penilaian Para Ulama Terhadap Status Hadis
Sebagian ulama menyatakan bahwa hadis-hadis di atas dhaif, karena semua sanadnya melalui seorang rawi bernama Abdullah bin Lahi’ah.
  • Ibnu Ma’in berkata:
لاَيُحْتَجُّ بِحَدِيْثِهِ
“Hadisnya tidak dapat dipakai hujjah”
  • Ad-Darimi berkata:
ضَعِيْفُ الْحَدِيْثِ
“Hadisnya daif”
  • Ibrahim bin Ya’qub Al-Jauzajani berkata:
 إِبْنُ لَهِيْعَةَ لاَ يُوْقَفُ عَلَى حَدِيْثِهِ وَلاَ يَنْبَغِيْ أَنْ يُحْتَجَّ بِهِ وَلاَ يُغْتَرُّ بِرِوَايَتِهِ
“Ibnu Lahi’ah tidak diketahui hadisnya, dan tidak layak dijadikan hujjah, dan tidak boleh tertipu dengan riwayatnya” (Ahwaal Ar-Rijaal, No. 274)
  • At-Tirmidzi berkata:
إِبْنُ لَهِيْعَةَ ضَعِيْفٌ عِنْدَ أَهْلِ الْحَدِيْثِ, ضَعَّفَهُ يَحْيَى بْنُ سَعِيْدٍ الْقَطَّانُ وَغَيْرُهُ مِنْ قِبَلِ حِفْظِهِ
“Ibnu Lahi’ah daif menurut ahli hadits, ia didaifkan oleh Yahya bin Sa’id al-Qathan dan yang lainnya dari segi hapalan”
  • Ibnu Hiban berkata:
وَكَانَ شَيْخًا صَالِحًا وَلكِنَّهُ كَانَ يُدَلِّسُ عَنِ الضُّعَفَاءِ قَبْلَ اخْتِرَاقِ كُتُبِهِ
“Dia syekh yang shalih, tetapi ia melakukan tadliis (penyamaran sanad) dari rawi-rawi daif sebelum kitab-kitabnya terbakar” (Kitaab Al-Majruuhiin, II:11)
  • Ad-Daraqutni menjelaskan pada riwayat Ibnu Lahiah terdapat Idhthirab (hadisnya tidak menentu), karena pada satu riwayat Ibnu Lahiah menerima dari Yazid bin Abu Habib dari Az Zuhri. Pada riwayat yang lain dari Uqail dari Az Zuhri. Pada riwayat yang lainnya dari Abul Aswad dari Urwah. Semuanya dari Aisyah. Sedangkan Pada riwayat yang lainnya dari Al ‘Araj dari Abu Hurairah. Ad Daraqutni berkata, “Idhthirab terjadi dari Ibnu Lahiah.” (At-Ta’liq ‘ala Sunan Ad-Daraqutnhi, II:46)
Tanggapan Para ulama lainnya

Abdullah bin Lahi’ah  lahir tahun 96/97 H dan wafat tahun 174 H (Tahdzibul Kamal XV:499-500) Ia menerima hadis dari 65 orang dan memiliki murid sebanyak 45 orang (Tahdzibul Kamal XV:488-490).
Imam Al-Bukhari berkata, dari Yahya bin Bukair, ia berkata:
إِخْتَرَقَ مَنْزِلُ بْنِ لَهِيْعَةَ وَكُتُبِهِ فِي سَنَةِ سَبْعِيْنَ وَمِئَةٍ
“Rumah dan kitab-kitab Ibnu Lahi’ah terbakar pada tahun 170 H” (Tahdzibul Kamal XV:496)
Ibnu Hajar berkata:
عَبْدُ اللهِ بْنُ لَهِيْعَةَ صَدُوْقٌ مِنَ السَّابِعَةِ خَلَطَ بَعْدَ احْتِرَاقِ كُتُبِهِ
“Abdullah bin Lahi’ah shaduq (jujur) dari thabaqat ke-7, dia mukhtalit (berubah hapalannya) setelah kitab-kitabnya terbakar” (Taqribut Tahdzib I:309)
Berdasarkan keterangan Ibnu Hajar ini, periwayatan Ibnu Lahiah pada asalnya shahih, dan untuk mendaifkan hadisnya perlu menunjukkan bukti bahwa hadis itu diriwayatkan setelah mukhtalith (berubah hapalannya). Untuk itu para ahli hadis telah memberikan beberapa petunjuk, antara lain
عَنْ عَمْرِو بْنِ عَلِىٍّ يَقُوْلُ عَبْدُ اللهِ بْنُ لَهِيْعَةَ إِحْتَرَقَتْ كُتُبُهُ فَمَنْ كَتَبَ عَنْهُ قَبْلَ ذلِكَ مِثْلُ بْنِ الْمُبَارَكِ وَعَبْدِ اللهِ بْنِ يَزِيْدَ الْمُقْرِى أَصَحُّ مِنَ اَّلذِيْنَ كَتَبُوْا بَعْدَمَا احْتَرَقَتِ الْكُتُبُ
Dari Amr bin Ali, ia berkata, “Abdullah bin Lahi’ah terbakar kitab-kitabnya, siapa yang menulis hadis darinya sebelum kitabnya terbakar, seperti Abdullah bin al-Mubarak, Abdullah bin Yazid al-Muqri, itu lebih sahih daripada orang-orang yang menulis setelah kitab-kitabnya terbakar” (Al-Jarh wat Ta’dil, V:147)
وَرِوَايَةُ بْنِ الْمُبَارَكِ وَابْنِ وَهْبٍ عَنْهُ أَعْدَلُ مِنْ غَيْرِهِمْ
Dan riwayat Abdullah bin Mubarak dan Abdullah bin Wahab darinya lebih ‘adil daripada riwayat yang lain” (Taqribut Tahdzib I:319)
وَرَوَى الْفَضْلُ بْنُ زِيَادٍ عَنْ أَحْمَدَ بْنِ حَنْبَلٍ قَالَ مَنْ كَتَبَ عَنِ ابْنِ لَهِيْعَةَ قَدِيْمًا فَسِمَاعُهُ صَحِيْحٌ
Al-Fadhl bin Ziyad meriwayatkan dari Ahmad bin Hanbal, ia berkata, “Siapa yang menulis hadis dari Ibnu Lahi’ah pada masa lalu (sebelum mukhtalith), maka penerimaannya sahih” (Siyar A’lam An-Nubala, VIII:21)
قَالَ أَبُوْ حَاتِمِ بْنِ حِبَّانَ الْبُسْتِي كَانَ مِنْ أَصْحَابِنَا يَقُوْلُوْنَ سِمَاعُ مَنْ سَمِعَ مِنِ ابْنِ لَهِيْعَةَ قَبْلَ احْتِرَاقِ كُتُبِهِ مِثْلُ الْعَبَادِلَةِ إِبْنِ الْمُبَارَكِ وَابْنِ وَهْبٍ وَالْمُقْرِئ وَعَبْدِ اللهِ بْنِ مَسْلَمَةَ الْقَعْنَبِيِّ فَسِمَاعُهُمْ صَحِيْحٌ وَمَنْ سَمِعَ بَعْدَاحْتِرَاقِ كُتُبِهِ فَسِمَاعُهُ لَيْسَ بِشَيْءٍ
Abu Hatim bin Hiban al-Busthi (Ibnu Hiban) berkata, “Sebagian di antara sahabat kami mengatakan, ‘Penerimaan orang yang menerima dari Ibnu Lahi’ah sebelum kitab-kitabnya terbakar, seperti abadilah (para rawi bernama Abdullah), yaitu Abdullah bin al-Mubarak, Abdullah bin Wahab, Abdullah bin Yazid al-Muqri, dan Abdullah bin Maslamah al-Qa’nabi, maka penerimaan mereka itu sahih, dan siapa yang menerima setelah kitab-kitabnya terbakar, maka penerimaannya laisa bi syai-in (tidak bernilai sama sekali)” (Siyar A’lam An-Nubala, VIII:23)

Berdasarkan keterangan-keterangan di atas, periwayatan Ibnu Lahi’ah dapat diterima apabila diriwayatkan oleh:
  1. empat Abdullah: Abdullah bin Wahb, Abdullah bin al Mubarak, Abdullah bin Yazid al Muqri, Abdullah bin Maslamah. Karena mereka menerima hadis dari Ibnu Lahi’ah sebelum kitab-kitabnya terbakar.
  2. Al-Auza’i (lahir 88 H ) yang wafat sebelum Ibnu Lahi’ah (th. 157 H)
  3. Sufyan at-Tsauri yang wafat sebelum Ibnu Lahi’ah
  4. Syu’bah bin al-Hajjaj yang wafat sebelum Ibnu Lahi’ah
  5. Abdurrahman bin Mahdi
  6. Amr bin al-Harits al-Mishri yang wafat sebelum Ibnu Lahi’ah
Karena mereka mendengar hadis darinya sebelum mukhtalith (kitab-kitabnya terbakar)
Dengan demikian hadis tentang takbir tujuh dan lima pada salat Ied yang diriwayatkan melalui Ibnu Lahi’ah dapat dijadikan hujjah karena diterima oleh salah satu dari empat Abdullah di atas, yaitu Abdullah bin Wahab sebagaimana tercatat pada riwayat At-Thahawi (Syarhu Ma’anil Atsar III:343) sebagai berikut:
حدثنا يونس قال ثنا ابن وهب قال أخبرني بن لهيعة عن خالد بن يزيد عن بن شهاب عن عروة عن عائشة رضي الله عنها أن رسول الله  صلى الله عليه وسلم كان يكبر في العيدين سبعا وخمسا سوى تكبيرتي الركوع
dan riwayat Abu Dawud (Sunan Abu Dawud, I: 256) sebagai berikut:
حدثنا ابن السرح أخبرنا ابن وهب أخبرني بن لهيعة عن خالد بن يزيد عن بن شهاب بإسناده ومعناه قال سوى تكبيرتي الركوع

Adapun penilaian Tadliis (penyamaran sanad) dari Ibnu Hiban tidak dapat dijadikan alasan untuk pendaifan hadis takbir tujuh dan lima riwayat Ibnu Lahi’ah. Karena pada riwayat Ad-Daraqutni (Sunan Ad-Daraquthni, II:46) ditegaskan dengan Shighatul Ada (bentuk penyampaian) haddatsana ( حدثنا ) sebagai berikut:
وحدثنا أبو بكر النيسابوري ثنا محمد بن إسحاق ثنا إسحاق بن عيسى ثنا ابن لهيعة ثنا خالد بن يزيد عن الزهري عن عروة عن عائشة…
Pada riwayat ini tampak jelas bahwa Ibnu Lahi’ah menyatakan Haddatsana Khalid bin Yazid.  Pernyataan ini menunjukkan bahwa shighah ‘an pada periwayatannya maksudnya haddatasana, dan ia tidak berbuat tadliis.

Kemudian penilaian Idhthirab (tidak menentu hadisnya) dari Ad-Daraqutni terhadap Ibnu Lahi’ah tidak tepat, karena periwayatan Ibnu Lahi’ah dari Yazid bin Abu habib dari Az Zuhri, atau dari Uqail dari Az Zuhri, atau dari Abu Al-Aswad dari Urwah,  semua matannya menegaskan bahwa takbir pada salat Ied itu tujuh kali pada rakaat pertama dan lima kali pada rakaat kedua . Demikian pula halnya periwayatan Ibnu Lahi’ah dengan dua matan yang berbeda melalui jalan yang sama, yaitu dari Khalid bin Yazid, dari Az Zuhri, dari Urwah, dari Aisyah,
كان رسول الله  صلى الله عليه وسلم  يكبر في العيدين  اثني عشر تكبيرة سوى تكبيرة الاستفتاح
كان رسول الله  صلى الله عليه وسلم يكبر في العيدين  سبعا في الركعة الأولى وخمسا في الآخرة سوى تكبيرتي الركوع
tidak dapat dijadikan alasan  mudhtarrib-nya Ibnu Lahi’ah, karena yang mahfuzh (yang kuat) adalah matan yang kedua,  yaitu diriwayatkan oleh murid Ibnu Lahi’ah bernama Abdullah bin Wahb. Muhamad bin Yahya Adz-Dzuhli berkata:
هذَا هُوَ الْمَحْفُوْظُ لأَنَّ ابْنَ وَهْبٍ قَدِيْمُ السِّمَاعِ مِنِ بْنِ لَهِيْعَةَ
“Dan inilah yang mahfuzh (yang kuat), karena Abdullah bin Wahab mendengar dari Ibnu Lahi’ah pada masa lalu (sebelum mukhtalith)” ( Irwa Al-Ghalil, III:108)
Perlu diketahui bahwa Ibnu Lahi’ah termasuk rawi Al-Bukhari dan Muslim. Hadis Ibnu Lahi’ah pada kitab Shahih Al-Bukhari ditempatkan pada beberapa tempat, di antaranya:
كتاب التفسير باب ( إن الذين توفاهم الملائكة …) فتح الباري 9: 140–
Sedangkan pada Shahih Muslim hanya dimuat pada satu tempat,  yaitu
كتاب المساجد ومواضع الصلاة  باب إستحباب التبكير بالعصر, صحيح مسلم 1: 278 -

Kesimpulan:
Hadis-hadis tentang takbir 7 & 5 pada salat ied yang bersumber dari Aisyah statusnya shahih dan dapat dijadikan landasan pengamalan.

Sumber: Ust Amin Mukhtar