Pages

Selasa, 14 Juli 2015

MULIAKAN DIRI DENGAN ZAKAT FITRI (Bagian Ke-5)



Keempat, Masharif (Sasaran) Zakat

Menurut Al-Quran, sasaran zakat atau yang lebih populer dengan sebutan mustahik (yang berhak menerima zakat) ada 8 ashnaf (golongan). Hal itu sebagaimana difirmankan Allah Swt:
إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِينِ وَالْعَامِلِينَ عَلَيْهَا وَالْمُؤَلَّفَةِ قُلُوبُهُمْ وَفِي الرِّقَابِ وَالْغَارِمِينَ وَفِي سَبِيلِ اللَّهِ وَاِبْنِ السَّبِيلِ فَرِيضَةً مِنْ اللَّهِ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ
“Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mu’allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan untuk mereka yuang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” QS. At-Taubah:60

Menurut Imam al-‘Aini, “Kata shadaqaat pada ayat di atas maksudnya zakat.” [1] Sementara menurut Syekh ‘Athiyyah Muhammad Salim, “Pada ayat di atas menggunakan kata shadaqaat (bentuk jamak), bukan shadaqah (bentuk tunggal) karena dihubungkan kepada ragam harta yang wajib dizakati, seperti zakat ternak, uang simpanan, dan perdagangan.” [2]
Petunjuk Ayat

Bila ayat di atas kita perhatikan secara seksama, setidaknya ada dua aspek yang perlu digaris bawahi; Pertama, kriteria ashnaf itu sendiri. Kedua, gaya bahasa (ushlub) Al-Quran dalam mengungkap sasaran zakat.

Pertama, Kriteria Ashnaf

kriteria ke-8 ashnaf itu dapat diterangkan secara sederhana sebagai berikut:

  1. Fuqara (Fakir)
orang yang tidak mempunyai harta dan tenaga untuk memenuhi kebutuhan hidupannya (primer).

  1. Masakin (Miskin)
orang yang mempunyai harta dan tenaga, tapi tidak mencukupi keperluan hidupnya (primer).

  1. Amilin
orang yang bertugas untuk mengumpulkan dan membagikan zakat.

  1. Mu’allaf
a. orang kafir yang ada harapan masuk Islam
b. orang yang baru masuk Islam yang imannya masih lemah

  1. Riqab
orang yang memerdekakan hamba sahaya.

  1. Gharimin
orang yang berhutang karena untuk kepentingan yang bukan ma’siatan dan tidak sanggup membayarnya.

  1. Sabilillah
orang yang bersungguh-sungguh dalam menegakkan ajaran Islam (memelihara berlakunya kebenaran, kebaikan, dan keutamaan akhlak)

  1. Ibnu Sabil
orang yang kehabisan bekal di tengah perjalanan, walaupun ia orang kaya di negerinya.

Kedua, Ushlub (Gaya Bahasa) Al-Quran
Dalam mengungkap sasaran (masharif) zakat di atas Al-Quran menggunakan ushlub (gaya bahasa) sastra yang bernilai tinggi, yaitu pada ayat di atas terdapat dua huruf yang masing-masing mengiringi empat ashnaf pertama dan empat ashnaf kedua. ashnaf pertama diiringi huruf laam (li) dan ashnaf kedua diiringi huruf fie. Huruf laam mengiringi kalimat:
لِلْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِينِ وَالْعَامِلِينَ عَلَيْهَا وَالْمُؤَلَّفَةِ قُلُوبُهُمْ
al-fuqaraa, al- masaakiin, al-’amiliin, dan al-muallaf quluubuhum, sebagai empat ashnaf pertama.
Sedangkan huruf fie mengiringi kalimat:
وَفِي الرِّقَابِ وَالْغَارِمِينَ وَفِي سَبِيلِ اللَّهِ وَاِبْنِ السَّبِيلِ
ar-riqaab, al-ghaarimiin, sabiilillaah, dan ibnus sabiil, sebagai empat ashnaf kedua.
Penempatan kedua huruf tersebut (li dan fii) tentunya bukan suatu kebetulan, tetapi pasti mengandung nuktah (rahasia halus) yang harus dikaji secara mendalam. Dan menurut hemat kami, penempatan kedua huruf tersebut mengandung arti bahwa empat ashnaf pertama adalah para pemilik dari zakat tersebut, dalam arti mereka berhak mendapat bagian untuk dirinya sendiri.
Sementara empat ashnaf kedua mereka berhak menerima zakat untuk kemaslahatan yang berkaitan erat dengan “acara” mereka. Seperti al-ghaarimuun (orang yang berhutang), mereka mendapat bagian dari zakat bukan untuk dimiliki secara pribadi, tetapi untuk diserahkan kepada orang yang menghutangkannya, sehingga mereka terbebas dari hutang itu. Demikian pula dengan fie sabiilillaah, mereka mendapat bagian dari zakat bukan semata-mata kepentingan pribadinya melainkan tugas dan tanggung jawab dalam mengemban amanah Islam, yaitu untuk memelihara berlakunya kebenaran (al-haq), kebaikan, dan kesempurnaan akhlak. Dengan perkataan lain, untuk menegakkan agama Islam.
Berdasarkan uraian di atas maka dapat diambil kesimpulan bahwa secara garis besar sasaran zakat itu terbagi menjadi dua bagian:
Bagian pertama, terdiri atas orang-orang yang berhak menerima zakat untuk dirinya sendiri, yaitu al-fuqaraa, al- masaakiin, al-’amiliin, dan al-muallaf quluubuhum. Sedangkan bagian kedua terdiri atas orang-orang yang berhak menerima zakat bukan semata-mata kepentingan pribadi melainkan untuk kemaslahatan “acara” mereka, yaitu ar-riqaab, al-ghaarimiin, sabiilillaah, dan ibnus sabiil.
Lebih jauh Imam az-Zamakhsyari berpandangan bahwa perpindahan dari huruf “li” pada empat ashnaf pertama kepada “fie” pada empat ashnaf kedua mengandung rahasia, yaitu untuk memberitahukan bahwa empat golongan kedua ini lebih layak untuk diprioritaskan daripada empat golongan pertama, sebab “fie” merupakan wadah untuk menampung, yang dengan itu Allah mengingatkan bahwa mereka lebih berhak atasnya dan menjadikannya sebagai tempat harapan untuk mewujudkan kemaslahatan kaum muslimin secara umum. [3]
Masalah sasaran zakat telah selesai kita bahas. Masih ada masalah yang mesti kita kaji, yaitu wajibkah amil mendistribusikan zakat atau muzakki (wajib zakat) menyerahkan zakat kepada semua ashnaf yang delapan, dan menyamaratakan prosentase zakat yang dibagikan di antara mereka?
Hemat kami, semua harta zakat boleh diberikan kepada sebagian sasaran tertentu saja untuk mewujudkan kemaslahatan yang sesuai dengan syariat. Di samping itu tidak ada kewajiban untuk menyamaratakan pemberian tersebut kepada individu yang diberinya, tapi boleh melebihkan prosentase bagian yang satu dengan yang lainya sesuai dengan kebutuhan, karena kebutuhan itu berbeda antara yang satu dan yang lainya. Adapun landasan syariatnya adalah sebagai berikut :
Pertama, dari Hudzaifah, tentang firman Allah Swt.:
إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِينِ وَالْعَامِلِينَ عَلَيْهَا…
“Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat..” ia berkata:
إِنْ شِئْتَ جَعَلْتَهُ فِي صِنْفٍ وَاحِدٍ ، أَوْ صِنْفَيْنٍ ، أَوْ لِثَلاَثَةٍ
“Apabila engkau mau, tempatkanlah (salurkanlah) pada satu, dua, atau tiga ashnaf.”HR. Ath-Thabari. [4]
Dalam riwayat lain, ia berkata:
إِذَا وَضَعْتَهَا فِي صِنْفٍ وَاحِدٍ أَجْزَأَ عَنْكَ.
“Apabila engkau menyalurkan zakat pada satu ashnaf (sasaran) saja, maka hal itu cukup bagimu.” HR. Ath-Thabari. [5]
Kedua, Ibnu Abas berkata,
إِذَا وَضَعْتَهَا فِي صِنْفٍ وَاحِدٍ مِنْ هَذِهِ الْأَصْنَافِ فَحَسْبُكَ إِنَّمَا قَالَ : إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاءِ ، وَكَذَا وَكَذَا لِأَنْ لاَ تَجْعَلَهَا فِيْ غَيْرِ هذِهِ الأَصْنَافِ
“Apabila engkau menyalurkan zakat pada satu sasaran dari sasaran-sasaran zakat (8 ashnaf), maka hal itu cukup bagimu. sedangkan Firman Allah: “Sesungguhnya zakat-zakat itu hanyalah untuk para fakir, demikian, dan demikian,” tiada lain maksudnya agar zakat itu jangan disalurkan kepada yang selain sasaran tersebut.” HR. Abdurrazaq dan Abu Ubaid al-Qasim bin Salam. [6]
Ketiga, pendapat di atas juga menjadi pegangan Umar bin Khatab, Sa’id bin jabir, ‘Atha, Abul ‘Aliyyah, dan Ibrahim an-Nakha’i. [7]
Keempat, Abu Tsaur berkata, “menurut pendapat kami, permasalahan pembagian zakat, tidaklah ada, kecuali berdasarkan ijtihad penguasa, maka mana di antara sasaran itu yang menurut penguasa lebih banyak jumlahnya dan lebih membutuhkan, itulah yang harus diutamakan. Dan mudah-mudahan dari tahun ke tahun zakat itu berpindah dari satu sasaran kepada sasaran lain. Sasaran yang lebih membutuhkan dan lebih banyak jumlahnya, senantiasa harus didahulukan dimanapun mereka berada.” [8]
Kelima, kebolehan memberikan zakat pada seorang mustahiq dari satu sasaran tidak ada bantahan dan tidak pula termasuk syubhat. Adapun penyebutan 8 ashnaf di dalam Al-Qur’an, menurut ath-Thabari, hanya sebagai pemberitahuan agar zakat tidak disalurkan kepada pihak lain di luar yang 8 ashnaf itu, bukan mengharuskan dibagi rata pada 8 ashnaf. [9]
Jika muncul pertanyaan, bukankah terdapat hadis yang membatasi mustahiq zakat fitrah itu khusus untuk orang miskin? Jawabnya, hadis yang dimaksud adalah sebagai berikut:
فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَكَاةَ الْفِطْرِ طُهْرَةً لِلصَّائِمِ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ وَطُعْمَةً لِلْمَسَاكِينِ
“Rasulullah saw. mewajibkan zakat fitrah sebagai pensuci bagi yang saum dari ucapan sia-sia dan kotor dan sebagai makanan bagi orang miskin.” HR. Abu Dawud, Ibnu Majah, dan Ad-Daraquthni. [10]
Hemat kami, hadis ini tidak tepat bila digunakan sebagai dalil yang mengecualian atau mengkhususkan (mukhashshis) bahwa zakat fitrah itu hanya untuk mustahiq miskin. Karena ungkapan Thu’matan lil masaakiin (sebagai makanan bagi orang miskin) dalam struktur kalimat di atas fungsinya bukan bayaan lit takhsiis (keterangan pengkhusus), melainkan bayaan lit tanshiish (keterangan penegas/prioritas) sesuai dengan situasi dan kondisi mustahiq di suatu daerah tertentu.
Pemahaman demikian merujuk kepada keterangan Nabi saw. pada lanjutan hadis itu:
مَنْ أَدَّاهَا قَبْلَ الصَّلاَةِ فَهِىَ زَكَاةٌ مَقْبُولَةٌ ، وَمَنْ أَدَّاهَا بَعْدَ الصَّلاَةِ فَهِىَ صَدَقَةٌ مِنَ الصَّدَقَاتِ
Barangsiapa menunaikannya sebelum shalat maka zakat fitrah itu zakat yang diterima, dan barangsiapa menunaikannya setelah shalat, maka zakat fitrah termasuk shadaqah biasa.”
Di sini Nabi saw. menyatakan zakat fitrah termasuk bagian dari zakat yang sudah dimaklumi. Ini menunjukkan bahwa mustahiq zakat fitrah sama dengan mustahiq jenis zakat lainnya.
Gaya bahasa tanshiish (keterangan penegas/prioritas) digunakan pula oleh Nabi saw. ketika menetapkan kewajiban zakat harta (maal), sebagaimana diamanatkan pada Mu’adz bin Jabal. Kata Nabi saw.:
فَأَعْلِمْهُمْ أَنَّ اللَّهَ افْتَرَضَ عَلَيْهِمْ صَدَقَةً فِي أَمْوَالِهِمْ تُؤْخَذُ مِنْ أَغْنِيَائِهِمْ وَتُرَدُّ عَلَى فُقَرَائِهِمْ
“Maka beritahu mereka bahwa Allah telah mewajibkan atas mereka zakat dalam harta mereka yang diambil dari orang kaya di antara mereka dan disalurkan kepada orang fakir di antara mereka.” HR. Al-Bukhari. [11]
Keterangan Nabi di atas tidak berarti membatasi mustahiq zakat maal itu khusus untuk fakir, sehingga tidak berlaku untuk orang miskin dan mustahiq lainnya.
Selain dengan hadis di atas, orang yang pendapat bahwa mustahiq zakat fitrah itu khusus untuk orang miskin menggunakan pula hadis berikut ini:
أَغْنُوْهُمْ عَنِ الطَّوَافِ فِي هَذَا الْيَوْمِ
“Cegahlah mereka agar tidak keliling (untuk minta-minta) pada hari ini.” HR. Ad-Daraquthni dan Ibnu ‘Addiy dengan sedikit perbedaan redaksi. [12]
Menurut para ahli hadis, hadis ini statusnya dha’if. Karena pada pada sanadnya terdapat rawi Abu Ma’syar Najiih. [13] Kata Imam Al-Bukhari, “Dia Munkar Al-Hadiits.” [14]
Dengan demikian, hadis ini tidak dapat dijadikan hujjah pengkhususan zakat fitrah untuk orang miskin.
Perlu disampaikan pula di sini bahwa selain tidak membatasi mustahiq tertentu, Nabi saw. juga tidak membatasi prosentase hak ashnaf. Dalam hal ini Ibnu Qudamah menjelaskan:
وَإِنْ اجْتَمَعَ فِي وَاحِدٍ أَسْبَابٌ تَقْتَضِي الْأَخْذَ بِهَا ، جَازَ أَنْ يُعْطَى بِهَا ، فَالْعَامِلُ الْفَقِيرُ لَهُ أَنْ يَأْخُذَ عِمَالَتَهُ ، فَإِنْ لَمْ تُغْنِهِ فَلَهُ أَنْ يَأْخُذَ مَا يَتِمُّ بِهِ غِنَاهُ ، فَإِنْ كَانَ غَازِيًا فَلَهُ أَخْذُ مَا يَكْفِيه لِغَزْوِهِ ، وَإِنْ كَانَ غَارِمًا أَخَذَ مَا يَقْضِي بِهِ غُرْمَهُ ؛ لِأَنَّ كُلَّ وَاحِدٍ مِنْ هَذِهِ الْأَسْبَابِ يَثْبُتُ حُكْمُهُ بِانْفِرَادِهِ ، فَوُجُودُ غَيْرِهِ لَا يَمْنَعُ ثُبُوتَ حُكْمِهِ
“Dan jika pada salah satu terkumpul beberapa sebab yang menghendaki (melegitimasi) pengambilan zakat berdasarkan sebab itu, maka ia boleh diberi berdasarkan sebab itu. Misalkan amil yang faqir, ia punya hak mengambil bagian zakatnya. Jika tidak dapat menutupi kefakirannya, ia berhak mengambil pula untuk dapat memenuhi keperluannya itu (sebagai hak faqir). Maka jika dia sebagai prajurit (fi sabilillah), ia punya hak mengambil bagian zakat untuk keperluan perangnya. Dan jika dia seorang gharim ia punya hak mengambil bagian zakat untuk melunasi hutangnya. Karena tiap-tiap sebab itu ditetapkan hukumnya berdasarkan sebab masing-masing (bukan karena sama orangnya, tapi karena beda sebabnya). Adanya satu sebab tidak menghalangi tetapnya hukum atas sebab yang lain.” [15]
Berbagai penjelasan di atas semoga dapat dijadikan pedoman, baik untuk muzakki (wajib zakat) maupun ‘amil (pengurus zakat), sehingga zakat yang disalurkan tidak salah sasaran dan lebih berdaya guna.

By Amin Muchtar, sigabah.com/beta


[1] Lihat, Umdah al-Qari Syarh Shahih al-Bukhari, VIII:238.
[2] Lihat, Syarh Bulugh al-Maram, II:383.
[3] Lihat, Al-Kasysyaaf ‘an Haqa’iq at-Tanziil wa ‘Uyun al-Aqawil fii Wujuh at-Ta’wil, II: 270.
[4] Lihat, Tafsir Ath-Thabari, VI : 404.
[5] Ibid.
[6] Lihat, HR. Abdurrazaq, Mushannaf Abdurrazaq, IV: 106, No. Hadis 7137; Abu Ubaid, Kitaab al-Amwaal, hlm. 688, No. Hadis 1839.
[7] Ibid.
[8] Lihat, Fiqh az-Zakaah, Dr. Yusuf Al-Qardhawi, hal. 667.
[9] Ibid.
[10] Lihat, HR. Abu Dawud, Sunan Abu Dawud, I:585, No. Hadis 1609; Ibnu Majah, Sunan Ibnu Majah, I:585, No. Hadis 1827; Ad-Daraquthni, Sunan Ad-Daraquthni, II:138, No. Hadis 1.
[11] Lihat, Shahih Al-Bukhari, II: 505, No. Hadis 1331
[12] Lihat, HR. Ad-Daraquthni, Sunan Ad-Daraquthni, II: 152, No. Hadis 67, Ibnu ‘Addiy, Al-Kamil fii Dhu’afaa ar-Rijal, VII: 55.
[13] Lihat, penjelasan Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Bulugh Al-Maraam Min Jam’I Adillah Al-Ahkaam, hlm. 131; Abdullah al-Ghassaniy dalam Takhrij al-Ahadits adh-Dhi’af Min Sunan ad-Daraquthni, hlm. 231
[14]Lihat, Al-Muhalla bi al-Atsar, II:432, Nashb Ar-Raayah Fii Takhriij Ahaadits Al-Hidaayah, IV:364.
[15]Lihat, al-Mughni, V:223.

MULIAKAN DIRI DENGAN ZAKAT FITRI (Bagian Ke-4)


Ketiga, apakah makanan pokok menjadi syarat sah zakat fitrah?
Pada edisi sebelumnya telah disebutkan bahwa konversi wajib zakat fitrah dengan nilai atau harga memiliki akar pemikiran Islam yang kokoh, paling tidak mengacu kepada sikap Mu’awiyah dan para sahabat Nabi yang sejalan dengannya.
Meski begitu, masih tersisa satu persoalan, bagaimana dengan hadis-hadis yang menyebutkan secara tersurat bahwa zakat fitrah itu berupa tha’aam (makanan)? Adapun hadis-hadis itu sebagai berikut:
Pertama, dalam konteks kata perintah adduu (tunaikan) dan akhrijuu (keluarkanlah) disebutkan berupa kurma dan gandum. Abdullah bin Tsa’labah bin Shu’air al-‘Udzriy berikata:
خَطَبَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ النَّاسَ قَبْلَ الْفِطْرِ بِيَوْمَيْنِ فَقَالَ أَدُّوا صَاعًا مِنْ بُرٍّ أَوْ قَمْحٍ بَيْنَ اثْنَيْنِ أَوْ صَاعًا مِنْ تَمْرٍ أَوْ صَاعًا مِنْ شَعِيرٍ عَلَى كُلِّ حُرٍّ وَعَبْدٍ وَصَغِيرٍ وَكَبِيرٍ
“Rasulullah saw. berkhutbah kepada orang-orang dua hari sebelum Idul Fitri. Maka beliau bersabda, ‘Tunaikan satu shaa’ burr (gandum) atau qamh (gandum) di antara dua perkara atau satu shaa’ kurma atau satu shaa’ dari syair (gandum) atas orang yang merdeka, hamba sahaya, anak kecil, dan orang dewasa’.” HR. Ahmad, Ath-Thahawi, Abdurrazaq, dan ad-Daraquthni dengan sedikit perbedaan redaksi. [1]
Kedua, dalam konteks kata wajib atau wajibah, disebutkan berupa gandum dan makanan lain namun tanpa disebutkan lebih spesifik jenisnya. Kakeknya ‘Amr bin Syu’aib berkata:
أَلاَ إِنَّ صَدَقَةَ الفِطْرِ وَاجِبَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى ، حُرٍّ أَوْ عَبْدٍ ، صَغِيرٍ أَوْ كَبِيرٍ ، مُدَّانِ مِنْ قَمْحٍ ، أَوْ سِوَاهُ صَاعٌ مِنْ طَعَامٍ
“Ketahuilah bahwa zakat fitri itu kewajiban setiap muslim, laki-laki atau perempuan, orang yang merdeka atau hamba sahaya, anak kecil atau orang dewasa, sebanyak dua mud qamh (gandum) atau satu shaa’ makanan selain qamh.” HR. At-Tirmidzi, Al-Baihaqi, ad-Daraquthni, dan al-Hakim, dengan sedikit perbedaan redaksi. [2]
Ketiga, dalam konteks hikayat sabda Nabi saw. (hikaayah al-Qawl) dengan kata faradha (memfardukan) dan amara (memerintah), disebutkan berupa kurma dan gandum
Ibnu Umar berkata:
فَرَضَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى الله ُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَكَاةَ الْفِطْرِ صَاعًا مِنْ تَمْرٍ اَوْ صَاعًا مِنْ شَعِيْرٍ عَلَى اْلعَبْدِ وَالْحُرِّ وَالذَّكَرِ وَالأُنْثَىْ وَالصَّغِيْرِ وَالْكَبِيْرِ مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ
“Rasulullah saw. mewajibkan zakat fitrah satu shaa’ kurma, atau satu shaa’ sya’iir (gandum) atas hamba sahaya, orang yang merdeka, laki-laki perempuan, anak kecil dan dewasa dari kalangan muslimin.” HR. Al-Bukhari, Muslim, At-Tirmidzi, An-Nasai, Abu Dawud, Ibnu Majah, dan Ahmad, dengan sedikit perbedaan redaksi. [3]
Sedangkan dalam keterangan Ibnu Abas disebutkan makanan, namun tanpa penyebutan lebih spesifik jenisnya:
أُمِرْنَا أَنْ نُعْطِىَ صَدَقَةَ رَمَضَانَ عَنِ الصَّغِيرِ وَالْكَبِيرِ وَالْحُرِّ وَالْمَمْلُوكِ صَاعًا مِنْ طَعَامٍ
“Kami diperintah untuk memberikan zakat Ramadhan atas anak kecil dan orang dewasa, orang yang merdeka dan hamba sahaya, sebesar satu shaa’ makanan.” HR. Al-Baihaqi. [4]
عَنِ ابْنِ عُمَرَ قَالَ فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَكَاةَ الْفِطْرِ صَاعًا مِنْ تَمْرٍ أَوْ صَاعًا مِنْ شَعِيرٍ
Ibnu Umar mengatakan, “Rasulullah saw. mewajibkan zakat fitrah satu shaa’ kurma, atau satu sha sya’iir (gandum).” HR. Al-Bukhari. [5]
عَنِ ابْنِ عُمَرَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَرَضَ زَكَاةَ الْفِطْرِ مِنْ رَمَضَانَ عَلَى النَّاسِ صَاعًا مِنْ تَمْرٍ أَوْ صَاعًا مِنْ شَعِيرٍ عَلَى كُلِّ حُرٍّ أَوْ عَبْدٍ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى مِنَ الْمُسْلِمِينَ
Dari Ibnu Umar bahwa Rasulullah saw. mewajibkan zakat fitrah satu shaa’ kurma, atau satu shaa’ sya’iir (gandum), atas hamba sahaya, orang yang merdeka, laki-laki, perempuan, anak kecil dan dewasa dari kalangan muslimin. HR. Al-Bukhari. [6]
Penetapan zakat fitrah dengan tha’aam (makanan) berupa kurma dan gandum, selain melalui keterangan berupa sabda Nabi saw. (bayaan bil Qawl), diperoleh pula dari amal Nabi saw. (bayaan bil fi’l) sebagai berikut:
أَنَّ رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم كَانَ يُخْرِجُ زَكَاةَ الْفِطْرِ صَاعًا مِنْ تَمْرٍ ، أَوْ صَاعًا مِنْ شَعِيرٍ
“Rasulullah saw. mengeluarkan zakat fitrah satu shaa’ kurma atau satu shaa’ syair (gandum)” HR. Abu Ya’la dan Ibnu Khuzaimah. [7]
Dari berbagai hadis di atas—dalam ragam kata dan redaksi yang digunakannya—kita dapat mengetahui bahwa Rasulullah saw. menetapkan zakat fitrah dengan dua jenis makanan: kurma & gandum.
Apabila hadis-hadis diatas dibaca secara mantuq (makna tersurat) dan konsisten tidak akan menerima mafhum (makna tersirat), maka zakat fitrah yang wajib dikeluarkan terbatas jenisnya, yakni kurma dan gandum. Adapun kata Tha’aam pada hadis Abu Sa’id Al-Khudriy tidak dapat dimaknai makanan secara umum karena sudah ada keterangan terperinci (bayaan tafshiil) pada hadis Ibnu Umar di atas.
Berdasarkan pendekatan mantuq hadis-hadis itu, maka zakat fitrah dengan beras atau jagung pada dasarnya tidak sesuai dengan mantuq-nya, kedudukannya sama dengan mengeluarkan zakat fitrah dalam bentuk qiimah (harga atau nilai barang). Namun, benarkah demikian pesan utama Nabi saw., yaitu bahwa zakat fitrah wajib dikeluarkan hanya dalam bentuk kurma dan gandum?
Hemat kami, kalimat min tamrin atau min sya’iir dalam struktur kalimat di atas fungsinya bukan keterangan pengkhusus (bayaan lit takhsiis), melainkan keterangan penegas/prioritas (bayaan lit tanshiish) sesuai dengan situasi dan kondisi muzakki (wajib zakat) dan mustahiq (penerima zakat) di suatu daerah tertentu. Hal itu didasarkan atas pertimbangan sebagai berikut:

Pertama, dari sisi Muzakki
Pada masa itu, kedua jenis makanan tersebut lebih mudah didapat atau biasa dimiliki oleh masyarakat pada umumnya. Kondisi ini demikian itu dapat kita peroleh dalam praktik pembayaran zakat fitrah yang dilakukan oleh para sahabat sebagai berikut:
عَنِ ابْنِ عُمَرَ قَالَ : سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم حِينَ فَرَضَ صَدَقَةَ الْفِطْرِ يَقُولُ : صَاعٌ مِنْ تَمْرٍ أَوْ صَاعٌ مِنْ شَعِيرٍ قَالَ : فَكَانَ ابْنُ عُمَرَ لاَ يُخْرِجُ إِلاَّ التَّمْرَ فَفَنِيَ تَمْرُهُ عَامًا فَأخْرَجَ صَاعَ شَعِيرٍ مَكَانَ التَّمْرِ
“Dari Ibnu Umar, ia berkata, “Saya mendengar Rasulullah saw. ketika mewajibkan zakat fitrah, beliau bersabda, ‘Satu sha’ kurma, atau satu shaa’ syair (gandum). Nafi berkata, ‘Ibnu Umar Ra. bila berzakat tidak pernah mengeluarkan yang lain selain kurma. Pada suatu tahun ketika kurmanya rusak ia mengeluarkan satu sha’ gandum sebagai pengganti kurma.” HR. Abd bin Humaid. [8]
Dalam riwayat lain, Nafi’ menjelaskan dengan redaksi sebagai berikut:
أَنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عُمَرَ كَانَ لاَ يُخْرِجُ فِي زَكَاةِ الْفِطْرِ إِلاَّ التَّمْرَ إِلاَّ مَرَّةً وَاحِدَةً فَإِنَّهُ أَخْرَجَ شَعِيراً
“Sesungguhnya Ibnu Umar Ra. dalam berzakat fitri tidak pernah mengeluarkan yang lain selain kurma kecuali satu kali ia mengeluarkan gandum.” HR. Malik. [9]
فَكَانَ ابْنُ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا يُعْطِي التَّمْرَ فَأَعْوَزَ أَهْلُ الْمَدِينَةِ مِنْ التَّمْرِ فَأَعْطَى شَعِيرًا
“Ibnu Umar Ra. bila berzakat dia memberikan kurma. Kemudian penduduk Madinah kesulitan mendapatkan kurma, akhirnya Ibnu Umar mengeluarkan gandum.” HR. Al-Bukhari dan An-Nasai.[10]
Dalam riwayat Abu Dawud dan al-Baihaqi dengan redaksi:
فَأَعْوَزَ أَهْلُ الْمَدِينَةِ التَّمْرَ عَامًا فَأَعْطَى الشَّعِيرَ
“Kemudian penduduk Madinah sulit mendapatkan kurma pada suatu tahun, kemudian ia memberikan gandum.” HR. Abu Dawud dan Al-Nasai. [11]
Sehubungan dengan amal Ibnu Umar di atas, Imam al-Baji berkata:
قَوْلُهُ كَانَ لَا يُخْرِجُ فِي زَكَاةِ الْفِطْرِ إِلَّا التَّمْرَ ؛ لِأَنَّهُ كَانَ قُوتَهُ وَقُوتَ أَهْلِ بَلَدِهِ بِالْمَدِينَةِ فَلِذَلِكَ كَانَ يَرَى أَنْ لَا يُجْزِيَهُ غَيْرَ التَّمْرِ وَكَانَ يَقْتَصِرُ عَلَى إخْرَاجِهِ وَيُحْتَمَلُ أَنَّهُ كَانَ يُخْرِجُهُ مَعَ التَّمَكُّنِ مِنْ الشَّعِيرِ وَيَقُوتُ بِهِ ؛ لِأَنَّهُ كَانَ يَرَى أَنَّ التَّمْرَ أَفْضَلُ مِنْهُ وَإِنْ كَانَ الشَّعِيرُ يُجْزِيهِ وَقَدْ قَالَ أَشْهَبُ أَحَبُّ إلَيَّ أَنْ يُخْرَجَ بِالْمَدِينَةِ التَّمْرُ وَوَجْهُ ذَلِكَ أَنَّهُ أَفْضَلُ أَقْوَاتِهِمْ ؛ لِأَنَّهُ لَا يَكَادُ يُقْتَاتُ فِيهَا إِلَّا التَّمْرُ أَوْ الشَّعِيرُ وَأَمَّا اقْتِيَاتُ الْقَمْحِ فَنَادِرٌ
“Perkataanya: ‘Dia (Ibnu Umar) dalam berzakat fitri tidak pernah mengeluarkan yang lain selain kurma,’ karena kurma adalah makanan pokoknya dan makan pokok penduduk Madinah, karena itu ia berpendapat bahwa zakat fitri itu tidak memadai dengan yang lain selain kurma, dan ia membatasi zakat fitri hanya pada kurma. Dan dapat dimaknai pula bahwa, ia mengeluarkan kurma—padahal gandum pun berkedudukan sebagai makanan pokoknya—karena ia berpendapat bahwa kurma lebih utama daripada gandum, meskipun dengan gandum memadai pula. Sungguh Asyhab berkata, ‘Kurma lebih aku sukai untuk dikeluarkan di Madinah.’ Dan aspek pertimbangan itu bahwa kurma adalah makanan pokok mereka yang lebih utama, karena hampir tidak ada makanan di sana selain kurma dan gandum. Adapun makanan pokok berupa qamh (biji gandum) maka jarang.” [12]
Dari sini dapat diambil kesimpulan, bahwa penetapan zakat fitrah dengan makanan berupa kurma dan gandum karena pertimbangan keutamaan dan kemudahan akses bagi penduduk setempat, dalam konteks ini penduduk Madinah. Menurut Ibnu Hajar, “Mereka (para sahabat) dalam berzakat fitri mengeluarkan jenis makanan pokok yang paling utama, dan kurma lebih utama daripada yang lainnya. [13]
Penetapan zakat fitrah dengan kedua jenis makanan: kurma dan gandum, karena pertimbangan lebih mudah didapat atau biasa dimiliki secara umum diperkuat pula dengan sejumlah data faktual, yang menunjukkan bahwa pada praktiknya para sahabat memperluas jenis makanan dari yang “ditetapkan” oleh Nabi saw. Ibnu Umar menjelaskan:
كَانَ النَّاسُ يُخْرِجُونَ عَنْ صَدَقَةِ الْفِطْرِ فِي عَهْدِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَاعًا مِنْ شَعِيرٍ أَوْ تَمْرٍ أَوْ سُلْتٍ أَوْ زَبِيبٍ
“Dahulu orang-orang mengeluarkan zakat fitrah di zaman Nabi saw. sebesar satu sha’ sya’iir (gandum), tamr (kurma), atau Sult (sejenis gandum yang berwarna putih tak berkulit) atau Zabiib (anggur kering).” HR. An-Nasai.[14]
Abu Said al-Khudriy menjelaskan:
كُنَّا نُخْرِجُ زَكَاةَ الْفِطْرِ صَاعًا مِنْ طَعَامٍ أَوْ صَاعًا مِنْ شَعِيرٍ أَوْ صَاعًا مِنْ تَمْرٍ أَوْ صَاعًا مِنْ أَقِطٍ أَوْ صَاعًا مِنْ زَبِيبٍ
“Kami mengeluarkan zakat fitrah 1 sha makanan atau 1 sha sya’ir (gandum), atau tamr (kurma), atau aqith (susu kering/keju), atau Zabiib (kismis/anggur kering).” HR. Al-Bukhari. [15]
Dalam redaksi lain
كُنَّا نُخْرِجُ فِي عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَاعًا مِنْ تَمْرٍ أَوْ صَاعًا مِنْ شَعِيرٍ أَوْ صَاعًا مِنْ أَقِطٍ لَا نُخْرِجُ غَيْرَهُ
“Kami pernah mengeluarkan zakat fitrah di masa Rasulullah saw. sebesar satu shaa’ kurma, satu shaa’ gandum atau satu shaa’ susu kering. Kami tidak mengeluarkan yang lain.” HR. An-Nasai. [16]
Mengapa jenis makanannya diperluas? Kata Abu Sa’id:
كَانَ طَعَامَنَا الشَّعِيرُ وَالزَّبِيبُ وَالْأَقِطُ وَالتَّمْرُ
“sya’ir (gandum), Zabib (kismis/anggur kering), aqith (susu beku/keju), dan tamr (kurma) adalah makanan kami.” HR. Al-Bukhari. [17]
Begitu pula penjelasan Aws bin al-Hadatsan berikut ini:
وَكَانَ طَعَامُنَا يَوْمَئِذٍ الْبُرَّ وَالتَّمْرَ وَالزَّبِيبَ
“Makanan kami ketika itu burr (gandum), tamr (kurma), dan Zabiib (kismis/anggur kering)’.” HR. Ath-Thabrani dan Ibnu Amr asy-Syaibani. [18] Kata Ath-Thabrani, “Redaksi di atas versi rawi Zaid bin Akhzam. Sedangkan versi rawi Sya’tsam: “Makanan kami ketika itu tamr (kurma), Zabiib (kismis/anggur kering), dan aqith (susu kering/keju).” [19]
Meskipun Rasulullah saw. menetapkan zakat fitrah dengan dua jenis makanan: kurma & gandum, namun bila muzakki berzakat dengan zabiib (anggur kering) dan aqith (keju) maka penyerahan zakat mereka tetap diterima. Ibnu Umar menjelaskan:
أَمَرَنَا رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أَنْ نُخْرِجَ زَكَاةَ الْفِطْرِ عَنْ كُلِّ صَغِيرٍ أَوْ كَبِيرٍ وَحُرٍّ وَمَمْلُوكٍ صَاعًا مِنْ تَمْرٍ أَوْ شَعِيرٍ قَالَ وَكَانَ يُؤْتَى إِلَيْهِمْ بِالزَّبِيبِ وَالأَقِطِ فَيَقْبَلُونَهُ
“Rasulullah saw. telah memerintahkan kepada kami agar mengeluarkan zakat fitrah atas anak kecil dan dewasa, orang merdeka dan hamba sahaya, sebesar satu shaa’ kurma atau satu shaa’ syair (gandum). Dan diserahkan kepada mereka zabiib dan aqith, maka mereka tetap menerimanya.” HR. Al-Baihaqi. [20]
Berbagai keterangan di atas menunjukkan bahwa:
  • Para sahabat memahami hadis Nabi tentang zakat fitrah itu tidak secara mantuq (makna tersurat), namun secara mafhum (makna tersirat),
  • Para sahabat memahami hadis itu bukan sebagai takhsis (pengkhususan), hal itu terbukti dengan diperluas jenis makanannya,
  • Secara ekonomi, jenis pangan yang dimiliki oleh publik di zaman sahabat sudah lebih berkembang daripada zaman Nabi.
Kedua, dilihat dari sisi mustahiq
Kedua jenis makanan itu (kurma & gandum) lebih bermanfaat untuk orang miskin waktu itu sebagai thu’matan. Dalam hadis diterangkan:
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَكَاةَ الْفِطْرِ طُهْرَةً لِلصَّائِمِ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ وَطُعْمَةً لِلْمَسَاكِينِ
Dari Ibnu Abas, ia berkata, “Rasulullah saw. mewajibkan zakat fitrah sebagai pensuci bagi yang saum dari ucapan sia-sia dan kotor dan sebagai makanan bagi orang miskin.” HR. Abu Dawud, Ibnu Majah, Ad-Daraquthni. [21]
Para ulama menjelaskan:
وَطُعْمَةً وَهُوَ الطَّعَامُ الَّذِي يُؤْكَلُ
“Dan kata thu’mah ialah makanan yang disantap.” Dengan perkataan lain, thu’matan adalah makanan mudah saji dan siap santap. [22]
Dengan demikian berdasarkan pendekatan bayan lit tanshish (keterangan penjelas atau prioritas), dapat disimpulkan bahwa yang menjadi pokok kewajiban zakat fitrah itu bukan “barangnya” melainkan “nilainya”, yaitu 1 shaa’. Sehubungan dengan itu, Abu Sa’id al-Khudriyi mengatakan:
لاَ أُخْرِجُ أَبَدًا إِلاَّ صَاعًا
“Saya tidak akan mengeluarkan zakat fitri selamanya kecuali sebesar 1 sha’.”
Ukuran 1 sha’ dapat dikonversi dalam ukuran isi (liter), berat (Kg), dan harga (Rp atau mata uang lainnya). Konversi ukuran itu pernah dilakukakan oleh Mu’awiyah, sebagaimana telah dibahas pada edisi sebelumnya, namun perlu ditegaskan kembali di sini sehubungan hadis “tambahan” sebagai berikut:
قَالَ إِنِّي أَرَى أَنَّ مُدَّيْنِ مِنْ سَمْرَاءِ الشَّامِ تَعْدِلُ صَاعًا مِنْ تَمْرٍ فَأَخَذَ النَّاسُ بِذَلِكَ
Muawiyah berkata, “Saya memandang bahwa 2 mud gandum Syam senilai dengan 1 sha kurma.” Maka orang-orang mengambil konversi itu.” HR. Muslim, Abu Dawud, Al-Baihaqi. [23]
Atas dasar pertimbangan di atas, para tabi’in sebagai murid shahabat Nabi saw., seperti Umar bin Abdul Aziz, al-Hasan al-Bishri, dan Atha telah menetapkan zakat fitrah dengan harga/uang (dirham). Waktu itu Umar bin Abdul Aziz menetapkan nilai 1 sha = ½ dirham. [24]
Kesimpulan, membayar zakat fitrah dengan uang hukumnya sah, dan bisa jadi lebih utama bagi mustahiq pada situasi dan kondisi daerah tertentu.

By Amin Muchtar, sigabah.com/beta

[1]Lihat, HR. Ahmad, Musnad Ahmad, V: 432, No, Hadis 23.713, Ath-Thahawi, Syarh Ma’ani al-Atsar, II:45, Abdurrazaq, Al-Mushannaf, III:318, No. Hadis 5785, ad-Daraquthni, Sunan ad-Daraquthni, II:150, No. Hadis 52.
[2]Lihat, Sunan at-Tirmidzi, III: 61, No. Hadis 674, Al-Baihaqi, As-Sunan al-Kubra, IV: 172, No. Hadis 7515, ad-Daraquthni, Sunan ad-Daraquthni, II: 141, No. Hadis 17, dan al-Hakim, al-Mustadrak ‘Ala ash-Shahihain, I:569, No. Hadis 1492.
[3]Lihat, HR. Al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari, II:547, No. hadis 1432; II:549, No. hadis 1440, Muslim, Shahih Muslim, II:677, No. hadis 984, II:678, No. hadis 984, At-Tirmidzi, Sunan At-Tirmidzi, III:62, No. Hadis 676, An-Nasai, As-Sunan al-Kubra, II: 26, No. Hadis 2284, Sunan An-Nasai, V:47, No. Hadis 2500, V:48, No. Hadis 2503, V:49, No. Hadis 2505, Abu Dawud, Sunan Abu Dawud, II:112, No. Hadis 1611, Ibnu Majah, Sunan Ibnu Majah, I:585, No. Hadis 1826, Ahmad, Musnad Ahmad, II:63, No. Hadis 5303.
[4]Lihat, As-Sunan al-Kubra, IV: 169, No. Hadis 7503
[5] Lihat, Shahih Al-Bukhari, II:548, No. hadis 1439.
[6] Lihat, Shahih Al-Bukhari, II:548, No. hadis 1439.
[7]Lihat, Abu Ya’la, Musnad Abu Ya’la, X:203, No. Hadis 5834, Ibnu Khuzaimah, Shahih Ibnu Khuzaimah, IV: 85, No. Hadis 2404.
[8] Lihat, Musnad Abd bin Humaid, I:549, No. 1440.
[9] Lihat, Al-Muwatha :222, No. 778.
[10] Lihat, HR. Al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari, II:549, No. 1440; Al-Baihaqi, As-Sunan al-Kubra, IV:160, No. 7467.
[11] Lihat, HR. Abu Dawud, Sunan Abu Dawud, II:113, No. 1615; dan Al-Nasai, As-Sunan al-Kubra, IV:164, No. 7468.
[12] Lihat, al-Muntaqa Syarh al-Muwatha, II:45
[13] Lihat, Fath al-Bari Syarh Shahih al-Bukhari, III:376
[14] Lihat, Sunan An-Nasai, V:53, No. hadis 2516; As-Sunan Al-Kubra, II:28, No. hadis 2295.
[15] Lihat, Shahih Al-Bukhari, II:548, No. hadis 1439.
[16] Lihat, Sunan An-Nasai, V:53, No. hadis 2518.
[17] Lihat, Shahih Al-Bukhari, II:548, No. hadis 1439
[18]Lihat, HR. Ath-Thabrani, al-Mu’jam al-Kabir, I: 224, No. hadis 613, Ibnu Amr asy-Syaibani, Al-Ahad wa al-Matsani, III: 115, No. Hadis 1437.
[19]Lihat, al-Mu’jam al-Kabir, I: 224.
[20]Lihat, As-Sunan al-Kubra, IV:175, No. 7528.
[21]Lihat, HR. Abu Dawud, Sunan Abu Dawud, I:585, No. Hadis 1609; Ibnu Majah, Sunan Ibnu Majah, I:585, No. Hadis 1827; Ad-Daraquthni, Sunan Ad-Daraquthni, II:138, No. Hadis 1.
[22]Lihat, Al-Ihkam Syarh Ushul al-Ahkam, II:172.
[23]Lihat, HR. Muslim, Shahih Muslim, II:678, No. hadis 985; Abu Dawud, Sunan Abu Dawud, II:113, No. hadis 1616; Al-Baihaqi, As-Sunan Al-Kubra, IV:165, No. hadis 7490.
[24]Lihat, lihat, Mushannaf Ibnu AbiuSyaibah, II:398.

MULIAKAN DIRI DENGAN ZAKAT FITRI (Bagian Ke-3)


Ketentuan Zakat Fitrah
Kedua, ukuran wajib zakat fitrah
Esensi kewajiban zakat fitrah terletak pada nilai atau ukuran (miqdaar) yang mesti dikeluarkan, bukan pada jenis materinya. Penetapan nilai atau ukuran (miqdaar) wajib zakat fitrah menggunakan dua bentuk bayaan (keterangan): bil qawl (sabda) dan bil fi’l (perbuatan).

Penggunaan Bayaan bil qawl
Dalam menetapkan nilai atau ukuran zakat fitrah diperoleh sabda Nabi saw. dalam beragam redaksi:
Pertama, menggunakan bentuk kata perintah (shigah ‘Amr) adduu (tunaikan) dan akhrijuu (keluarkanlah). Kata adduu (tunaikan) diterangkan oleh Abdullah bin Tsa’labah bin Shu’air al-‘Udzriy berikut ini:
خَطَبَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ النَّاسَ قَبْلَ الْفِطْرِ بِيَوْمَيْنِ فَقَالَ أَدُّوا صَاعًا مِنْ بُرٍّ أَوْ قَمْحٍ بَيْنَ اثْنَيْنِ أَوْ صَاعًا مِنْ تَمْرٍ أَوْ صَاعًا مِنْ شَعِيرٍ عَلَى كُلِّ حُرٍّ وَعَبْدٍ وَصَغِيرٍ وَكَبِيرٍ
“Rasulullah saw. berkhutbah kepada orang-orang dua hari sebelum Idul Fitri. Maka beliau bersabda, ‘Tunaikan satu shaa’ burr (gandum) atau qamh (gandum) di antara dua perkara atau satu shaa’ kurma atau satu shaa’ dari syair (gandum) atas orang yang merdeka, hamba sahaya, anak kecil, dan orang dewasa’.” HR. Ahmad, Ath-Thahawi, Abdurrazaq, dan ad-Daraquthni dengan sedikit perbedaan redaksi. [1]
Dalam jalur periwayatan lainnya terdapat tambahan redaksi:
غَنِيٍّ أَوْ فَقِيْرٍ أَمَّا غَنِيُّكُمْ فَيُزَكِّيْهِ اللَّهُ وَأَمَّا فَقِيْرُكُمْ فَيُرَدُّ عَلَيْهِ أَكْثَرُ مِمَّا يُعْطِيْ
“Kaya ataupun miskin. Adapun orang kaya di antara kalian, maka Allah akan mensucikannya. Adapun orang miskin di antara kalian, maka akan dikembalikan kepadanya dengan jumlah yang lebih banyak daripada yang ia berikan.” HR. Ahmad, Abu Dawud, Al-Baihaqi, Ad-Daraquthni, Ath-Thahawi, dan Ibnu Amr asy-Syaibani. Redaksi di atas versi Ahmad. [2]
Sementara dengan kata akhrijuu (keluarkanlah) diterangkan oleh Aws bin al-Hadatsan berikut ini:
أَخْرِجُوا صَدَقَةَ الْفِطْرِ صَاعًا مِنْ طَعَامٍ ، وَكَانَ طَعَامُنَا يَوْمَئِذٍ الْبُرَّ وَالتَّمْرَ وَالزَّبِيبَ
“Keluarkanlah zakat fitrah 1 shaa’ makanan.” (Aws berkata), ‘Makanan kami ketika itu burr (gandum), tamr (kurma), dan Zabiib (kismis/anggur kering)’.” HR. Ath-Thabrani dan Ibnu Amr asy-Syaibani. [3] Kata Ath-Thabrani, “Redaksi di atas versi rawi Zaid bin Akhzam. Sedangkan versi rawi Sya’tsam: “Makanan kami ketika itu tamr (kurma), Zabiib (kismis/anggur kering), dan aqith (susu kering/keju).” [4]
Kedua, menggunakan bentuk kata wajib atau wajibah, sebagaimana diterangkan kakeknya ‘Amr bin Syu’aib berikut ini:
أَلاَ إِنَّ صَدَقَةَ الفِطْرِ وَاجِبَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى ، حُرٍّ أَوْ عَبْدٍ ، صَغِيرٍ أَوْ كَبِيرٍ ، مُدَّانِ مِنْ قَمْحٍ ، أَوْ سِوَاهُ صَاعٌ مِنْ طَعَامٍ
“Ketahuilah bahwa zakat fitri itu kewajiban setiap muslim, laki-laki atau perempuan, orang yang merdeka atau hamba sahaya, anak kecil atau orang dewasa, sebanyak dua mud qamh (gandum) atau satu shaa’ makanan selain qamh.” HR. At-Tirmidzi, Al-Baihaqi, ad-Daraquthni, dan al-Hakim, dengan sedikit perbedaan redaksi. [5]
Dari penggunaaan bentuk kata perintah (shigah ‘Amr) adduu (tunaikan) dan akhrijuu (keluarkanlah) serta kata wajib atau wajibah di atas, Ibnu Umar, Abu Sa’id, dan Ibnu Abas meriwayatkannya secara hikayat sabda Nabi saw. (hikaayah al-Qawl) dengan kata faradha (memfardukan) dan amara (memerintah).
Hikayat sabda Nabi: faradha, disampaikan Ibnu Umar sebagai berikut:
فَرَضَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى الله ُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَكَاةَ الْفِطْرِ صَاعًا مِنْ تَمْرٍ اَوْ صَاعًا مِنْ شَعِيْرٍ عَلَى اْلعَبْدِ وَالْحُرِّ وَالذَّكَرِ وَالأُنْثَىْ وَالصَّغِيْرِ وَالْكَبِيْرِ مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ
“Rasulullah saw. mewajibkan zakat fitrah satu shaa’ kurma, atau satu shaa’ sya’iir (gandum) atas hamba sahaya, orang yang merdeka, laki-laki perempuan, anak kecil dan dewasa dari kalangan muslimin.” HR. Al-Bukhari, Muslim, At-Tirmidzi, An-Nasai, Abu Dawud, Ibnu Majah, dan Ahmad, dengan sedikit perbedaan redaksi. [6]
Sedangkan keterangan Abu Sa’id al-Khudriyyi diriwayatkan oleh An-Nasai. [7]
Adapun hikayat sabda Nabi: Amara, disampaikan Ibnu Umar sebagai berikut:
أَمَرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِزَكَاةِ الْفِطْرِ صَاعًا مِنْ تَمْرٍ أَوْ صَاعًا مِنْ شَعِيرٍ
“Nabi saw. memerintah zakat fitrah satu shaa’ kurma atau satu shaa’ sya’iir (gandum)” HR. Al-Bukhari, Muslim, dan Ibnu Majah. [8]
Sedangkan keterangan Ibnu Abas dengan redaksi:
أُمِرْنَا أَنْ نُعْطِىَ صَدَقَةَ رَمَضَانَ عَنِ الصَّغِيرِ وَالْكَبِيرِ وَالْحُرِّ وَالْمَمْلُوكِ صَاعًا مِنْ طَعَامٍ
“Kami diperintah untuk memberikan zakat Ramadhan atas anak kecil dan orang dewasa, orang yang merdeka dan hamba sahaya, sebesar satu shaa’ makanan.” HR. Al-Baihaqi. [9]

Penggunaan Bayaan bil Fi’li
Selain dengan keterangan berupa sabda Nabi saw. penetapan nilai atau ukuran zakat fitrah diperoleh pula dari amal Nabi saw. sebagai berikut:
أَنَّ رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم كَانَ يُخْرِجُ زَكَاةَ الْفِطْرِ صَاعًا مِنْ تَمْرٍ ، أَوْ صَاعًا مِنْ شَعِيرٍ
“Rasulullah saw. mengeluarkan zakat fitrah satu shaa’ kurma atau satu shaa’ syair (gandum)” HR. Abu Ya’la dan Ibnu Khuzaimah. [10]

Sahkan Zakat Fitrah dengan Konversi Kg dan Uang?
Dalam menetapkan kewajiban zakat fitrah, Nabi saw. menggunakan istilah shaa’. Shaa’ merupakan istilah yang sering digunakan untuk menentukan ukuran isi atau volume, seperti liter, bukan satuan ukuran berat/massa seperti kilogram (Kg). Ukuran isi tidak mengalami perubahan walaupun benda yang ditakarnya berbeda jenis. Misalnya, 1 liter beras Karawang sama isinya dengan 1 liter beras Cianjur, meskipun berbeda berat jenisnya.
Adapun shaa’ yang dimaksud pada hadis di atas ialah shaa’ nabawi, yaitu shaa’ yang berlaku di zaman Nabi saw. Bila objek kewajiban zakat fitrah itu berupa beras, lalu diukur berdasarkan liter—yang pernah kami lakukan—dapat diperoleh hasil sebagai berikut: 1 sha = 4 mud = 2770,47 cc = + 3,1 liter. Berdasarkan ukuran satuan isi, maka beras apapun yang dikonsumsi oleh wajib zakat (muzakki) ukuran yang wajib dikeluarkannya akan sama.
Namun jika kewajiban zakat fitrah itu dikonversi dengan satuan ukuran berat seperti kilogram (Kg) maka ukuran zakat fitrah tiap muslim akan berbeda tergantung jenis beras atau makanan pokok yang dikonsumsi. Silahkan dicek perbedaan hasil mengilo 1 liter beras Karawang dan 1 liter beras Cianjur, misalnya. Begitu pula jika dikonversi dengan harga (qiimah).
Dalam konteks inilah kita dapat memahami mengapa para ulama berbeda pendapat dalam menetapkan konversi ukuran satu shaa’. Adapun perbedaan itu dapat diuraikan sebagai berikut:
Menurut satu pendapat, satu shaa’ nabawi sebanding dengan 480  mitsqaal biji gandum yang bagus. Satu mitsqaal sama dengan 4,25 gram. Sementara 480 mitsqaal sebanding dengan 2040 gram. Berarti satu shaa’ sebanding dengan 2040 gram atau 2,4 Kg. [11]
Sedangkan menurut pendapat Syaikh Abdullah Al-Bassam, satu shaa’ nabawi adalah empat mud. Sementara satu mud setara dengan 625 gram, karena itu satu shaa’ nabawi sama dengan 3000 gram atau 3 Kg. [12] Sementara menurut Dr. Wahbah Az-Zuhaili, 1 mud itu sama dengan 675 gram, berarti 1 sha’ sama dengan 2751 gram atau 2,75 Kg. [13]
Berdasarkan hasil konversi para ulama di atas, kita dapat memperkirakan bahwa satu shaa’ kewajiban zakat fitrah berkisar antara 2040 gram (2,4 Kg) hingga 3000 gram (3 Kg). Meski dapat diketahui nilai konversinya namun hal itu dipandang menjadi masalah, karena Nabi saw. menetapkan ukuran wajib zakat fitrah itu dengan satuan isi (shaa’), bukan satuan berat. Jadi, sahkah membayar zakat fitrah dengan satuan ukuran lain, selain shaa’, seperti berat (Kg)? Bagaimana pula dengan harga (uang)?
Konversi ukuran wajib zakat fitrah dengan satuan ukuran lain, selain shaa’, juga dengan nilai atau harga pernah terjadi pada zaman shahabat. Kata Ibnu Umar
فَجَعَلَ النَّاسُ عِدْلَهُ مُدَيْنِ مِنْ حِنْطَةٍ
“Maka orang-orang membuat atau menetapkan ukurannya sebanyak dua mud biji gandum.” HR. Al-Bukhari dan Ibnu Majah. [14]
Orang-orang yang dimaksud oleh Ibnu Umar adalah Mu’awiyah dan para shahabat Nabi lainnya yang sependapat dengan beliau. Mu’awiyah dan para shahabat Nabi lainnya beranggapan bahwa satu shaa’ tamr (buah kurma) dan satu shaa’ sya’iir (gandum) senilai dengan dua mud hinthah (biji gandum). [15] Padahal ulama sepakat bahwa konversi dua mud hinthah hanya mencapai nilai ½ shaa’ tamr (buah kurma) atau ½ shaa’ sya’iir (gandum). [16]

Jadi, yang hendak dikonversi oleh Mu’awiyah bukan dari shaa’ kepada muud, karena keduanya sama-sama satuan ukuran isi, melainkan nilai atau harganya. Latar belakang konversi Mu’awiyah dijelaskan dalam beberapa riwayat, antara lain dari Abu Sa’id al-Khudriyyi sebagai berikut:
إنَّمَا كُنَّا نُخْرِجُ عَلَى عَهْدِ رَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه وسلم صَاعَ تَمْرٍ أَوْ صَاعَ شَعِيْرٍ أَوْ صَاعَ أَقِطٍ لاَ نُخْرِجُ غَيْرَهُ فَلَمَّا كَثُرَ الطَّعَامُ فِيْ زَمَنِ مُعَاوِيَةَ جَعَلُوْهُ مُدَّيْنِ مِنْ حِنْطَةٍ
“Pada masa Rasulullah saw. kami hanya mengeluarkan (zakat fitrah) 1 shaa’ tamr (buah kurma), atau 1 shaa’ sya’ir (gandum), atau 1 shaa’ aqith (susu kering/keju), kami tidak mengeluarkan selainnya. Maka ketika makanan melimpah pada zaman Mu’awiyah, mereka menetapkan ukurannya sebanyak dua mud biji gandum.” HR. Ath-Thahawi. [17]
Keputusan Mu’awiyyah dan para sahabat lain yang sepakat dengannya, dalam konversi ukuran wajib zakat dengan nilai/harga, ternyata tidak disepakati sebagian shahabat lain, antara lain Abu Sa’id al-Khudriyyi mengatakan:
لاَ أُخْرِجُ إِلاَّ مَا كُنْتُ أُخْرِجُ فِى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- صَاعًا مِنْ تَمْرٍ أَوْ صَاعًا مِنْ حِنْطَةٍ أَوْ صَاعًا مِنْ شَعِيرٍ أَوْ صَاعًا مِنْ أَقِطٍ فَقَالَ لَهُ رَجُلٌ مِنَ الْقَوْمِ : أَوْ مُدَّيْنِ مِنْ قَمْحٍ قَالَ : لاَ تِلْكَ قِيمَةُ مُعَاوِيَةَ لاَ أَقْبَلُهَا وَلاَ أَعْمَلُ بِهَا
“Saya tidak akan mengeluarkan (zakat fitrah) kecuali apa yang saya keluarkan pada masa Rasulullah saw. sebanyak 1 shaa’ tamr (buah kurma), atau 1 shaa’ khinthah (biji gandum), atau 1 shaa’ sya’ir (gandum), atau 1 shaa’ aqith (susu kering/keju).” Maka seseorang dari suatu kaum berkata kepadanya, “Atau dua mud qamh (gandum).” Ia (Abu Sa’id) berkata, “Tidak, itu standar nilai (qiimah) Mu’awiyah, saya tidak akan menerimanya dan tidak akan menggunakannya.” HR. Ath-Thahawi, Ad-Daraquthni, Al-Baihaqi, Al-Hakim, Ibnu Hiban, Ibnu Khuzimah. [18]
Sehubungan dengan perbedaan sikap para shahabat tentang konversi nilai atau harga “wajib zakat fitrah” maka Ibnu Hajar berkomentar:
لَكِنَّ حَدِيثَ أَبِي سَعِيدٍ دَالٌّ عَلَى أَنَّهُ لَمْ يُوَافِقْ عَلَى ذَلِكَ ، وَكَذَلِكَ اِبْنُ عُمَرَ ، فَلَا إِجْمَاعَ فِي الْمَسْأَلَةِ خِلَافًا لِلطَّحَاوِيِّ . وَكَأَنَّ الْأَشْيَاءَ الَّتِي ثَبَتَ ذِكْرُهَا فِي حَدِيثِ أَبِي سَعِيدٍ لَمَّا كَانَتْ مُتَسَاوِيَةً فِي مِقْدَارِ مَا يُخْرَجُ مِنْهَا مَعَ مَا يُخَالِفُهَا فِي الْقِيمَةِ دَلَّ عَلَى أَنَّ الْمُرَادَ إِخْرَاجُ هَذَا الْمِقْدَارِ مِنْ أَيِّ جِنْسٍ كَانَ ، فَلَا فَرْقَ بَيْنَ الْحِنْطَةِ وَغَيْرِهَا . هَذِهِ حُجَّةُ الشَّافِعِيِّ وَمَنْ تَبِعَهُ
“Namun hadis Abu Sa’id menunjukkan bahwa ia tidak sepakat atas hal itu (konversi dengan harga), begitu pula Ibnu Umar. Maka tentang masalah ini tidak tercipta ijma’ sahabat, berbeda dengan pandangan ath-Thahawi. Dan segala sesuatu yang telah pasti disebutkan dalam hadis Abu Sa’id, tatkala sama atau setara ukurannya dengan apa yang dikeluarkan, meski berbeda nilainya, seakan-akan telah menunjukkan bahwa yang dimaksud hadis itu adalah mengeluarkan ukuran wajib ini (1 shaa’) dari jenis makanan apapun, tidak terdapat perbedaan antara hinthah dan lainnya. Ini argumen asy-Syafi’I dan pengikutnya.”
وَأَمَّا مَنْ جَعَلَهُ نِصْفَ صَاعٍ مِنْهَا بَدَلَ صَاعٍ مِنْ شَعِيرٍ فَقَدْ فَعَلَ ذَلِكَ بِالِاجْتِهَادِ بِنَاءً مِنْهُ عَلَى أَنَّ قِيَمَ مَا عَدَا الْحِنْطَةَ مُتَسَاوِيَةٌ ، وَكَانَتْ الْحِنْطَةُ إِذْ ذَاكَ غَالِيَةَ الثَّمَنِ ، لَكِنْ يَلْزَمُ عَلَى قَوْلِهِمْ أَنْ تُعْتَبَرَ الْقِيمَةُ فِي كُلِّ زَمَانٍ فَيَخْتَلِفُ الْحَالُ وَلَا يَنْضَبِطُ ، وَرُبَّمَا لَزِمَ فِي بَعْضِ الْأَحْيَانِ إِخْرَاجُ آصُعٍ مِنْ حِنْطَةٍ ،
“Adapun orang-orang yang menetapkan ukuran ½ shaa’, menggantikan 1 shaa’ sya’iir, sungguh ia berbuat demikian itu berdasarkan ijtihad dengan pertimbangan bahwa makanan selain hinthah bernilai/harga sama, sementara hinthah ketika itu mahal harganya (sehingga dipandang setara dengan 1 shaa’ tamr atau 1 shaa’ sya’iir). Namun mesti ditekankan pada pendapat mereka agar dipertimbangkan perubahan harga pada setiap waktu, maka keadaannya akan berubah dan tidak baku, dan terkadang pada sebagian keadaan mesti mengeluarkan beberapa shaa’ hinthah.”[19]
Berbagai keterangan di atas menunjukkan bahwa konversi wajib zakat fitrah dengan nilai atau harga memiliki akar pemikiran Islam yang kokoh, paling tidak mengacu kepada sikap Mu’awiyah dan para sahabat Nabi yang sejalan dengannya.
Meski demikian, perlu ditegaskan di sini bahwa pengamalan kewajiban zakat fitrah berdasarkan satuan berat jenis memiliki “resiko hukum” bahwa ukuran zakat yang dikeluarkan oleh wajib zakat (muzakki) pada hakikatnya tidak boleh sama, tergantung jenis beras yang biasa dikonsumsi oleh masing-masing muzakki. Di sinilah terkadang “neraca menjadi miring”, ketika membayar hak orang lain digunakan beras “Raskin” sementara yang dikonsumsi sehari-hari beras “super”, misalnya. Karena itu, penetapan zakat fitrah sebesar 2,5 Kg merujuk kepada ghalib atau kelaziman berat jenis beras yang rata-rata dikonsumsi oleh mayoritas masyarakat di lingkungan kita.
Demikian pula, apabila dikonversi berdasarkan satuan harga (qiimah) juga memiliki “resiko hukum” bahwa ukuran zakat yang dikeluarkan oleh wajib zakat (muzakki) pada hakikatnya tidak boleh sama, tergantung harga jenis beras yang bersangkutan. Karena itu, berdasarkan konversi qiimah, besaran zakat fitrah setiap tahun bisa jadi berubah sesuai dengan perubahan harga yang berlaku saat itu.

By Amin Muchtar, sigabah.com/beta

[1]Lihat, HR. Ahmad, Musnad Ahmad, V: 432, No, Hadis 23.713, Ath-Thahawi, Syarh Ma’ani al-Atsar, II:45, Abdurrazaq, Al-Mushannaf, III:318, No. Hadis 5785, ad-Daraquthni, Sunan ad-Daraquthni, II:150, No. Hadis 52.
[2]Lihat, HR. Ahmad, Musnad Ahmad, V: 432, No, Hadis 23.714, Abu Dawud, Sunan Abu Dawud, II: 114, No. Hadis, 1619, Al-Baihaqi, As-Sunan al-Kubra, IV: 167, No. Hadis 7498, Ad-Daraquthni, Sunan Ad-Daraquthni, II: 148, No. Hadis 39 dan 41, Thahawi, Syarh Ma’ani al-Atsar, II:45, Ibnu Amr asy-Syaibani, Al-Ahad wa al-Matsani, I: 452, No. Hadis 628.
[3]Lihat, HR. Ath-Thabrani, al-Mu’jam al-Kabir, I: 224, No. hadis 613, Ibnu Amr asy-Syaibani, Al-Ahad wa al-Matsani, III: 115, No. Hadis 1437.
[4]Lihat, al-Mu’jam al-Kabir, I: 224.
[5]Lihat, Sunan at-Tirmidzi, III: 61, No. Hadis 674, Al-Baihaqi, As-Sunan al-Kubra, IV: 172, No. Hadis 7515, ad-Daraquthni, Sunan ad-Daraquthni, II: 141, No. Hadis 17, dan al-Hakim, al-Mustadrak ‘Ala ash-Shahihain, I:569, No. Hadis 1492.
[6]Lihat, HR. Al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari, II:547, No. hadis 1432; II:549, No. hadis 1440, Muslim, Shahih Muslim, II:677, No. hadis 984, II:678, No. hadis 984, At-Tirmidzi, Sunan At-Tirmidzi, III:62, No. Hadis 676, An-Nasai, As-Sunan al-Kubra, II: 26, No. Hadis 2284, Sunan An-Nasai, V:47, No. Hadis 2500, V:48, No. Hadis 2503, V:49, No. Hadis 2505, Abu Dawud, Sunan Abu Dawud, II:112, No. Hadis 1611, Ibnu Majah, Sunan Ibnu Majah, I:585, No. Hadis 1826, Ahmad, Musnad Ahmad, II:63, No. Hadis 5303.
[7]Lihat, As-Sunan al-Kubra, II: 27, No. Hadis 2290, Sunan An-Nasai, V:51, No. Hadis 2511
[8]Lihat, HR. Al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari, II:548, No. hadis 1436; Muslim, Shahih Muslim, II:678, No. hadis 984, Ibnu Majah, Sunan Ibnu Majah, I:584, No. Hadis 1825.
[9]Lihat, As-Sunan al-Kubra, IV: 169, No. Hadis 7503
[10]Lihat, Abu Ya’la, Musnad Abu Ya’la, X:203, No. Hadis 5834, Ibnu Khuzaimah, Shahih Ibnu Khuzaimah, IV: 85, No. Hadis 2404.
[11]Lihat, Syarh al-Mumti’ ‘ala Zaad al-Mustaqni’, karya Syekh Shalih al-Utsaimin, VI:176
[12]Lihat, Tawdhih Al-Ahkam Syarah Bulughul Maram,  III:178.
[13]Lihat, At-Tafsir al-Muniir, juz 2, hlm. 141.
[14]Lihat, HR. Al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari, II:548, No. hadis 1436; Ibnu Majah, Sunan Ibnu Majah, I: 584, No. Hadis 1825.
[15]Lihat, As-Sunan al-Kubra al-Baihaqi, IV:168; Shahih Ibnu Khuzaimah, IV: 85
[16]Lihat, Fath al-Bari Syarh Shahih al-Bukhari, V:142; Irsyad as-Sari Syarh Shahih al-Bukhari, III:87-88.
[17]Lihat, Syarh Ma’ani al-Atsar, II: 42; Syarh Musykil al-Atsar, IX: 24.
[18]Lihat, Syarh Ma’ani al-Atsar, II: 42, Ad-Daraquthni, Sunan Ad-Daraquthni, II: 145, No. Hadis 30; Al-Baihaqi, As-Sunan al-Kubra, IV: 165, No. hadis 7491, Al-Hakim, al-Mustadrak ‘Ala ash-Shahihain, I: 570, No. hadis 1495, Ibnu Hiban, Shahih Ibnu Hiban, VIII:98, No. Hadis 3306, Ibnu Khuzimah, Shahih Ibnu Khuzimah, IV:89, No. hadis 2419
[19]Lihat, Fath al-Bari Syarh Shahih al-Bukhari, V:144.

MULIAKAN DIRI DENGAN ZAKAT FITRI (Bagian Ke-2)


Ketentuan Zakat Fitrah

Pada tahun ke-2 hijriah itu, selain menyebut istilah, Nabi saw. pun menetapkan beberapa aturan zakat yang amat penting diperhatikan oleh kaum muslimin, sebagai berikut:

Pertama, muzakki Zakat Fitrah
Zakat fitrah wajib dikeluarkan oleh setiap orang muslim. Bagi mereka yang berada dibawah tanggungan orang lain, maka zakatnya menjadi kewajiban penanggungnya, baik ia seorang pembantu rumah tangga, seorang dewasa, ataupun seorang kanak-kanak, bahkan bayi yang telah bernyawa, yang masih didalam rahim, semuanya wajib mengeluarkan zakat fitrahnya, baik dari hartanya sendiri, ataupun oleh penanggung yang bertanggung jawab atasnya.
Di dalam hadis diterangkan:
قَالَ ابْنُ عُمَرَ : فَرَضَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى الله ُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَكَاةَ الْفِطْرِ صَاعًا مِنْ تَمْرٍ اَوْ صَاعًا مِنْ شَعِيْرٍ عَلَى اْلعَبْدِ وَالْحُرِّ وَالذَّكَرِ وَالأُنْثَىْ وَالصَّغِيْرِ وَالْكَبِيْرِ مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ وَاَمَرَ اَنْ تُؤَدَّي قَبْلَ خُرُوْجِ النَّاسِ اِلَى الصَّلاَةِ
Ibnu Umar mengatakan, “Rasulullah saw. mewajibkan zakat fitrah satu sha’ dari kurma, atau satu sha dari syair (gandum) atas hamba sahaya, orang yang merdeka, laki-laki perempuan, anak kecil dan dewasa dari kalangan muslimin. Dan beliau memerintahkan untuk ditunaikan sebelum orang-orang keluar melaksanakan shalat ied.” HR. Al-Bukhari.[1]
Dalam riwayat lain diterangkan oleh Al-Hasan Al-Bishri:
خَطَبَ ابْنُ عَبَّاسٍ فِي النَّاسَ آخِرِ رَمَضَانَ فَقَالَ يَا أَهْلَ الْبَصْرَةِ أَدُّوا زَكَاةَ صَوْمِكُمْ قَالَ فَجَعَلَ النَّاسُ يَنْظُرُ بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ فَقَالَ مَنْ هَاهُنَا مِنْ أَهْلِ الْمَدِينَةِ قُومُوا فَعَلِّمُوا إِخْوَانَكُمْ فَإِنَّهُمْ لَا يَعْلَمُونَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَرَضَ صَدَقَةَ رَمَضَانَ نِصْفَ صَاعٍ مِنْ بُرٍّ أَوْ صَاعًا مِنْ شَعِيرٍ أَوْ صَاعًا مِنْ تَمْرٍ عَلَى الْعَبْدِ وَالْحُرِّ وَالذَّكَرِ وَالْأُنْثَى
“Ibnu Abbas berkhutbah di hadapan orang-orang pada akhir bulan Ramadhan, lalu ia berkata, ‘Wahai penduduk Bashrah, keluarkanlah zakat shaum kalian (zakat fithrah).’ Ia (Humaid Ath-Thawil) berkata, ‘Maka orang-orang saling memandang satu dengan yang lainnya.’ Ibnu Abbas melanjutkan perkataannya, ‘Siapakah di sini yang berasal dari Madinah? Bangunlah, ajarkanlah saudara-saudara kalian, karena sesungguhnya mereka tidak mengerti bahwa Rasulullah saw. mewajibkan zakat kepada setiap budak, orang merdeka, laki-laki dan wanita pada bulan Ramadlan sebanyak setengah sha’ gandum, atau satu sha’ tepung, atau satu sha’ kurma.” HR. Ahmad. [2]

Pada riwayat yang lain dengan redaksi:
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَرَضَ صَدَقَةَ الْفِطْرِ عَلَى الصَّغِيرِ وَالْكَبِيرِ وَالْحُرِّ وَالْعَبْدِ وَالذَّكَرِ وَالْأُنْثَى نِصْفَ صَاعٍ مِنْ بُرٍّ أَوْ صَاعًا مِنْ تَمْرٍ أَوْ شَعِيرٍ
“Bahwa Rasulullah saw. telah mewajibkan zakat fitri atas anak kecil dan orang dewasa, yang merdeka dan hamba sahaya, lelaki dan perempuan, sebanyak setengah Sha’ gandum atau satu Sha’ kurma atau sya’ir (jenis gandum).” HR. An-Nasai dan Ad-Daraquthni. [3]
Kata ash-Shagiir (anak kecil) mencakup di dalamnya bayi yang masih berada didalam kandungan ibunya apabila usia kandungan itu telah mencapai umur 120 hari atau empat bulan. Sehubungan dengan itu Usman bin Afan membayar zakat fitrah bagi anak kecil, orang dewasa dan bayi dalam kandungan, sebagaimana diriwayatkan Ibnu Abu Syaibah berikut ini:
أَنَّ عُثْمَانَ كَانَ يُعْطِيْ صَدَقَةَ الْفِطْرِ عَنِ الْحَبْلِ
“Sesungguhnya Usman bin Afan memberikan zakat fitrah dari bayi yang dikandung.” [4]

Dalam riwayat Ahmad disebutkan dengan redaksi:
أَنَّ عُثْمَانَ كَانَ يُعْطِيْ صَدَقَةَ الْفِطْرِ عَنِ الصَّغِيرِ وَالْكَبِيرِ وَالْحَمْلِ
“Sesungguhnya Usman bin Afan memberikan zakat fitrah dari anak kecil, orang dewasa, dan bayi yang dikandung.” [5]
Demikian pula dengan para sahabat lainnya, sebagaimana diterangkan oleh Abu Qilabah.
عَنْ أَبِيْ قِلاَبَةَ قَالَ كَانَ يُعْجِبُهُمْ أَنْ يُعْطُوْا زَكَاةَ الْفِطْرِ عَنِ الصَّغِيْرِ وَالْكَبِيْرِ حَتَّى عَلَى الْحَبْلِ فِي بَطْنِ أُمِّهِ
Dari Abu Qilabah, ia berkata, “Adalah menjadi perhatian mereka (para sahabat) untuk mengeluarkan/memberikan zakat fitrah dari anak kecil, dewasa, bahkan yang masih dalam kandungan.” HR.Abdurrazaq. [6]

Kata Ibnu Hazm:
وَأَبُو قِلَابَةَ أَدْرَكَ الصَّحَابَةَ وَصَحِبَهُمْ وَرَوَى عَنْهُمْ ،
“Dan Abu Qilabah sezaman dengan para shahabat Nabi saw. dan menyertai mereka serta meriwayatkan dari mereka.”
Selanjutnya, Ibnu Hazm menegaskan:
وَلَا يُعْرَفُ لِعُثْمَانَ فِي هَذَا مُخَالِفٌ مِنْ الصَّحَابَةِ
“Dan tidak diketahui ada shahabat yang menyelisihi tindakan Usman dalam masalah ini (memberikan zakat fitrah dari bayi yang dikandung).” [7]
Keterangan Ibnu Hazm di atas menunjukkan bahwa membayar zakat fitrah bagi bayi dalam kandungan merupakan konsensus (ijma) para shahabat. Sementara telah maklum bahwa ijma para shahabat merupakan dalil agama, karena ijma menyingkapkan adanya dalil dari Nabi saw. (daliilun ‘alaa wujuudi daliilin).

By Amin Muchtar, sigabah.com/beta

[1]Lihat, Shahih Al-Bukhari, II:547, No. hadis 1432
[2]Lihat, Musnad Ahmad, I:351, No. hadis 3291
[3]Lihat, HR. An-Nasai, Sunan An-Nasai, III:190, No. hadis 1580, V:52, No. hadis 2515, As-Sunan Al-Kubra, II:28, No. hadis 2292; Ad-Daraquthni, Sunan Ad-Daraquthni, II:152, No. hadis 65.
[4]Lihat, Mushannaf Ibnu Abu Syaibah, II:432, No. Hadis 10.737.
[5]Lihat, Masaa’il Ahmad bin Hanbal Riwaayah Ibnuhu Abdullah, hlm. 168.
[6]Lihat, al-Mushannaf, III:319, No. hadis 5788.
[7]Lihat, Al-Muhalla bi al-Atsar, VI:132.

MULIAKAN DIRI DENGAN ZAKAT FITRI (Bagian Ke-1)

by Siaga Bencana · 3 Juli 2015

Selama 13 tahun hidup di Mekah sebelum hijrah, Nabi Muhamad telah 13 kali mengalami Ramadhan, yaitu dimulai dari Ramadhan tahun ke-41 kelahiran Nabi yang bertepatan bulan Agustus 610 M, hingga Ramadhan tahun ke-53 dari kelahirannya yang bertepatan dengan bulan April tahun 622 M. Namun selama waktu itu belum disyariatkan kewajiban mengeluarkan zakat fitrah bagi kaum muslimin, dan demikian pula dengan syariat Iedul fitrinya.
Setelah Nabi hijrah ke Madinah, dan menetap selama 17 bulan di sana, maka turunlah ayat 183-184 surat al-Baqarah pada bulan Sya’ban tahun ke-2 H, sebagai dasar disyariatkannya shaum bulan Ramadhan. Tak lama kemudian, dalam bulan Ramadhan tahun itu pula, tepatnya 2 hari menjelang Iedul fitri di tahun itu, mulai diwajibkan zakat kepada kaum muslimin. [1]

Sehubungan dengan kewajiban itu, Ibnu Umar menjelaskan:
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَرَضَ زَكَاةَ الْفِطْرِ مِنْ رَمَضَانَ عَلَى النَّاسِ صَاعًا مِنْ تَمْرٍ أَوْ صَاعًا مِنْ شَعِيرٍ عَلَى كُلِّ حُرٍّ أَوْ عَبْدٍ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى مِنْ الْمُسْلِمِينَ
“Sesungguhnya Rasulullah saw. telah mewajibkan zakat fitrah pada bulan Ramadhan atas orang-orang sebesar 1 sha’ kurma, atau 1 sha’ gandum, wajib atas orang merdeka, hamba sahaya, laki-laki dan perempuan, dari kaum muslimin.” HR. Muslim, Malik, An-Nasai, Al-Hakim, Al-Baihaqi, Ibnu Khuzaimah, dan Ibnu Hibban. [2]

Hadis di atas diriwayatkan pula oleh Al-Bukhari, Ahmad, Abu Dawud, dan At-Tirmidzi dengan sedikit perbedaan redaksi. [3]

Zakat ini dinamakan zakat fitri, zakat Ramadhan, atau zakat Shaum. Meskipun begitu, yang lebih popular di masyarakat kita sebutan zakat fitrah.

Pengertian Zakat Fitrah atau Fitri
A. Pengertian Zakat
Zakat merupakan akar kata (mashdar) zakaa—yazkuu yang berarti suci, berkah, tumbuh, atau berkembang, baik secara inderawi (hissi) maupun maknawi. [4] Semua makna ini digunakan untuk kata zakat dalam Al-Qur’an, misalnya dalam QS. An-Najm: 32, At-Taubah: 103; Abasa: 7; Asy-Syams: 9.
Penggunaan kata itu mengacu pada makna kesucian diri yang diperoleh setelah pembayaran zakat dilaksanakan. Itulah kebaikan hati yang dimiliki seseorang manakala ia tidak bersifat kikir dan tidak mencintai harta kekayaannya semata-mata demi harta itu sendiri.
Sedangkan secara istilah para ulama fikih telah menjelaskan pengertian zakat dalam beragam redaksi, antara lain sebagai berikut:
الزَّكَاةُ هِيَ إِعْطَاءُ جُزْءٍ مَخْصُوْصٍ مِنْ مَالٍ مَخْصُوْصٍ بِوَضْعٍ مَخْصُوْصٍ لِمُسْتَحِقِّهِ
“Zakat adalah mengeluarkan bagian yang khusus dari harta yang khusus dengan ketentuan yang khusus bagi mustahiqnya.” [5]
Dengan perkataan lain, zakat adalah nama bagi sejumlah harta tertentu yang diwajibkan Allah swt. untuk dikeluarkan dan diberikan kepada yang berhak menerimanya dengan persyaratan tertentu pula. Firman Allah Swt.:
خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِمْ بِهَا وَصَلِّ عَلَيْهِمْ إِنَّ صَلَاتَكَ سَكَنٌ لَهُمْ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ
“Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” QS. At-Taubah:103
Maksud zakat membersihkan itu adalah membersihkan mereka dari kekikiran dan cinta yang berlebih-lebihan kepada harta benda. Sedangkan maksud zakat menyucikan itu adalah menyuburkan sifat-sifat kebaikan dalam hati mereka dan mengembangkan harta benda mereka.

B. Pengertian Fitrah atau Fitri
Meski di dalam hadis-hadis Nabi Saw. penyebutan zakat ini lebih populer dengan istilah zakat fitri, namun terkadang digunakan pula istilah zakat fitrah, dan barangkali sebutan ini yang lebih populer di kalangan kita. Untuk mempertegas peristilahan itu barangkali penting pula untuk dianalisa latar belakang pembentukannya.
B.1. Zakat Fitrah
Dalam Al-Quran kata fitrah dalam berbagai bentuknya disebut sebanyak 28 kali, 14 di antaranya berhubungan dengan bumi dan langit. Sisanya berhubungan dengan penciptaan manusia, baik dari sisi pengakuan bahwa penciptanya adalah Allah, maupun dari segi uraian tentang fitrah manusia. Sehubungan dengan itu Allah berfirman:
فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا فِطْرَةَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ
“Maka hadapkanlah dirimu dengan lurus kepada agama itu, yakni fitrah Allah yang telah menciptakan manusia atas fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahuinya.” QS. Ar-Rum: 30
Pada ayat lain diterangkan kronologis peristiwanya sebagai berikut:
وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِنْ بَنِي آدَمَ مِنْ ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَى أَنْفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ قَالُوا بَلَى شَهِدْنَا أَنْ تَقُولُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَذَا غَافِلِينَ
Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah aku ini Tuhanmu?” mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuban kami), Kami menjadi saksi”. (kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya Kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan).“ QS. Al-A’raf:172
Peristiwa ini memberikan gambaran bahwa sejak diciptakan manusia itu telah membawa potensi beragama yang lurus, yaitu bertauhid (mengesakan Allah). Keadaan inilah yang disebut al-fitrah. Sehubungan dengan itu Nabi saw. bersabda:

كُلُّ مَوْلُوْدٍ يُوْلَدُ عَلىَ الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ

“Setiap anak dilahirkan atas fitrahnya, maka kedua orang tuanya yang menjadikan dia Yahudi, Nashrani, atau Majusi…” HR. Al-Bukhari. [6]
Berdasarkan pemaknaan kata Fitrah di atas, maka kita dapat memahami bahwa zakat ini disebut zakat fitrah karena zakat ini merupakan shadaqah (bukti kebenaran) dari badannya dan kefitrahan pada jasadnya. [7]
B.2. Zakat Fitri
Kata fitr makna asalnya robek atau terbelah, sebagaimana dalam ungkapan Fathara Naabul Ba’iir, artinya terbelah tempat taringnya untuk tumbuh. Pemaknaan itu digunakan pula dalam firman Allah Swt.:
إِذَا السَّمَاءُ انْفَطَرَتْ
“Apabila langit terbelah.” QS. Al-Infithar: 1
Berdasarkan pemaknaan kata Fitri di atas, maka kita dapat memahami zakat ini disebut zakat fitri karena seakan-akan orang yang shaum “merobek atau membelah” masa shaumnya dengan makan.
Dengan demikian, zakat ini disebut zakat fitri karena yang menjadi sebab pensyariatannya adalah berbuka dari shaum pada bulan Ramadhan. Penisbatan zakat kepada kata fitri merupakan bentuk penyebutan akibat (Musabbab) dengan menggunakan kata sebab (Sabab). [8]
Penjelasan di atas menunjukkan bahwa zakat fitrah, sama dengan zakat material (maal), memainkan fungsi penting zakat, yaitu mendorong pada tindakan aktual pensucian. Dalam konteks zakat fitri, tindakan pensucian itu berupa pensucian jiwa dan pensucian karakter. Sementara dalam konteks zakat material (maal), tindakan pensucian itu berupa pensucian harta kekayaan. Dengan demikian, kedua jenis zakat ini (fitrah dan harta kekayaan) merupakan “satu paket” ajaran dalam mendorong pensucian seluruh aspek kehidupan manusia.

By Amin Muchtar, sigabah.com/beta

Penjelasan lengkap kriteria dan fungsi zakat silahkan diakses
http://www.sigabah.com/beta/kriteria-dan-fungsi-zakat/

[1]Lihat, Tuhfah al-Ahwadzi Syarh at-Tirmidzi, III:278; Tawdhiih Al-Ahkaam Syarh Bulugh Al-Maraam, III:371.
[2]Lihat, HR. Muslim, Shahih Muslim, II:678, No. hadis 984, Malik, Al-Muwatha, I:284, No. hadis 626, An-Nasai, As-Sunan Al-Kubra, II:25, No. 2282, Al-Hakim, Al-Mustadrak ‘Alas Shahihain, I:569, No. hadis 1494, Al-Baihaqi, As-Sunan Al-Kubra, IV:161, No. hadis 7476, IV:166, No. hadis 7492; Ibnu Khuzaimah, Shahih Ibnu Khuzaimah, IV:83, No. hadis 2399, Ibnu Hibban, Shahih Ibnu Hibban, VIII: 94, No. hadis 3301.
[3]Lihat, Al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari, II:547, No. hadis 1433, Ahmad, Musnad Ahmad, II:137, No. hadis 6214, Abu Dawud, Sunan Abu Dawud, II:112, No. hadis 1611, dan At-Tirmidzi, Sunan At-Tirmidzi, III:61, No. hadis 676.
[4]Lihat, Mufradat Alfazh al-Qur’an, hlm. 380; Mukhtar ash-Shihah, VI: 2368; Lisan al-‘Arab, XIV: 359
[5]Silahkan dibanding dengan definisi zakat versi ulama hanafiyyah sebagaimana disebutkan Ibnu ‘Abidin (Hasyiah Radd al-Mukhtar, II:256), versi ulama Malikiyyah sebagaimana disebutkan Ad-Dasuqi (Hasyiah ad-Dasuqi, hlm. 448), versi ulama Syafi’iyyah sebagaimana disebutkan Zakariya al-Anshari (Asna al-Mathalib fi Syarh Rawd ath-Thalib, I:338), versi ulama Hanabilah sebagaimana disebutkan Ibnu Qudamah (Al-Mughni, II:426).
[6]Lihat, Shahih Al-Bukhari, I:465, No. hadis 1319.
[7]Lihat, Syekh Athiyyah Muhammad Saalim, Syarh Bulugh Al-Maraam, IV: 135.
[8]Lihat, Tawdhiih Al-Ahkaam Syarh Bulugh Al-Maraam, III:371.