C.Fase Musa & Harun
Setelah
Yusuf meninggal, Bani Israil kembali hidup sengsara karena
diperlakukan oleh penguasa, yakni Fira’un Ramses II, sebagai budak dan
pekerja keras, termasuk diantaranya sebagai pekerja paksa untuk
membangun pyramid dan istana kerajaan. Tidak hanya itu penguasa Mesir
mengeluarkan kebijakan untuk membunuh setiap anak laki-laki yang lahir
dari Bani Israil, sedangkan anak perempuan dibiarkan hidup. Sejak saat
itulah Bani Israil mengalami penindasan dan pembantaian dari Fir’aun
selama beratus-ratus tahun. Kisah penyiksaan ini diungkap dalam Alquran,
pada beberapa surat, antara lain al-Baqarah ayat 49 dan al-Qashash ayat
4.
Sesuai dengan kehendak Allah swt, kemudian Nabi Musa as lahir
(turunan Bani Israil generasi ke-4, jalur Lawe bin Ya’qub. Lihat
silsilah lengkapnya). Beliau diselamatkan Allah swt dari petaka Fir’aun,
bahkan menjadi putra angkat sampai menginjak dewasa. Karena membunuh
bangsa Mesir untuk membela salah seorang turunan Bani Israil, Nabi Musa
as melarikan diri ke Madyan dan menikah dengan salah seorang puteri Nabi
Syu’aib as. Setelah selama sepuluh tahun bersama keluarga besar Nabi
Syu’aib as, Allah swt memerintahkannya kembali ke Mesir, sebagai seorang
rasul yang diutus kepada Bani Israel.
Melihat kaumnya tertindas,
atas perintah Allah, Nabi Musa as membawa kaumnya itu keluar dari Mesir.
Pada tahun 1200 SM, bertolaklah rombongan kaum Bani Isra'il (12 suku
sekitar 600.570/670.000 orang) di bawah pimpinan Nabi Musa meninggalkan
Mesir menuju negeri Kan’an (Palestina). Kisah keluarnya Bani Israil dari
Mesir itu diceritakan Alquran dalam surah Taha ayat 77 hingga 79
Sebelum sampai di Kan’an, Alquran menerangkan beberapa kejadian yang berkaitan dengan mereka
1.
Mereka dikejar Fir’aun dan tentaranya (sekitar 1.200.000/1.500.000
orang) hingga terjebak antara lautan (bagian utara dari Laut Merah) di
depan dan Fir’aun berserta tentaranya di belakang. Lalu Allah
menyelamatkan mereka dengan menurunkan wahyu kepada Nabi Musa agar
memukulkan tongkatnya ke laut, sehingga mereka dapat menyeberangi lautan
itu dengan selamat, dan Allah menenggelamkan Fir’aun dan tentaranya.
(Lihat, Asy-Syu'ara : 60-68; Yunus : 90-92; Tafsir al-Kasysyaf, V:14)
2.
Setelah Allah menyelamatkan Bani Israel, maka datanglah masa di mana
Musa dan Harun harus menderita hidup bersama dengan mereka. Muncullah
karakteristik-karakteristik mereka yang kurang baik yang timbul dari
lemahnya iman, bodoh dan rasa takut. Setelah mampu menyeberangi laut,
mereka langsung mendatangi masyarakat yang secara keseluruhan menyembah
patung. Mereka berkata kepada Nabi Musa: "Hai Musa. buatlah untuk kami
sebuah tuhan (berhala) sebagaimana mereka mempunyai beberapa tuhan
(berhala)." Musa menjawab: "Sesungguh-nya kamu ini adalah kaum yang
bodoh." (Lihat, al-A’raf:138) Di sini mulai tampak watak asli sebagian
besar Bani Israil generasi itu, yaitu ingin menyembah tuhan selain Allah
padahal Allah telah melimpahkan karunia-Nya kepada mereka:
a. Membebaskan mereka dari perhambahan dan penindasan Fir’aun ketika di Mesir
b. Menyelamatkan mereka dari kejaran Fir’aun dan dapat menyeberangi laut Merah dengan aman
3. Watak asli sebagian dari mereka itu semakin tampak terlihat selama perjalanan tersebut,
a.
Ketika kepanasan, mereka meminta Musa memohon kepada Allah agar
menaungi mereka sehingga tidak kepanasan. Di gurun Sinai yang panas
terik itu Allah menaungi mereka dengan awan.
b. Ketika bekal
makanan dan minuman sudah menipis, kembali mereka meminta Musa untuk
diberikan makanan dan minuman. Permintaan ini kembali dikabulkan Allah
dengan menurunkan hidangan makanan "manna" (sejenis makanan yang manis
sebagai madu) dan "salwa" (burung sebangsa puyuh).
c. Ketika
kehabisan air untuk minum dan mandi, kembali mereka meminta Musa untuk
diberikan air. Permintaan ini kembali dikabulkan Allah dengan mewahyukan
kepada Musa agar memukul batu dengan tongkatnya. Lalu memancarlah dari
batu yang dipukul itu dua belas mata air, untuk dua belas suku bangsa
Isra'il yang mengikuti Nabi Musa, masing-masing suku mengetahui sendiri
dari mata air mana mereka mengambil keperluan airnya. Berbagai tuntutan
dan permintaan itu diceritakan dalam surat al-A’raf:160 dan
al-Baqarah:61
d. Bani Isra'il pengikut Nabi Musa yang sangat manja
itu, merasa masih belum cukup atas apa yang telah Allah berikan kepada
mereka, mereka menuntut lagi dari Nabi Musa agar memohon kepada Allah
supaya diturunkan bagi mereka tanaman yang tumbuh di tanah berupa
sayur-mayur, seperti ketimun, bawang putih, kacang adas dan bawang merah
karena mereka tidak puas dengan satu macam makanan. (Lihat,
al-Baqarah:61)
e. Ketika Nabi Musa as bermunajat dengan Allah di
Bukit Sina, sebagian kaumnya kembali sesat menyembah berhala dan membuat
patung anak Sapi atas bujukan Samiri. Dalam peristiwa ini semakin jelas
watak asli mereka, yaitu berkeras kepala dan selalu membangkang
terhadap perintah Allah yang diwahyukan kepada Nabi Musa. Peristiwa itu
dan sifat-sifat keras kepala mereka dijelaskan dalam Alquran surat
Thaha:85-98; Al-A’raf:149-155; dan Al-Baqarah:55,56,63,64).
f.
Ketika Allah mewahyukan kepada Nabi Musa untuk memimpin kaumnya pergi ke
Palestin, tempat suci yang telah dijanjikan oleh Allah kepada Nabi
Ibrahim untuk menjadi tempat tinggal anak cucunya, mereka membangkang
dan enggan melaksanankan perintah itu. Alasan penolakan mereka ialah
karena mereka harus menghadapi suku Kana'an yang menurut anggapan mereka
adalah orang-orang yang kuat dan perkasa yang tidak dapat dikalahkan
dan diusir dengan adu kekuatan. Mereka tidak mempercayai janji Allah
melalui Musa, bahwa dengan pertolongan-Nya mereka akan dapat mengusir
suku Kan'aan dari kota Ariha untuk dijadikan tempat pemukiman mereka
selama-lamanya. Berkata mereka tanpa malu, menunjuk sifat pengecutnya
kepada Musa: "Hai Musa, kami tidak akan memasuki Ariha sebelum
orang-orang suku Kan'aan itu keluar. Kami tidak berdaya menghadapi
mereka dengan kekuatan fisik karena mereka telah terkenal sebagai
orang-orang yang kuat dan perkasa. Pergilah engkau berserta Tuhanmu
memerangi dan mengusir orang-orang suku Kan'aan itu dan tinggalkanlah
kami di sini sambil menanti hasil perjuanganmu." (lihat, Qs.
Al-Maidah:20-24)
Nabi Musa marah ketika melihat sikap kaumnya yang
pengecut itu yang tidak mau berjuang dan memeras keringat untuk
mendapat tempat pemukiman, tetapi ingin memperolehnya secara hadiah atau
melalui mukjizat sebagaimana mereka telah mengalaminya dalam banyak
peristiwa. Dan yang menyedihkan hati Musa ialah kata-kata ejekan mereka
yang menandakan bahwa hati mereka masih belum bersih dari benih kufur
dan syirik kepada Allah. Ketika Nabi Musa tidak sanggup lagi membujuk
mereka untuk melaksanakan perintah Allah tersebut, maka Nabi Musa berdoa
kepada Allah:
رَبِّ إِنِّي لَا أَمْلِكُ إِلَّا نَفْسِي وَأَخِي فَافْرُقْ بَيْنَنَا وَبَيْنَ الْقَوْمِ الْفَاسِقِينَ
"Ya
Tuhanku, aku tidak menguasai selain diriku dan diri saudaraku Harun,
maka pisahkanlah kami dari orang-orang yang fasiq yang mengingkari
nikmat dan kurnia-Mu." Q.s. Al-Maidah:25
Sebagai hukuman bagi Bani
Israil generasi ini (yang menolak perintah Allah), Allah mengharamkan
wilayah Palestina selama 40 tahun. Dan selama itu pula mereka
berkeliaran di atas bumi tanpa memiliki tempat bermukim yang tetap
(Lihat, Q.s. Al-Maidah:26). Mereka hidup dalam kebingungan sampai mereka
musnah semuanya. Sedangkan mereka yang taat terhadap perintah itu dapat
memasuki Palestina setelah 40 tahun “kutukan” itu berakhir. (Lihat,
Tafsir at-Thabari, X:191). Usaha Nabi Musa as untuk membawa Bani Israil
masuk ke Palestina tidak berhasil karena mereka tidak mengikuti petunjuk
Nabi Musa as sampai ia wafat pada usia 120/150 tahun. Begitu juga
saudaranya Harun as, yang wafat 3 tahun sebelum Nabi Musa. Sementara itu
Bani Israil masih dalam kesesatan.
Di dalam hadis riwayat
al-Bukhari dan Muslim, Rasulullah bersabda bahwa sesungguhnya nabi Musa
ketika hendak menghembuskan nafas terakhirnya berkata, “Ya Allah
dekatkanlah aku kepada tanah suci hingga berjarak lemparan batu” Dan
Rasulullah bersabda : Demi Allah! Kalau saja saya dekatnya saya akan
memperlihatkan kepadamu tempat makamnya di samping jalan dekat bukit
yang berwarna merah”.
Setelah beberapa tahun Musa wafat,
orang-orang Israel dipimpin oleh beberapa Nabi. Di antara mereka ada
Nabi Ilyas dan Nabi Ilyasa. Setelah Nabi Ilyasa meninggal, keadaan
bangsa Israel makin kacau balau. Peradaban mereka merosot dan ajaran
Nabi Musa mulai ditinggalkan (QS asy-Syu’ara: 63-66).
Keterangan:
Jumlah suku Bani Israil pada zaman Nabi Musa diterangkan dalam Alquran
وَقَطَّعْنَاهُمُ اثْنَتَيْ عَشْرَةَ أَسْبَاطًا أُمَمًا
“Dan mereka Kami bagi menjadi dua belas suku yang masing-masingnya berjumlah besar” Q.s. Al-A'raaf : 160
Imam
at-Thabari menjelaskan bahwa Allah telah membagi dan menjadikan mereka
beberapa suku, yakni 12 suku (Lihat, Tafsir at-Thabari, X:174).
Berdasarkan
catatan sejarah, selama periode Nabi Yusuf di Mesir (sekitar 130 tahun
sebelum lahir Nabi Musa), jumlah Bani Israel masih berkisar 72 jiwa,
kemudian zaman Nabi Musa mereka sudah berkembang menjadi 12 suku dengan
jumlah mencapai 600.570/670.000 jiwa (mereka yang beriman dan ikut
keluar dari Mesir bersama Nabi Musa) dan masih ada 1.200.000 yang
merupakan suku dzariyyah (mereka yang menetap di Mesir). Jadi total
populasi mereka saat itu berjumlah 1.800.570/1.870.000 jiwa. Fakta angka
tersebut menunjukkan sebuah perkembangan populasi yang sangat
signifikan, padahal antara masa Nabi Yusuf dengan Nabi Musa hanya
terpaut 400 tahun (4 abad). (Lihat, Tafsir al-Kasysyaf, V:14;
at-Tafsirul Munir I hal. 418).
D.Fase Yusa bin Nun dan Setelahnya
Setelah
generasi baru tumbuh dan bertahun-tahun perkelanaan dalam keganasan
gurun pasir berakhir, bani Israel dipimpin oleh nabi mereka yaitu Joshua
bin Noon/Yusa bin Nun. Yahudi memanggil mereka dengan Yashou. Dia
menggantikan Musa untuk memimpin mereka yang menyeberangi sungai Jordan
bersama-sama pada tahun 1190 S.M. Lalu mereka dapat menaklukkan
musuh-musuh mereka dan menduduki kota Jericho. Kemudian ia mengomando
mereka untuk menginvasi Aai, dekat Ramallah dan berusaha untuk
menaklukkan Jerussalam namun usaha ini gagal karena jumlah Yahudi yang
terlalu sedikit. Sehinggal hal ini tidak memungkinkan mereka untuk
menyebar, menduduki dan mengontrol seluruh wilayah. Sesuatu yang kita
ketahui tentang Joshua datang dari hadis Rasulullah saw. yang mengatakan
bahwa di saat Joshua berhadapan dengan musuhnya di medan pertempuran,
peristiwa itu berlangsung hingga terbenamnya matahari. Ia berdoa kepada
Allah agar supaya matahari tidak terbenam terlebih dahulu hingga
peperangan itu usai dengan kemenangannya. Maka Allah kabulkan doanya
dengan menunda matahari terbenam hingga Joshua memenangkan peperangan.
Kepemimpinan
Yahudi setelah Joshua dipegang oleh para pemimpin yang dikenal dengan
para hakim. Periode mereka ini dikenal dengan zaman para hakim yang
berlangsung lebih kurang 150 tahun. Kendati mereka berusaha keras untuk
mereformasi kaum ini namun masa ini terus mengabadikan chaos,
pemberontakan, malapetaka, perselisihan dan dekadensi moral serta agama
secara umum pada generasi Bani Israel yang berlangsung lebih kurang 150
tahun. Ketika itu mereka berdiam di wilayah datang tinggi di sekitar
kota Jerussalem (Al Quds) dan wilayah datar bagian selatan Palestina.
Di
saat Bani Israel menyadari kondisi mereka yang kian memburuk, para
pemimpin di antara mereka meminta kepada salah satu nabi (yang dipanggil
Samuel) untuk menunjuk raja bagi mereka yang mungkin dapat memimpin
untuk berperang di jalan Allah. Namun, nabi mereka, yang telah mengenal
watak mereka : Artinya : (nabi mereka menjawab) : Mungkin sekali jika
kamu nanti diwajibkan berperang, kamu tidak akan berperang. Mereka
(menjawab) : Mengapa kami tidak mau berperang di jalan Allah, padahal
sesungguhnya kami telah diusir dari kampung halaman kami dan dari
anak-anak kami?. Maka ketika perang itu diwajibkan atas mereka, mereka
pun berpaling, kecuali beberapa orang saja di antara mereka. (Al Baqarah
: 246)
Nabi mereka mengatakan bahwa Tuhan telah menunjuk bagi
mereka Talut sebagai raja. Tapi mereka menentang karena mereka : Padahal
kami lebih berhak mengendalikan pemerintahan daripadanya. (Al Baqarah :
247)
Nabi mereka berkata bahwa Tuhan telah memilihnya di atas
kapasitas mereka dan diberi pengetahuan yang luas dan punya kekuatan
fisik yang prima.
Talut, seorang pemimpin yang beriman kini
memegang puncuk kepimpinan bani Israel yang berlangsung pada tahun 1025
S.M. Narasi-narasi Israel (Israiliyyaaat) menamakannya dengan Shauel.
Allah menguji pengikut-pengikutnya; mereka diperintahkan untuk tidak
meminum air dari aliran tertentu. Namun mereka gagal mematuhinya walau
hanya dengan ujian yang sederhana itu : Kecuali menceduk seceduk tangan,
maka ia adalah pengikutku. Kemudian mereka meminumnya kecuali beberapa
orang di antara mereka. (Al Baqarah : 249)
Jumlah sedikit yang
lulus di dalam ujian pertama itu tidak dapat melalui tes berikutnya
dengan baik ketika mereka menyaksikan Jalut dan pasukannya. Lalu mereka
berkata : Tak ada kesanggupan kami pada hari ini untuk melawan Jalut dan
tentaranya. (Al Baqarah : 249)
Hanya sedikit sekali kelompok yang
masih beriman dan berperang dengan gigih sampai akhirnya Allah berikan
mereka kemenangan, di manan nabi Daud A.S yang masih muda-- dapat
membunuh Jalut dalam peperangan ini dengan ketapel batu (senjata perang
kuno).
Sejarah Talut tidak begitu jelas. Namun, riwayat
Israeliyaat menyebutkan bahwa sekitar tahun 1004 S.M, pasukan palestina
mengalah Talut Shauel di peperangan Galobou. Mereka dapat membunuh tiga
bani ini, yang memaksanya untuk melakukan aksi bunuh diri, memotong
kepalanya dan memaku badanya sebagaimana itu juga dilakukan oleh
anak-anaknya pada dinding kota Bashan.
E.Fase Daud dan Sulaiman
Bab
baru dalam sejarah Bani Israel telah terbuka di bawah pemerintahan Daud
A.S. Ia menggantikan Talut pada tahun 1004 S.M. Ajaran tauhid tersebat
di seluruh wilayah tanah suci. Nabi Daud dianggap sebagai pendiri yang
ril bagi kerajaan Bani Israel di palestina. Yahudi pada periode sebelum
ini hanya dapat menguasai sebagian kecil wilayah Palestina dan terbatas
sekali. Zaman yang disebut dengan zaman para hakim hanya berlalu dengan
semaraknya peperangan sporadik antara kabilah-kabilah kecil. Setiap
kabilah hampir tidak pernah dapat mempertahankan wilayah tanah yang
telah diduduki. Nabi Daud A.S dilahirkan di Bethlehem. Kekuasaannya
berlangsung 40 tahun dari kira-kira tahun 1400 S.M sapai 963 S.M. Pada
awal mulainya, ibukota pemerintahannya adalah Hebron (Al Khalil), ia
berdiam di sana selama 7 tahun. Jadi sekitar tahun 995 S.M ia menduduki
Jerussalam dan memindahkan ibukotanya di sana. Ia mengerahkan seluruh
balatentaranya untuk memerangi orang-orang yang tidak beriman in tanah
suci ini hingga ia mampu untuk menaklukkan mereka pada tahun 990 S.M. Ia
mampu untuk memaksa Damascus untuk membayar pajak tanah (land-taxes)
dan menaklukkan Muabis, Edomis dan bangsa Ammonites. Pada periode itu,
para pengikut ajatan tauhid untuk pertama kali dalam sejarah kala itu
untuk mendominasi sebagian besar wilayah Palestina. Tapi, yang paling
mungkin, bahwa tapal batas kerajaan Daud tidak terhubungkan dengan laut
kecuali pada tempat dekat Yoya (Jaffa). Tapal batas kerajaan Israel pada
puncak keemasannya berjarak dengan panjangnya 120 mil dan lebarnya 60
mil. Arealnya tidak lebih dari 1.200 mil persegi (square miles)---20
ribu km2 yang kira-kira 7 ribu km2, kurang dari wilayah Palestina yang
ada sekarang.
Bangsa Yahudi mengontrol wilayah dataran tinggi,
namun mereka gagal untuk menguasai wilayah-wilayah datar (plains)
khususnya sebagian besar daerah pesisir Palestina yang merupakan bagian
yang belum pernah dikuasai oleh kerajaan mereka sepanjang riwayatnya
sama sekali.
Kalau memang Yahudi kontemporer berbangga dengan Daud
A.S dan mengasumsikan diri mereka sebagai penggerek benderanya dan
mewarisi kebesarannya. Tetapi sesungguhnya umat Islam menganggap diri
mereka lebih berhak dengan Daud A.S dibanding dengan Bani Israel. Karena
mereka mengimaninya sebagai nabi dari nabi-nabi Allah, mencintai dan
menghormatinya. Mereka bangga dengannya karena ia telah berhasil
mendirikan negara iman yang berdiri di atas fondasi tauhid di Palestina.
Dan mereka adalah orang-orang yang kini berjalan di atas jalannya
dengan membawa bendera tauhidnya setelah mengundurkan diri, menjadi
kafir, menyekutukan Allah SWT dan mengingkari janji-janji mereka dengan
Allah.
Kita ketahui dari Al Quran bahwa Allah SWT telah
menganugerahkan kepada nabi Daud A.S suatu hikmah dan diturunkan
kepadanya kitab suci Zabur. Ia juga diberikan kerajaan yang kuat. Bahwa
gunung-gunung dan burung-burung bersama-samanya memuji dan berzikir
kepada Allah ketika ia menyanyikannya dengan khusyudan suaranya yang
menyentuh (lihat, Saad : 17-20, 26; Al Anbiyaa : 80; Saba : 10-11
Nabi
Sulaiman A.s mewarisi bapaknya Daud dalam bidang ilmu, hikmah dan
kenabian. Menurut riwayat-riwayat bahwa nabi Sulaiman tergolong dalam
salah satu dari 19 anak Daud. Sulaiman dilahirkan di Jerussalem dan
pemerintahannya di tanah yang berkah ini berlangsung sekitar 40 tahun
(963-923 S.M).
Allah telah anugerahkan kepada Sulaiman kerajaan
yang tidak pernah ada setelah itu. Allah telah jadikan bangsa jin tunduk
berkhidmat kepadanya sebagaimana angin juga tunduk dibawah komandonya.
Sulaiman terkenal dengan hikmah, keadilan, kekuatan dan kekuasaannya.
Sebagaimana Allah telah ajarkan kepadanya bahasa bangsa burung dan
binatang.
Tentu apa yang menjadi kelebihan nabi Sulaiman merupakan
mukjizat rabbaniyyah yang dianugerahkan kepadanya sebagai bukti atas
kenabiannya. Palestina telah dianugerahi dengan pemerintahan imani yang
penuh dengan kemukjizatan yang didukung oleh balatentara jin, manusia,
burung dan angin. Allah muliakan Sulaiman dengan mukjizat yang bisa
mengalirkan tembaga yang dapat mengalir bagaikan mata air yang memercik
dari bumi. Kerajaan ini telah menyaksikan dinamika pembangunan, kemajuan
yang pesat sebagaimana kekuasaannya membentang sampai ke Sabaa di
wilayah Yaman.
Kisah Sulaiman terdapat di dalam Al Quran dalam
jumlah yang berkali-kali sebagai indikasi atas ilmu, kerajaan dan
kenabiaannya. (lihat, Saad : 35-40; Al Naml : 16-17; Saba : 12-13; Al
Anbiyaa : 81
Dari hadis-hadis Rasulullah saw. dapat kita simpulkan
bahwa nabi Sulaiman memiliki kekuatan fisik yang prima dan merupakan
orang yang sangat menyenangi perang di jalan Allah serta beristeri
banyak.
E.Fase Setelah Sulaiman
Pemerintahan
Daud dan Sulaiman berlangsung lebih kurang 80 tahun yang merupakan
zaman keemasan pemerintahan yang berdiri di bawah payung tauhid dan iman
atas Palestina sebelum kedatangan Islam.
Setelah kematian
Sulaiman, kerajaannya terpecah menjadi dua bagian sebagai dua negara
yang terpisah yang kerap saling menyerang dari waktu ke waktu.
Masing-masing menderita kerusakan internal, kelemahan militer dan
politik serta pengaruh asing. Ketika Sulaiman meninggal dunia,
representatif 12 kabilah Bani Israel mengadakan pertemuan di Shechem
(dekat Nablus) untuk mengangkat Rehbeam bin Sulaiman sebagai raja.
Namun, menurut beberapa riwayat, bahwa para utusan dari 10 kabilah
bersepakat untuk tidak mengangkatnya karena ia tidak menjanjikan mereka
untuk menurunkan pembayaran pajak. Sebaliknya, mereka memilih Yarbaam
yang berasal dari kabilah Ephraim sebagai raja baru dan menyebut
kerajaan mereka dengan sebutan Israel. Mereka tetapkan Shechem sebagai
ibukota mereka (yang kemudian disebut dengan Tarzah dan Samaria).
Pengganti
raja ini adalah Akhab yang berkuasa dari tahun 874 S.M sampai 852 S.M.
Ia mengizinkan isterinya yang bernama Isabel, anak raja Sidon dan Ture,
untuk mengikuti ibadah penyembahan Tuhan orang Phoenis yaitu Ba’al yang
konsekuensinya memancing sebuah revolusi yang dikepalai oleh seorang
aparat yang bernama Yaho yang berhasil menggulingkan Akhab dan dapat
merestorasi peribadatan kepada Yahweh.
Pada periode Yarbaam kedua
dari tahun 785 S.M hinggal 745 S.M, ia merupakan generasi ketiga dari
keturunan Yaho, kerajaannya meluas ke arah utara yang harus menggusur
orang-orang Aramaian. Tapi situasi ini tidak berlangsung lama karena
munculnya raja Assyria Tajilat Blissr ketiga (745 S.M-727 S.M) berhasil
untuk mengakhiri ekspansi kerajaan tersebut. Penggantinya adalah
Shillmanasar kelima dan setelah itu adalah Sarjon kedua dapat memberikan
pelajaran kepada Joshua, yang merupakan raja terakhir dari Bani Israel.
Mereka berhasil menghancurkan kerajaannya pada tahun 721 S.M. Kemudian
bangsa Arssyrian ini berhasil memindah Bani Israel ke wilayah Haran,
Khabour, Kurdistan dan Persia serta menempatkan orang-orang Aramaian
sebagai pengganti Bani Israel yang sudah hengkang. Kelihatannya
orang-orang Israel yang terusir sudah bercampur baur dengan penduduk
jiran di pengungsian secara sempurna sehingga tidak ada jejak kesepuluh kabilah Israel tersebut yang dapat diselusuri.
Menurut
sumber Israeliyyaat, pada pemerintahan Yarbaam bin Sulaiman (923-916
S.M) telah tersebar ibadah berhala, kerusakan moralitas bangsa dan
semaraknya sodomi. Ketika ia digantikan oleh anaknya yang bernama Abyam,
(915-913 S.M) kondisi moralitas bangsa masih rusak. Di waktu Yhoram bin
Yahoshfat berkuasa (849-842 S.M) ia telah membunuh enam saudaranya
bersama dengan kelompok dari para pemimpin suatu kaum. Adapun Youhaz bin
Yatam (735-715 S.M) disebutkan bahwa hatinya sangat terpikat dengan
kecintaan pada berhala-berhala. Bahkan ia mengorbankan anak-anaknya di
pelataran penyembelihan yang dipersembahkan kepada berhala dan
membiarkan dirinya terkekang dan menjadi budaknya hawa nafsu dan
kenakalan. Mansi bin Hazqiya, yang memerintah dari tahun 687-642 S.M,
telah menggiring masyarakatnya untuk berpaling dari menyembah Tuhan dan
mendirikan tempat-tempat ibadah berhala buat mereka.
Hal demikian
bukanlah sesuatu yang aneh bagi Bani Israel. Maka itu yang menjadi
moralitas mereka ketika bersama Musa A.S. dan ini yang turut bersaksi.
Sebagaimana Alquran mensinyalir bahwa mereka telah merubah, mengganti
dan menyelewengkan firman Allah serta membunuh para nabi. Sebagaimana
firman Allah, artinya : Sesungguhnya Kami telah mengambil perjanjian
dari Bani Israil, dan telah Kami utus kepada mereka rasul-rasul. Tetapi
setiap datang seorang rasul kepada mereka dengan membawa apa yang tidak
dingini oleh hawa nafsu mereka, (maka) sebagian dari rasul-rasul itu
mereka dustakan dan sebagian yang lain mereka bunuh. (Al Maidah : 70)
Sejarah
berbicara bahwa mereka telah membunuh nabi Haziqual karena ia melarang
seorang dari hakim dari perbuatan mungkar. Raja Mansi bin Hazqiya
membunuh nabi Ashiya bin Amous. Ia memerintahkan untuk menggantungnya di
atas dahan pohon karena nabi tersebut telah menasehati dan
memberikannya wejangan. Yahudi juga membunuh nabi Armiya dengan cara
melemparinya dengan batu karena ia mengutuk mereka yang telah berbuat
kemungkaran.
Kerajaan Judah kelihatannya sudah terserang oleh
faktor-faktor kelemahan, sebagaimana ia juga terjerumus ke dalam
pengaruh asing sejak lama. Ini yang menyebabkannya terus diserang dan
mengalami kekalahan berulang kali sehingga membuat para musuh dengan
mudah dapat memasuki Jeerussalam. Sheshaq, salah satu Firaun Mesir,
memasuki Jerussalem dan mengambil kekuasaan atasnya pada masa akhir abad
ke 10 S.M.
Bangsa Palestina dan Arab juga menyerang Jerusalem
pada periode pemerintahan Yahoram (849 S.M-842 S.M). Mereka dapat masuk
dan menduduki istana Yahoram serta menangkap anak-anak dan
isteri-isterinya. Adapun raja Hazqiya (715-685 S.M) ia harus dengan
terpaksa mendeklarasikan penyerahan diri kepada raja Assyrian, Sarjon
Kedua, setelah berhasil mengalahkan kerajaan Israel. Mansi bin Hazqiya
juga harus membayaar pajak kepada Assyrhadon dan Assyrbanybal, yang
merupakan dua raja Assyria. Orang-orang Assyaria mengikat raja ini
dengan rantai yang terbuat dari tembaga dan mengirimnya ke Babiloni.
Kemudai dia kembali ke Jerusalem dan meninggal di sana.
Pada masa
pemerintahan Yoshyia bin Amon (640 S.M-609 S.M), Nackhaw Mesir hanya
berkuasa tiga bulan. Yoshyia menangkapnya dan mengirimkan kembali ke
Mesir dan meninggal di sana. Ia digantikan oleh Yahoyaqim bin Yashia
(609 S.M-548 S.M). Penguasa ini telah mengeksploitasi raksi dengan
berbagai pajak untuk dibayarkan kepada petingginya di Mesir dan kembali
menyembah berhala. Pada masa kekuasaan Yahoyaqim, Buchadnezzr Babylonia
berhasil mengalahkan Nackhaw Mesir, di selatan Syria pada tahun 605 S.M
dan terus merayap hinggal akhirnya dapat memasuki Jerusalem. Di sana ia
dapat menaklukkan Yahoyaqim, mempermalukannya dan memaksakan negaranya
untuk menyerah di bawah kekuasaannya. Dan ketika Yahoyaqim memberotak
melawan Buchadnezzar, pendatang dari Babylonia ini terus memasuki
Jerusalem bersama balatentaranya dan berhasil mengikat Yahoyaqim dengan
rantai dari tembaga hingga akhirnya meninggal dunia.
Ketika
Yahoyaqim berkuasa dari tahun 598 S.M-597 S.M, Nebuchadnezzer, atau
Buchadnezzar, mengepung Jerusalem. menangkap raja dan keluarganya,
pemimpin Yahudi dan sekitar 10 ribu dari populasinya, yang lebih dikenal
dengan tahanan pertama. Mereka juga menjarah beberapa harta karun yang
berada di candi dan mengirimnya ke Babilon. Maka dari itu, Nebuchanezzar
menunjuk Sodkiya bin Yoshyia (597 S.M-586 S.M) yang diambil sumpah
setia kepadanya. Namun Sodkiya, saat menjelang hari-hari akhir rezimnya,
memberontak melawan orang-orang Baylonia yang kembali maju terus
memasuki Jerusalem dan mengepungnya hinggal 18 bulan sampai akhirnya
mereeka menyerahkan diri. Nebuchanezzar membumi hanguskan Jerusalem. Ia
ratakan tempat-tempat ibadah yang ada, menjarah kekayaan dan harta
karun, menangkap sekitar 40 ribu Yahudi dan mengirim mereka ke Babylonia
yang dikenal dengan sebutan tahanan Bobylonia kedua. Orang Yahudi yang
tersisa akhirnya berimigrasi ke Mesir, termasuk nabi Arimyah. Kerajaan
Judah jatuh pada tahun 586 S.M.
Kitab Talmud mencatat bahwa
kejaatuhan dan kehancuran negara Yahudi tidak mungkin terjadi kecuali
dikarenakan oleh dosa-dosa Bani Israel yang telah mencapai puncaknya.
Akhirnya dosa-dosa itu terlalu membebani Tuhan yang maha Agung. Ketika
mereka menolak untuk mendengarkan nasehat Arimyah dan peringatannya,
serta setelah penghancuran canti, nabi Arimyah berceramah di depan
Nebuchadnezzar dan Chaldea. Ia berkata : Hendaknya kamu tidak hanya
berpikir bahwa hanya dengan kekuatanmu saja kamu dapat mengalahkan
orang-orang pilihan Allah ini; tapi sesungguhnya itu karena dosa-dosa
mereka yang sangat memalukan ini yang menggiring mereka terjerumus dalam
azab.
Kitab Taurat mensinyalir bahwa dosa-dosa Bani Israel yang
menyebabkan keruntuhan kerajaan mereka dengan lisan salah seorang nabi
mereka Shiya sebagai berikut : Artinya : Celakalah bagi umat yang
bersalah, bangsa yang melakukan dosa besar, keturunan para pelaku
kejahatan, bani perusak yang meninggalkan Tuhan dan meremehkan kesucian
Israel, adalah orang-orang yang telah mundur ke belakang dan murtad.
(Kitab Ashiya bab1)
Paska keruntuhan kerajaan Israel di Palestina,
bangsa Yahudi hidup dalam periode/masa yang disebut dengan Hegemoni
Babylonia yang berkedudukan di Irak. Ini merupakan periode di mana
mereka sudah memulai penulisan kitab Tauraat, atau masa yang tidak
kurang dari 700 tahun setelah kehadiran Musa A.S. Tulisan ini belum
selesai kecuali para akhir abad ke 2 S.M (setelah lebih kurang 400
tahun)
Pada saat itu bangsaa Yahudi telah menjauhi komitmen mereka
kepada agama dan mentaklid negara-negara tempat berdomisili mereka
masing-masing dengan menyembah berhala-berhala.
Kesempatan untuk
kembali ke Palestina muncul kembali setelah keberhasilan kaisar Parsi,
Qorash Kedua, menaklukkan negara Chaldania Babylonia pada tahun 539 S.M.
Pada masa ini bangsa Yahudi turut andil dalam penaklukan negara ini.
Kaisar dapat mengalahkan Media dan telus memperluas pengaruhnya hingga
keseluruh wilayah palestina, yang pada gilirannya masuk dalam dominasi
Parsi ((539-332 S.M) Dengan kemenangan ini Qorash mengizinkan bangsa
Yahudi untuk kembali ke tanah Paletina sebagaimana mereka juga
diperbolehkan untuk merekonstruksi sinagog (al haikal) di kota
Jerusalem. Namun kesempatan ini tidak dimanfaatkan oleh kebanyakan
Yahudi untuk kembali. Hal ini karena kebanyakan orang Parsi sangat
mengagumi tanah yang baru mereka taklukan ini, dan hanya sedikit para
kaum ekstrimis yang menolak untuk berasimilasi dengan penduduk lain.
Sesuatu yang yang dapat melindungi Yahudi dari kebinasaan.
Seorang
sejarahwan mengatakan bahwa jumlah mereka yang kembali adalah 42 ribu,
jumlah yang minoritas bila dibandingkan dengan jumlah mereka yang
sebenarnya. Mereka ini yang kembali membangun tempat ibadah, dan
bangunan tersebut rampung pada tahun 515 S.M. Di wilayah Jerusalem,
Yahudi menikmati semacam otonomi di bawah dominasi Parsi. Namun otonomi
ini tidak lebih dari wilayah yang hanya beradius lebih kurang 20 km dari
semua arah. Pada tahun 332 S.M, Penguasa Makedonia Alexander dapat
menduduki Palestina dalam kampanyenya untuk menduduki Syria Raya, Mesir,
Iraq, Iran dan sebagian wilayah India. Alexander tetap melindungi
bangsa Yahudi. Sejak masa itu, palestina memasuki era yang disebut
dengan Era Helenistik Yunani yang berakhir hinggal tahun 63 S.M.
Setelah
kematian Alesxander, pecah konflik di antara para pemimpin-pemimpin
yang menyebabkan pembagian kerajaan. Palestina dan sisa Syria yang
berdelta, dari selatan Lattakia, Lebanon dan sebagian Syria seperti
Damascus, Mesir dan Borqa (Libya) dan sebagian dari pulau-pulau di laut
Aegean jatuh ke tangan penguasa Ptolemy. Kekuasaan dan kekuasaan orang
setelah dia disebut dengan era Ptolemaik. Kekuasaan ini berlangsung di
Palestina dari tahun 302 S.M hinggal 198 S.M. Ptlolemaik merasa simpati
kepada bangsa Yahudi, di mana seluruh urusan mereka diambil oleh para
Pendeta Besar. Kemudian datang setelah itu orang-orang Seleucids di mana
bagian kekuasaan mereka setelah kematian Alexander meliputi wilayah
Syiria Utara, Asia Minor, Rafidain (wilayah Tigris dan Eufrat) serta
dataran tinggi Iran. Mereka dapat mendominasi Palestina setelah berhasil
menang dalam pertempuran Banion di mana raja Seleucid yaitu Antiokhis
Ketiga dapat meraih kemenangan yang gemilang atas orang-orang Ptolemaik.
Dominasi orang-orang Seleucid atas Palestina ini berakhir hingga tahun
63 S.M.
Orang-orang Seleusid berusaha untuk dapat mempengaruhi
kehidupan orang Yahudi dengan Helenisme Yunani. Maka, Antiokhis Keempat
mencoba untuk menjauhkan Yahudi dari ajaran agama mereka. Pada tahun 167
S.M, ia mengirim salah seorang pemimpin kepada Yahudi dan menugasinya
untuk melenyapkan ajaran ritual dan menggantikan Tuhan mereka Yahya,
dengan Tuhan Olimpik yaitu Zeus. Ia menunjuk salah seorang pendeta
Yunani yang menyembah berhala di Jeusalem. Pendeta ini mengharamkan
pelaksanaan khitan, kepemilikan buku suci dan menghalalkan bagi mereka
untuk mengkonsumsi daging babi. Merespon perintah-perintah ini,
orang-orang Yahudi terpecah dalam dua golongan : sebagian, berpaling
dari ajaran mereka karena puas atau terpaksa, mereka disebut dengan
Hellenistik atau Yunanis. Mereka bermukim di Jerusalem dan di
daerah-daerah Yunani. Kelompok kedua, adalah orang-orang yang menentang
hal ini yang harus hengkang dari Jerusalem. Namun jumlah mereka hanya
sedikit. Kelompok ini disebut dengan kelompok orang-orang suci (the
party of the saints).
Secara umum, orang-orang Yunani telah
mempengaruhi kehidupan Yahudi. Bahasa Aramaik menggantikan bahasa
Ibrani. Dan bahasa Yunani menjadi bahasa yang dipergunakan di
sekolah-sekolah. Dari orang-orang Yahudi muncul kelompok yang mendukung
Yunani dan berupaya keras untuk dapat mencapai kekuasaan di bawah
kepmimpinan pendeta besar yang bernama Jayson.
Yahudi yang
meniggalkan Jerusalam, kelompok orang-orang suci, telah mempercayakan
kepemimpinan mereka kepada Mattathyas (Mattayeeh), ketua keluarga
Ashmonia, yang meninggal dunia dalam waktu yang tidak terlalu lama. Maka
ia disuksesikan oleh anaknya yang bernama Judah, yang juda dipanggil
Maccabee, yang bermakna palu. Ia memberontak terhadap orang-orang
Sleucid dan mengalahkan mereka lebih dari sekali (166 S.M- 165
S.M).Orang Yahudi banyak bergabung dengannya. Ini yang membuat Antiokhis
Keempat harus memberhentikan opresi yang ia lakukan terhadap Yahudi.
Orang-orang Maccabees kembali ke Jerusalem pada tanggal 25 Januari 164
S.M. Yahudi terus merayakan kemenangan ini hinggal sekarang yang disebut
dengan Pesta Cahaya (Hanukah).
Setelah itu otonomi dapat
direalisir di Jerusalem, namun hal ini meluas atau menyempit dan
bertambah kemerdekaannya atau melemah sesuai dengan perkembangan konflik
kekuatan besar yang berlangsung di Palestina (antara
Romawi-Ptolemaik-Seleusid). Rezim kekuasaan menjelma menjadi warisan
bagi keturunan Judah, Maccabee. Orang-orang Maccabee berkuasa sebagai
Pendeta Kepala dan mereka sebut mereka seperti raja-raja, namun mereka
tetap merupakan subordinat dan tetap membayar pajak tanah kepada
orang-orang Seleucid. Pada tahun 143 S.M, Kaisar Dimetirus Kedua telah
membebaskan orang-orang Yahudi dari kewajiban untuk membayar berbagai
pajak dan menjuluki penguasa dengan Simon. Di kalangan Yahudi sepakat
untuk mengkonsiderasinya sebagai seorang raja. Maka dari itu, rezim
kerajaan telah berdiri dan orang-orang Seleucid mengakuinya dan
memberikan Simon hak untuk menggunakan uang koin secara legal.
Pada
era raja Yahudi Alexander Janous (103 S.M - 67 S.M), rezimnya terus
meluas hingga mencakup wilayah Trans-Jorda, yang disebut oleh orang
Yahudi dengan sebutan Iberia dan pesisir. Perbatasan kerajaannya hampir
berhubungan dengan perbatasan kerajaan Sulaiman. Setelah kematiannya,
kekuasaan jatuh ke tangan isterinya, Salom Alexandra, yang berkuasa
hingga tahun 67 S.M. Kemudian, kedua anaknya berperang satu sama lain
untuk memperebutkan kekuasaan, dan bangsa Arab Nabatean ikut campur
dengan memberikan bantuan kepada Hercules Kedua melawan adiknya yang
bernama Aristopolous. Pada tahun 63 S.M, pemimpin Romawi yang berkenal
yaitu Pompeii, dapat menghancurkan negara kecil Yahudi dan menunjuk
Heirkanous Kedua sebagai kepada para pendeta. Ia berhasil
membumihanguskan dinding-dinding yang berada di kota Jerusalem,
memindahkan sebagian yang lainnya dari tangan orang-orang Yahudi dan
membiarkan dinasti Maccabee untuk dapat survive di bawah dominasi
orang-orang Romawi.
E.Fase Zakaria, Yahya, dan Isa
Pada
periode 47 S.M-40 S.M, koloni ini jatuh ke tangan penguasa Edam yang
bernama Ante Peter. Pada tahun 40 S.M, orang-orang Parsi menyerang
Palestina dan menunjuk Ante Johanous yang merupakan saudara dari
Hercanous Kedua, sebagai penguasa dan kepala para pendeta. Rezim Ante
Johanous berlangsung hingga tiga tahun. Ia merupakan orang terakhir dari
dinasti Maccabee. Pada tahun 37 S.M, orang-orang Roman dapat menaklukan
Parsi dan merestorasi kekuasaannya yang hilang atas Palestina dan
menunjuk Herod, anak Ante Peter, sebagai penguasa. Herod berubah menjadi
penganut Judah dan mencoba untuk berkonsiliasi dengan orang-orang
Yahudi namun ia akhirnya sangat jengkel dengan mereka. Ia secara umum
adalah orang yang tiran yang punya loyalitas tinggi kepada Romawi. Ia
merenovasi candi dan melipatgandakan luas arealnya, meninggikan bangunan
langit-langitnya dan memperindahnya menjadi sebuah bangunan yang punya
arsitektur dan perfeksi yang tinggi sekali.
Rezim Herod
berlanggung hingga tahun 4 S.M, yang di mana dua nabi hidup pada masa
ini yaitu nabi Zakariya A.S dan anaknya Yahya A.S. Isterinya binti Imran
A.S juga hidup para periode ini. Pada akhir hayatnya, nabi Isa A.S
dilahirkan.
Zakariya adalah seorang tukang kayu. Ia adalah orang
yang menanggung kehidupan Maryam binti Imran, dan diberikan anak setelah
usianya lanjut dan Maryam adalah seorang yang mandul yang diberi nama
Yahya. Masing-masing Zakaria dan Yahya punya andil yang besar dalam
mendakwahi Bani Israel agar kembali kepada hidayah dan kebenaran.
Telah
datang berita gembira kepada Yahya bahwa ia akan menjadi: yang
membenarkan kalimat (yang datang) dari Allah, menjadi ikutan, menahan
diri (dari hawa nafsu) dan seorang nabi termasuk keturunan orang-orang
saleh. (Ali Imran : 39)
Untuk memimpin masyarakatnya dan
menggungguli mereka serta mengekak dirinya dari hawa nafsu sebagai wujud
dari menjaga kehormatan (iffatan), bentuk zuhud dan menjadi seorang
nabi. Ketika Yahya dilahirkan dan umur telah baligh untuk diperintah
oleh Allah dengan firman-Nya : Artinya : Hai Yahya, ambillah Al Kitab
(Taurat) itu dengan sungguh-sungguh. (Maryam : 12)
Artinya ambil
apa yang ada di dalam kitab Allah dengan sungguh-sungguh dan semangat.
Dan Dia akan berikan kepadanya hikmah dan kekuatan akal dari semenjak
masa kecilnya. Sebagaimana firman Allah : Dan Kami berikan kepadanya
hikmah selagi ia masih kanak-kanak, (Maryam : 12)
Yahya
menjalankan tugas dakwahnya dan beramar maruf nahi munkar. Ia dikenal
dalam literatur masehi dengan sebutan John Baptis. Baptis dinisbatkan
kepada apa yang disebut bahwa ia membaptis manusia (memandikan mereka
dengan air) untuk mensucikan mereka dari kesalahan-kesalahan. Yahya
diberitahu akan kedatangan nabi Isa A.S.
Nabi Yahya harus
mengorbankan hidupnya untuk mempertahankan sikap solidnya melawan
kehendak Herod untuk kawin dengan kemenakan Yahya dari anak adik lakinya
(ada yang mengatakan bahwa ia adalah anak dari adik perempuannya). Ia
adalah seorang perempuan cantik yang bernama Herodya. Herodya dan ibunya
menjadi sangat benci kepada Yahya karena menghalangi pernikahan Herodya
dengan Herod. Dan akhirnya ia berzina dengan Herod serta berdansa
didepannya sehingga ia dapat menguasai seluruh perasaan sang raja ini.
Maka Herod meminta kepadanya untuk dapat berangan-angan hingga akhirnya
angan-angan itu berbuah pada keinginan akan memiliki kepala Yahya!! Hal
itu dikabulkan Herod dan dibunuhlah Yahya. Kemudian kepalanya
dihadiahkan kepada pelacur ini!! Sebagaimana firman Allah :
Kesejahteraan atas dirinya pada hari ia dilahirkan, dan pada hari ia
meninggal dan pada hari ia dibangkitkan hidup kembali. (Maryam : 15)
Ketiranan
Herod tidak cukup berhenti sampai di sini, namun ia juga membunuh
Zakaria A.S dengan menggergajinya!! Karena ia membela anaknya Yahya dan
juga menentang perkawinan karena halangan keturunan.
Adapun Maryam
kepala wanita-wanita sedunia dilahirkan sebelum Yahya A.S. Ibunya telah
menazarkannya di saat ia masih di dalam kandungan di dalam jalan Allah
(Lihat, Q.s. Ali Imran:37)
Adapun Nabi Isa dilahirkan sekitar
tahun 4 S.M di Betlehem. Menurut riwayat bahwa Maryam minggat bersama
Isa dengan Yusuf seorang tukang kayu ke Mesir yang takut akan nasib
anaknya dari ketiranan Herod dan ketidakadilannya. Kemudian tidak
berselang lama ia kembali ke kota Nazareth di mana, Isa menghabikan masa
kecilnya dan tumbuh di sana. Setelah itu ia lebih dikenal dengan nama
Yesus Krist dan para pengikutnya disebut dengan orang-orang Kristen.
Di
Palestina, Isa A.S menjalankan tugas sucinya dakwah kepada Allah dan
memeras energi yang besar untuk menggiring bangsa Yahudi kepada hidayah
ilahi, dan memberi mereka kabar gembira akan kedatangan nabi terakhir
bernama Muhammad saw. (Lihat, as Saff : 6)
Kendati
mukjizat-mukjizat yang dianugerahkan Allah kepadanya dan apa yang
dikandung oleh misi sucinya dari kebenaran dan cahaya namun Bani Israel
menolak dan tetap mengingkari serta memposisikannya sebagai musuh. Hanya
sedikit sekali yang meyakininya.
Menurut narasi historis bahwa
nabi Isa pergi ke Jerusalem dan mengunjungi sinagog (tempat ibadah)
kira-kira pada tahun 30 Masehi di saat berlangsungnya perayaan Easter.
Ia menolak keberadaan sistem penukaran uang dan para pedagang di sekitar
tempat ibadah.
Lembaran sejarah konflik antara kebenaran dan
kepalsuan atas tanah suci ini telah didistorsi. Bani Israel telah
melakukan kebohongan kepada Nabi terkhir mereka dan menuduhnya dengan
sihir dan akhirnya mereka berkonspirasi atasnya. Orang-orang pengikut
nabi Isa yang disebut dengan sebutan al-hawariyyun telah mengimani Isa
A.S dan menyebarkan dakwahnya setelah kematiannya, namun mereka selalu
saja menemukan rintangan dan siksaan yang tidak ringan. Mereka tetap
meneruskan mendakwahi orang Yahudi dan menceramahi mereka di rumah
ibadah. Ketika jumlah orang-orang nasrani kian hari kian berlipat ganda
dan setelah sekian tahun Yahudi menghawatirkan tersebarnya dakwah ini.
Mereka menuntur penangkapan Peter dan yang lainnya untuk dipersidangkan
di depan Dewan Syanhadrin. Tapi majlis ini merasa cukup untuk mencambung
mereka dan membebaskan mereka kembali. Para pengikut yang baru akhirnya
harus melarikan diri ke daerah Samaria, Kaisareh dan Antakiyah. Di sana
mereka dapat bertemu dengan kelompok nasrani lainnya. Peter juga harus
hengkang ke Roma di mana dia mendirikan kelompok nasrani di sana. Dia
memfokuskan dakwah untuk mengajak Yahudi kembali ke ajaran yang benar.
Adapun Paul, dia berdakwah kepada orang-orang yang menyembah berhala
sebagaimana ia juga berdakwah kepada Yahudi dan mengartikulasi
terminologi-terminologi dan pemahaman-pemahaman filosofis untuk
menginterpretasi ajaran nasrani yang sesuai dengan standar peradaban
Helenistik yang lestari saat itu.
Paul Peter harus mengakhiri
hidupnya dengan eksekusi mati para era Kaisar Romawi yang bernama Nero
pada tahun 64 Masehi. Tapi risalah yang diproklamirkan oleh Isa A.S
dalam tempo yang tidak terlalu lama harus mengalami distorsi dan Injil
yang diwahyukan kepadanya telah berubah. Para pengikutnya setelah
kepergiaannya telah dipengaruhi oleh peradaban Helenistik dan rezim
Romawi. Dan dakwah mereka telah bercampur dengan banyak tradisi, ritual
dan ajaran-ajaran yang tersebar di negara-negara di mana dakwah tersebut
diajarkan. Itu menjadi mudah bagi masyarakat untuk memeluknya. Ajaran
nasrani tidaklah mengakar dalam masyarakat hingga Kaisar Constantine,
mengimaninya pada tahun 325 Masehi. Setelah itu, ajaran nasrani menjadi
agama resmi di seluruh kekaisaran Romawi. Constantine melindungi
Palestina dan mendirikan gereja suci Sepulchre, yang menjadi salah satu
gereja terpenting kristen. Ia juga mendirikan gereja Ascensian di gunung
Zaitun (Mount of Olives) dan gereja Nativity di Bethlehem. Bangsa
Palestina pada masa itu memeluk ajaran kristen hingga kemenangan orang
Islam harus merambah sampai ke Palestina.
Eksistensi Terakhir Yahudi di Palestina
Sekali
lagi untuk melihat kondisi Bani Israel di wilayah Palestina setelah
turunnya nabi Isa A.S. Romawi telah mulai memerintah Jerusalem dan
wilayah Palestina lainnya secara langsung yaitu sejak 6 Masehi. Pada
periode mereka memecat Archilles, yang menggantikan orang tuahnya, Herod
karena telah menyalahgunakan kekuasaan yang diberikan kepadanya.
Peristiwa Isa al Masih A.S berlangsung yaitu pada masa gubernur Pontious
Pilate (26-36 S.M)s. Pada bulan November 66 Masehi, pada periode Kaisar
Nero, orang-orang Yahudi memberontak terhadap kekuasaan Romawi, tapi
komandan militer Romawi Tetas dapat menumpas revolusi ini yang
berlangsung empat tahun pada bulan September 70 Mesehi. Maka ia dapat
memasuki kota Jerusalem setelah pengepungan yang ketat, pembunuhan,
penjarahan dan pembakaran kemudian menghancurkan sinagog yang dibangun
oleh Herod sehingga tidak tersisa satu batupun dari bangunan rumah
ibadah tersebut. Kota Jerusalem menjelma menjadi kota mati, rata dengan
tanah. Banayak dari para tawanan yang diperjualbelikan sebagai budak
secara murah di pasar-pasar Kekaisaran Romawi. Para bangsa Yahudi
berharap agar dapat dibeli oleh orang yang dapat memperlakukannya secara
manusiawi dan tidak mengirimnya ke ring wrestling yang ganas yang
merupakan tradisi orang Romawi untuk menikmati pemandangan orang buas
yang memangsa yang lain!!! Pemimpin ini juga membangun tugu kemenangan
di kota Roma sebagai simbol keberhasilannya untuk menundukkan
orang-orang Yahudi yang masih berdiri hingga sekarang. Di atasnya di
ukir catatan untuk mengenang kemenangan tersebut dan terlihat di sana
tongkat yang terbuat dari lilin yang memiliki tujuh kepala yang sangat
terkenal sebagai milik orang Yahudi. Benda ini juga diambil dari sinagog
di atas.
Kembali orang-orang Yahudi memberontak terhadap Romawi
di bawah kepemimpinan Bracokhapa yang asli namanya adalah Simon.
Revolusi mereka ini berakhir bertahun-tahun dari tahun 132-135 Masehi.
Ia berhasil mengumpulkan Yahudi dalam jumlah yang cukup besar. Ia
berusaha untuk dapat menduduki Jerusalem tapi Kaisar Romawi Hadrian
mengirim balatentara dalam jumlah yang sangat besar di bawah
kepemimpinan Julius Cephrius yang dapat mengalahkan Yahudi dan kembali
menduduki Jerusalem. Yahudi akhirnya hengkang ke daerah Battier, di mana
puing-puing benteng pertahanan tempat berlindungnya orang-orang Yahudi
masih tersisa di sana. Orang Arab menyebutnya dengan Kherbit Yahudi.
Hadrian mengambil keputusan untuk membunuh para pemberontak secara
kejam, membumihanguskan Hierosolyma dan mencangkuli lokasinya, membunuh
serta menangkapi bangsa ini dalam jumlah yang besar. Tidak hanya sampai
di situ, Yahudi juga dilarang masuk, hidup bahkan datang untuk mendekati
kota Jerusalem. Ia memperbolehkan orang Kristen untuk hidup di sana
namun mereka harus tidak berketurunan Yahudi. Di atas puing-puing kota
Jerusalem, Hadian membangun kota baru yang dinamakan dengan Elia
Capitolina yang kemudian lebih dikenal sebagai Elia, yang merupakan
awalan nama Hadrian Pertama. Dan tepat di atas rumah ibadah yang sudah
diratakan dengan tanah itu dibangun tempat ibadah berhala sebagai
persembahan untuk Jupiter.
Larangan bagi Yahudi untuk memasuki
kota Jerusalem terus berlanjut hingga 200 tahun kemudian. Mereka jarang
sekali datang dan hidup di wilayah ini kecuali pada abad ke 19 M.
Mereka
tersebar ke belbagai belahan dunia, dan tidak punya koneksi apapun
dengan Palestina kecuali nostalgia yang kebanyakannya hanya berupa
potret kekufuran, kefasikan, ketidakadilan dan pembunuhan para nabi.
Maka ganjaran itu semua adalah murka Allah atas mereka dan laknat-Nya,
sehingga mereka diharamkan dari mendiami tanah suci ini dan menyebabkan
diaspora mereka di belbagai belahan bumi.
Kesimpulan Bagian Ke-2
1.
Sesungguhnya mayoritas penduduk Palestina datang dari Jazirah Arab dan
mereka tepat sebagai penduduk wilayah ini hingga sekarang.
2.
Sesungguhnya Allah telah menjanjikan Bani Israil tanah suci ketika
mereeka berjalan di atas perintah-Nya dan di bawah bimbingan para nabi.
Maka ketika mereka merubah sikap, menolak dan tidak mempercayai Allah,
lenyaplah hak tersebut dari tangan mereka.
3. Sesungguhnya umat
Islam adalah orang yang lebih berhak untuk mewarisi peninggalan para
nabi Bani Israel. Dakwah Islam yang dilakukan oleh umat merupakan
kelanjutan dakwah yang dilakukan oleh para nabi terdahulu. Kebenaran
yang didedikasikan oleh mereka adalah kebenaran yang sama yang juga
diakui oleh umat Islam untuk dilanjutkan.
4. Sesungguhnya dominasi
Bani Israel dahulu kapanpun itu tidak pernah mencakup seluruh wilayah
Palestina yang dikenal sebagai batas-batasnya dewasa ini. Masa dominasi
mereka dengan independensi yang utuh sangatlah singkat dibandingkan
dengan sejarah Palestina. Walaupun ketika mereka pernah memiliki dua
kerajaan yang kerap sekali berstatus subordinat kekuatan besar lain.
5.
Otonomi Yahudi yang mereka nikmati setelah keberhasilan menaklukan
Babylonia sangat lemah dan terbatas pada wilayah Jerusalem dan
sekitarnya. Setelah itu, pada zaman Maccabee mereka menikmati
kemerdekaan terbatas.
6. Setelah diaspora mereka di belbagai
belahan bumi disebabkan oleh pekerjaan mereka yang jahat. Relasi mereka
dengan Palestina terputus tanpa interupsi untuk masa 1.900 tahun.
Kehidupan
orang-orang Ibrani (di Palestina) adalah menyerupai kehidupan seseorang
yang tetap bersikeras untuk mendiami jalan raya yang sangat padat, jadi
bus-bus dan truk-truk secara terus-menerus menggilasnya dan dari
permulaan hingga akhir, (kerajaan) mereka adalah tidak lebih dari hanya
peristiwa yang sifatnya hanya darurat baik itu di dalam sejarah Mesir,
Syria, Assyria dan Phoenisi. Sejarah bangsa-bangsa ini adalah sejarah
yang lebih besar dari sejarah mereka).
Mereka tidak meminjam
(belajar) dari bangsa-bangsa superior tersebut kecuali untuk yang paling
hina dari peradaban mereka, contohnya, mereka tidak belajar kecuali
hal-hal yang jelek dari tradisi-tradisi yang membahayakan, kebiasaan
prostitusi dan superstisi (keyakinan pada hal-hal yang mistik). Mereka
mendekatkan diri kepada seluruh Tuhan-tuhan Asia seperti kepada
Ashtaourt, Bal dan Mouloukh namun tidak kepada Tuhan kabilah mereka
sendiri, Yahwe yang cemberut dan pendengki. Mereka tidak mempercayainya
sama sekali).
Yahudi hidup hampir selalu dalam anarki massif.
Sejarah mereka hanya berupa sebuah kisah kemungkaran-kemungkaran.
Sejarah Yahudi dari aspek peradaban adalah nol (Mereka tidak berhak
untuk dikonsiderasi sebagai bagian dari bangsa-bangsa yang beradab dalam
bentuk apapun juga).
Yahudi tetap, walau berada di bawah
singgasana raja-raja mereka, baduwi (primitif) dan selalu terlibat dalam
pertempuran yang brutal).
Temperamen psykologis Yahudi selalu
lebih mendekati temperamen bangsa-bangsa yang paling primitif. Yahudi
keras kepala, emosional, lalai dan beringas serta beraksi seperti anak
kecil.
Catatan:
Israil Vs Palestina pada Fase Islam (Nabi Muhamad saw.) dan setelahnya akan disampaikan pada bagian ke-3
Sumber: Ust Amin Mukhtar