Pages

Senin, 15 Oktober 2012

SYARIAT SEPUTAR IEDUL ADHA (BAGIAN II)


Batas Akhir  waktu penyembelihan 

Sebelumnya telah disampaikan sabda Nabi saw. tentang syarat sah waktu penyembelihan hewan qurban, yaitu
مَنْ ذَبَحَ قَبْلَ الصَّلَاةِ فَإِنَّمَا ذَبَحَ لِنَفْسِهِ وَمَنْ ذَبَحَ بَعْدَ الصَّلَاةِ فَقَدْ تَمَّ نُسُكُهُ وَأَصَابَ سُنَّةَ الْمُسْلِمِينَ
”siapa yang menyambelih qurban sebelum salat ied, ia kurban untuk dirinya (bukan ibadah). Dan siapa yang menyembelih setelah salat, telah sempurna ibadahnya dan sesuai sunnah muslimin.” H.r. Al-Bukhari

Dalam hadits tersebut dinyatakan secara mutlak, yaitu tidak di terangkan batas akhir waktu penyembelihan itu, pokoknya setelah salat Iedul Adha. Hal ini memerlukan penjelasan dan pembatasan hingga hari ke berapa yang dimaksud dengan kalimat “setelah shalat Iedul Adha” dalam hadis tersebut.

Sebagaimana telah kita maklumi bahwa hari Iedul Adha disebut hari nahar, sementara tiga hari setelahnya  dinamakan hari-hari tasyriq, yaitu tanggal 11, 12, dan 13 bulan Dzulhijjah (Lihat, Tafsir Al-Maraghi, II:107) Hal itu sebagaimana dijelaskan oleh Nabi ketika beliau melarang shaum pada hari-hari tasyrik. Anas menjelaskan:
نَهَى رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم عَنْ صَوْمِ أَيَّامِ التَّشْرِيقِ الثَّلاثَةِ بَعْدَ يَوْمِ النَّحْرِ
“Rasulullah saw. melarang shaum pada hari-hari tasyrik, yaitu tiga hari setelah hari nahar (iedul adha)” (HR. Abu Ya’la, Al-Musnad, IX:138, No. hadis 4000)

Hal itu ditegaskan pula oleh Ibnu Abbas ketika menafsirkan firman Allah Swt.
وَاذْكُرُوا اللَّهَ فِي أَيَّامٍ مَعْدُوداتٍ
“Dan berdzikirlah (dengan menyebut) Allah dalam beberapa hari yang berbilang.” (QS. Al-Baqarah:203)
Kata Ibnu Abbas
يَعْنِي الأَيَّامَ الْمَعْدُودَاتِ : أَيَّامِ التَّشْرِيقِ ، وَهِيَ ثَلاَثَةُ أَيَّامٍ بَعْدَ النَّحْرِ 
“Yang dimaksud dengan Al-Ayyam Al-Ma’duudaat (beberapa hari yang berbilang) ialah hari-hari tasyriq, yaitu tiga hari setelah hari nahar.” (HR. Ath-Thabari, Tafsir Ath-Thabari, III:550)

Apakah tanggal 13 Dzulhijjah (hari ketiga) dari hari-hari tasyriq tersebut merupakan batas akhir waktu penyembelihan itu? Dalam hal ini ulama berbeda pendapat:
Pertama, batas akhirnya tanggal 12 Dzulhijjah (hari kedua) dari hari-hari tasyriq. Ini pendapat Malik, Abu Hanifah dan para sahabatnya, At-Tsawri dan Ahmad. Pendapat ini merujuk kepada pendapat para shahabat Rasul, yaitu Umar, Ali, Ibnu Umar, Ibnu Abbas, Abu Huraerah, Anas bin Malik, dan Ibnu Mas’ud. (Lihat, Umdah Al-Qari Syarh Shahih Al-Bukhari, XXXI:100)

Ali bin Abu Thalib ketika menafsirkan kalimat Al-Ayyam Al-Ma’duudaat dalam firman Allah Swt.
وَاذْكُرُوا اللَّهَ فِي أَيَّامٍ مَعْدُوداتٍ
“Dan berdzikirlah (dengan menyebut) Allah dalam beberapa hari yang berbilang.” (QS. Al-Baqarah:203)
Ia berpendapat:
ثَلاثَةُ أَيَّامٍ: يَوْمُ الأَضْحَى، وَيومَانِ بَعْدَهُ، اذْبَحْ فِي أَيِّهِنَّ شِئْتَ، وَأَفْضَلُهَا أَوَّلُهَا 
“Yang dimaksud dengan Al-Ayyam Al-Ma’duudaat (beberapa hari yang berbilang) ialah tiga hari: hari Adha (hari nahar) dan dua hari setelah hari nahar. Sembelihlah pada hari mana saja yang kamu kehendaki di antara tiga hari itu, dan hari pertama lebih utama.” (HR. Ibnu Abu Hatim,Tafsir Ibnu Abu Hatim, II:50)

Pendapat senada disampaikan oleh Ibnu Umar:
الأَضْحَى يَوْمَانِ بَعْدَ يَوْمِ الأَضْحَى
“Al-Adhha (menyembelih) adalah dua hari setelah hari Ied.” (HR. Malik. Al-Muwaththa, II : 38, Al-Baihaqi, As-Sunan Al-Kubra, IX:297, No. hadis 19.730) 

Demikian pula Anas bin Malik mengatakan :
الذَّبْحُ بَعْدَ النَّحْرِ يَوْمَانِ 
“Penyembelihan setelah hari nahar adalah dua hari.” (HR. Al-Baihaqi, As-Sunan Al-Kubra, IX:297, No. hadis 19.732) 

Pendapat kedua, batas akhirnya tanggal 13 Dzulhijjah (hari ketiga) dari hari-hari tasyriq. Ini pendapat Mujahid, Atha, Al-Hasan Al-Bishri, Ibrahim An-Nakha’I, Asy-Syafi’I, dan lain-lain. Pendapat ini merujuk kepada pendapat para shahabat Rasul, yaitu Ibnu Umar, Ibnu Zubair, dan Abu Musa. (Lihat, Tafsir Ibnu Abu Hatim, II:51)

Tampaknya perbedaan pendapat ini terjadi disebabkan tidak adanya keterangan yang shahih dari Nabi tentang batas akhir penyembelihan itu.

Adapun hadis yang menunjukkan secara jelas batas akhir penyembelihan hingga tanggal 13 bulan Dzulhijjah, yaitu:
كُلُّ اَيَّامِ التَّشْرِيْقِ ذَبْحٌ
“Semua hari-hari tasyrik adalah hari penyembelihan.”

diperselisihkan keshahihannya oleh para ulama. Sebagian ulama menshahihkan hadis itu, dan sebagian ulama lainnya mendhaifkannya. Di antara alasan ulama yang mendhaifkan hadis tersebut, karena hadis dari Jubair bin Muth’im di atas, semua sanadnya melalui seorang rawi bernama Sulaiman bin Musa. Al-Bukhari berkata :
مُنْكَرُ الحَدِيثِ اَنَا لاَ أَرْوِي عَنْهُ شَيْئًا رَوَى سُلَيْمَانُ بْنُ مُوسَى أَحَادِيثَ (عَامَتُهَا مَنَاكِيْرُ)
“Munkarul hadis, Aku tidak pernah meriwayatkan satu hadis pun darinya. Sulaiman bin Musa meriwayatkan beberapa hadis, yang seluruhnya munkar.” (Lihat, Ta’liq Tahdzib Al-Kamal, XII:97)

قَالَ البُخَارِي :كُلُّ مَنْ قُلْتُ فِيْهِ مُنْكَرَ الْحَدِيْثِ فَلاَ تَحِلُّ الرِّوَايَةُ عَنْهُ
 Al-Bukhari berkata, “Setiap orang yang aku katakan Munkarul Hadis, maka tidak halal riwayat darinya.” (Lihat, Manhaj An-Naqd, hal. 112)

Sedangkan hadis lain yang serupa dengan hadis Jubair bin Muth’im yang diriwayatkan dari Abu Said Al-Khudriyi juga dla’if, karena dalam sanadnya terdapat rawi bernama Muawiyyah bin Yahya :
قَالَ السَّعْدِى : مُعَاوِيَةُ بْنُ يَحْيَ الصَّدَفِى ذَاهِبُ الْحَدِيْثِ
As-Sa’di berkata, “Muawiyah bin Yahya ash-Shadafi pemalsu hadis.” (Lihat, Al-Kamil fi Dhu’afa Ar-Rijal, VI:399)

قَالَ ابْنُ حِبَّانَ : كَانَ يَسْرِقُ الْكُتُبَ وَيُحَدِّثُ بِهَا ثُمَّ تَغَيَّرَ حِفْظُهُ
Ibnu Hiban berkata, “Dia mencuri beberapa kitab dan mengajarkannya, kemudian berubah hapalannya.” (Lihat, Mizan Al-I’tidal, IV:138)

Pembagian Daging Qurban

Firman Allah Swt.
لِيَشْهَدُوا مَنَافِعَ لَهُمْ وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فِي أَيَّامٍ مَعْلُومَاتٍ عَلَى مَا رَزَقَهُمْ مِنْ بَهِيمَةِ الْأَنْعَامِ فَكُلُوا مِنْهَا وَأَطْعِمُوا الْبَائِسَ الْفَقِيرَ
“supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan atas rezki yang Allah telah berikan kepada mereka berupa binatang ternak. Maka makanlah sebahagian daripadanya dan (sebahagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara (sangat fakir).” QS.Al-Hajj:28

وَالْبُدْنَ جَعَلْنَاهَا لَكُمْ مِنْ شَعَائِرِ اللَّهِ لَكُمْ فِيهَا خَيْرٌ فَاذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ عَلَيْهَا صَوَافَّ فَإِذَا وَجَبَتْ جُنُوبُهَا فَكُلُوا مِنْهَا وَأَطْعِمُوا الْقَانِعَ وَالْمُعْتَرَّ كَذَلِكَ سَخَّرْنَاهَا لَكُمْ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
“Dan telah Kami jadikan untuk kamu unta-unta itu sebahagian dari syi'ar Allah, kamu memperoleh kebaikan yang banyak padanya, maka sebutlah olehmu nama Allah ketika kamu menyembelihnya dalam keadaan berdiri (dan telah terikat). Kemudian apabila telah roboh (mati), maka makanlah sebahagiannya dan beri makanlah orang yang rela dengan apa yang ada padanya (yang tidak meminta-minta) dan orang yang meminta. Demikianlah Kami telah menundukkan untua-unta itu kepada kamu, mudah-mudahan kamu bersyukur.” QS.Al-Hajj:36

Pada kedua ayat di atas terdapat dua fi’il amr (kata perintah) yang ditujukan kepada qurbani (orang yang berkurban)

Pertama, Kuluu (makanlah)

Pada dasarnya, perintah ”makan” menunjukkan lil ibaahah, maknanya boleh memakan, bukan lil wujuub (wajib memakan). Jika demikian halnya, kenapa makan mesti disebut-sebut, bahkan dengan menggunakan bentuk kata perintah ”kuluu” terkesan dianjurkan, padahal tanpa anjuran pun makan itu sudah menjadi kebutuhan pokok manusia? Hemat kami, meski menunjukkan lil ibaahah, penggunaan bentuk kata perintah ”kuluu”, hendak menunjukkan bahwa makan bagi umat Islam bukan semata-mata untuk memenuhi rasa lapar, tapi memiliki nilai-nilai ibadah, artinya makan bukan sebagai tujuan namun sebagai sarana, seperti dalam ungkapan “Makan untuk hidup” bukan “hidup untuk makan”.

Sehubungan dengan itu, dalam konteks kurban, kalimat kuluu (makanlah) perlu diungkap bahkan ditekankan karena ada misi yang amat mulia, yaitu agar kaum muslimin bersikap mukhaalafah (sengaja berbeda, menyalahi) kebiasaan orang jahiliyyah. Di mana mereka yang berkurban tidak mau bahkan mengharamkan untuk memakan daging kurban mereka. Karena itu tidak mengherankan apabila ada sebagian ulama yang menyatakan bahwa perintah makan pada ayat ini menunjukkan lin nadbi, artinya makan daging kurban itu hukumnya mandub (disunatkan) bagi qurbani. (Lihat, At-Tafsir Al-Munir, XVII:196)

Kedua, ‘Ath’imuu (berilah makan atau bagikanlah)

Perintah ”membagikan daging kurban” pada ayat ini menunjukkan lin nadbi, maknanya membagikan daging kurban itu hukumnya mandub (disunatkan) bagi qurbani, bukan lil wujuub (wajib memberi).

Selain menunjukkan status hukum dari kedua aktifitas itu, ”perintah” itu menunjukkan pula kaifiyat (mekanisme) pengelolaan hewan qurban setelah disembelih

Mustahiq Qurban

Kedua ayat di atas dengan jelas menerangkan bahwa mustahiq (yang berhaq) atas daging qurban itu terbagi atas dua golongan:
Pertama, Qurbani (yang berkurban). Haknya diungkap dengan kalimat
فَكُلُوا مِنْهَا
Kedua, Non Qurbani (yang tidak berkurban). Haknya diungkap dengan kalimat

وَأَطْعِمُوا الْبَائِسَ الْفَقِيرَ
Dalam surah Al-Hajj:28. Atau dengan kalimat

وَأَطْعِمُوا الْقَانِعَ وَالْمُعْتَرَّ
Dalam surah Al-Hajj:36

Dalam surah Al-Hajj:28, kategori Non Qurbani diungkap dengan kalimat Al-Baa`is Al-Faqiir. Sementara dalam surah Al-Hajj:36 Non Qurbani diungkap dengan kalimat Al-Qani wa Al-Mu’tarr. Apakah kedua ayat ini menunjukkan kategori mustahiq yang sama? Untuk itu, kita perlu memperjelas kriteria Non Qurbani yang dimaksud.

Kriteria Al-Baa`is Al-Faqiir  

Kata Imam Al-Maraghi:
وَالْبَائِسُ : الَّذِي أَصَابَهُ الْبُؤْسُ وَالشَّدَةُ
“Al-Baa`is ialah orang yang mendapat kesengsaraan dan kesusahan.” (Lihat, Tafsir Al-Maraghi, XVII:106)

Dan kata Imam Al-Qurthubi, “Kriteria Al-Baa`is dapat digunakan pula bagi orang yang tertimpa musibah, meskipun dia bukan orang fakir.” (Lihat, Tafsir Al-Qurthubi, XII:49)

Menurut Imam Al-Maraghi, maka firman Allah Swt.
(فَكُلُوا مِنْها وَأَطْعِمُوا الْبائِسَ الْفَقِيرَ)
“berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara (sangat fakir)”
أَيْ فَاذْكُرُوا اسْمَ اللّهِ عَلَى ضَحَايَاكُمْ وَكُلُوْا مِنْ لُحُوْمِهَا وَأَطْعِمُوْا ذَوِي الْحَاجَةِ الْفُقَرَاءِ الَّذِيْنَ مَسَّهُمُ الضَرُّ وَالْبُؤْسُ
Artinya, sembelihlah hewan qurban itu dengan menyebut nama Allah, dan makanlah sebagian darinya dan berilah makan orang-orang yang membutuhkan, yaitu orang-orang fakir yang mendapatkan kesengsaran dan kesusahan.” (Lihat, Tafsir Al-Maraghi, XVII:108)

Lebih jauh Imam Asy-Syawkani menjelaskan fungsi penggunaan kata Al-faqiir yang menyertai kata  “Al-Baa`is.  Kata Imam Asy-Syawkani:
الْبَائِسُ: ذُوْ الْبُؤْسِ وَهُوَ شِدَّةُ الْفَقْرِ فَذُكِرَ الْفَقِيْرُ بَعْدَهُ لِمَزِيْدِ الإِيْضَاحِ
“Al-Baa`is ialah orang yang sengsara, yaitu sangat fakir. Maka kata Al-faqiir disebut setelah kata Al-Baa`is untuk menambah penjelasan.” (Lihat, Tafsir Fath Al-Qadir, V:110)

Penjelasan di atas menunjukkan bahwa mustahiq Non Qurbani versi surah Al-Hajj:28 hanya satu golongan dengan kategori Al-Baa`is Al-Faqiir, yaitu orang yang sangat fakir, baik karena penyakit, bencana, maupun kehabisan bekal dalam perjalanan. (Lihat, Zahrah At-Tafasir, IX:4975)

Kriteria Al-Qani’ wa Al-Mu’tarr

Ar-Raghib Al-Asfahani menjelaskan:
Al-Qani’, yaitu orang yang ridha dengan sesuatu yang dimilikinya dan tidak pernah meminta. Meskipun suatu saat ia terpaksa harus meminta untuk memenuhi kebutuhannya, ia tidak pernah memaksa.
Al-Mu’tarr, yaitu orang yang berani meminta untuk memenuhi kebutuhannya, bahkan terkadang meminta secara memaksa. (Lihat, Al-Mufradat fi Gharib Al-Quran, hal. 429 dan 340)

Penjelasan Ar-Raghib di atas sesuai dengan penjelasan Ibnu Abbas. (HR. Ibnu Abu Hatim, Tafsir Ibnu Abu Hatim, IX:383)

Penjelasan di atas menunjukkan bahwa mustahiq Non Qurbani versi surah Al-Hajj:36 terbagi menjadi dua golongan dengan kategori Al-Qani’ dan Al-Mu’tarr. Kata Ibnu Asyur, kata Al-Mu’tarr dihubungkan—dengan huruf wa (dan)—pada kata Al-Qani’ untuk menunjukkan perbedaan makna (kriteria) di antara keduanya. Hal itu berbeda dengan penyebutan Al-Baa`is Al-Faqiir di mana kedua kata itu tidak dipisah dengan huruf wa (dan). (Lihat, At-Tahrir wa At-Tanwir, IX:276)

Berbagai penjelasan di atas menunjukkan bahwa mustahiq Non Qurbani versi surah Al-Hajj:28 & 36 terbagi menjadi tiga golongan dengan kategori
(1)   Al-Baa`is Al-Faqiir, yaitu orang yang sangat fakir, baik karena penyakit, bencana, maupun kehabisan bekal dalam perjalanan.
(2)   Al-Qani’, baik miskin maupun tidak.
(3)  Al-Mu’tarr, baik miskin maupun tidak.

Kategorisasi ini sesuai dengan praktek pembagian daging qurban yang dilakukan oleh Nabi, juga petunjuk beliau kepada orang yang diberi amanat mengurusnya, sebagaimana diterangkan dalam riwayat sebagai berikut:
عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَانِ بْنِ أَبِي لَيْلَى ، قَالَ : سَمِعْتُ عَلِيَّ بْنَ أَبِي طَالِبٍ يَقُولُ أَنَّ نَبِيَّ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَمَرَهُ أَنْ يَقُومَ عَلَى بُدْنِهِ وَأَمَرَهُ أَنْ يَقْسِمَ بُدْنَهُ كُلَّهَا لُحُومَهَا وَجُلُودَهَا وَجِلاَلَهَا فِي الْمَسَاكِينِ وَلاَ يُعْطِيَ فِي جِزَارَتِهَا مِنْهَا شَيْئًا.
Dari Abdurrahman bin Abu Laila, ia berkata, ”Saya mendengar Ali bin Abu Thalib berkata, ’Sesungguhnya Nabi saw. menyuruhnya untuk mengurusi penyembelihan unta beliau (sebagai hewan kurban) dan menyuruhnya agar dia membagi-bagikan seluruh bagiannya (kurbannya) baik berupa daging, kulit maupun pelananya kepada orang-orang miskin. Dan dagingnya tidak boleh diberikan kepada tukang potong sedikitpun sebagai upah.” (HR. Muslim, Shahih Muslim, II:954, No. hadis 1317, An-Nasai, As-Sunan Al-Kubra, II:455, No. hadis 4143, Al-Baihaqi, As-Sunan Al-Kubra, V:241, No. hadis 10.022, Abd bin Humaid, Musnad Abd bin Humaid, I:51, No. hadis 64)

Dalam riwayat lain dengan redaksi:
أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى الله عَليْهِ وسَلَّمَ أَمَرَهُ أَنْ يَقْسِمَ بُدْنَهُ كُلَّهَا لُحُومَهَا وَجُلُودَهَا وَجِلاَلَهَا لِلْمَسَاكِينِ
“bahwa Rasulullah saw. menyuruhnya agar dia membagi-bagikan seluruh bagiannya (kurbannya) baik berupa daging, kulit maupun pelananya kepada orang-orang miskin." (HR. Ibnu Majah, Sunan Ibnu Majah, II:1054, No. hadis 3157, Ibnu Khuzaimah, Shahih Ibnu Khuzaimah, IV:295, No. hadis 2920, Ibnu Hibban, Shahih Ibnu Hibban, IX:330, No. hadis 4022)

Pada hadis di atas, mustahiq Non Qurbani yang disebutkan hanya orang miskin. Meski demikian, penyebutan itu tidak berarti pengkhususan, karena dalam keterangan lainnya disebutkan sebagai berikut:

 عَنْ عَلِيٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ لَمَّا نَحَرَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بُدْنَهُ نَحَرَ بِيَدِهِ ثَلَاثِينَ وَأَمَرَنِي فَنَحَرْتُ سَائِرَهَا وَقَالَ اقْسِمْ لُحُومَهَا بَيْنَ النَّاسِ وَجُلُودَهَا وَجِلَالَهَا وَلَا تُعْطِيَنَّ جَازِرًا مِنْهَا شَيْئًا
Dari Ali Ra, dia berkata, "Tatkala Rasulullah saw. menyembelih untanya, beliau menyembelih dengan tangannya tiga puluh ekor, lalu beliau menyuruhku untuk menyembelih semuanya, dan beliau bersabda, "Bagikanlah kepada orang-orang, dagingnya, kulitnya dan pelananya, dan jangan kamu beri orang yang menyembelih (penjagal) sedikitpun." (HR. Ahmad, Musnad Ahmad, I:160, No. hadis 1374)  Dalam riwayat lain diterangkan oleh Ibnu Abbas
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ أَهْدَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي حَجَّةِ الْوَدَاعِ مِائَةَ بَدَنَةٍ نَحَرَ مِنْهَا ثَلَاثِينَ بَدَنَةً بِيَدِهِ ثُمَّ أَمَرَ عَلِيًّا فَنَحَرَ مَا بَقِيَ مِنْهَا وَقَالَ اقْسِمْ لُحُومَهَا وَجِلَالَهَا وَجُلُودَهَا بَيْنَ النَّاسِ وَلَا تُعْطِيَنَّ جَزَّارًا مِنْهَا شَيْئًا وَخُذْ لَنَا مِنْ كُلِّ بَعِيرٍ حُذْيَةً مِنْ لَحْمٍ ثُمَّ اجْعَلْهَا فِي قِدْرٍ وَاحِدَةٍ حَتَّى نَأْكُلَ مِنْ لَحْمِهَا وَنَحْسُوَ مِنْ مَرَقِهَا فَفَعَلَ
Dari Ibnu Abbas, ia berkata, “Rasulullah saw. berkurban dengan seratus ekor unta ketika haji wada', beliau menyembelihnya dengan tangannya sendiri sebanyak tiga puluh ekor unta, kemudian beliau menyuruh Ali, maka dia menyembelih unta yang tersisa. Beliau bersabda, ‘Bagikan dagingnya, pelananya dan kulitnya kepada orang-orang dan jangan engkau memberikan sedikit pun kepada tukang potongnya. Ambilkan untuk kami sepotong daging dari setiap ekor itu, kemudian masukkan ke dalam satu periuk sehingga kami memakan dari dagingnya dan minum dari kuahnya." Maka Ali pun melaksanakannya. (HR. Ahmad, Musnad Ahmad, I:260, No. hadis 2359)
Dalam riwayat lain diterangkan oleh Abdullah bin Qurth
عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ قُرْطٍ عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ : إِنَّ أَعْظَمَ الأَيَّامِ عِنْدَ اللهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى يَوْمُ النَّحْرِ  ثُمَّ يَوْمُ الْقَرِّ قَالَ عِيسَى قَالَ ثَوْرٌ : وَهُوَ الْيَوْمُ الثَّانِي وَقَالَ : وَقُرِّبَ لِرَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم بَدَنَاتٌ خَمْسٌ أَوْ سِتٌّ فَطَفِقْنَ يَزْدَلِفْنَ إِلَيْهِ بِأَيَّتِهِنَّ يَبْدَأُ فَلَمَّا وَجَبَتْ جُنُوبُهَا قَالَ : فَتَكَلَّمَ بِكَلِمَةٍ خَفِيَّةٍ لَمْ أَفْهَمْهَا فَقُلْتُ : مَا قَالَ ؟ قَالَ : مَنْ شَاءَ اقْتَطَعَ
Dari Abdullah bin Qurth, dari Nabi saw., beliau bersabda, "Sesungguhnya hari yang teragung di sisi Allah tabaraka wa ta'ala adalah hari Nahr (Hari Raya Kurban), kemudian hari setelah hari Nahr." Isa berkata; Tsaur berkata, “Yaitu hari kedua.” Ia berkata, “Dan telah didekatkan kepada Rasulullah saw. lima atau enam ekor unta. Unta-unta tersebut mendekat kepadanya, beliau memulai dengan unta yang manapun. Kemudian tatkala telah terjatuh beliau mengucapkan sebuah kalimat yang samar, saya tidak memahaminya. Lalu saya katakana, “Apakah yang beliau katakan?” Ia mengatakan, "Barang siapa yang menginginkan maka boleh ia mengambil sepotong darinya." (HR. Ahmad, Musnad Ahmad, IV:350, No. 19.098, Abu Dawud, Sunan Abu Dawud, II:148, No. hadis 1765, Al-Baihaqi, As-Sunan Al-Kubra, V:237, No. hadis 9994, Al-Hakim, Al-Mustadrak ‘Ala Ash-Shahihain, IV:246, No. hadis 7522, Ibnu Khuzaimah, Shahih Ibnu Khuzaimah, IV:294, No. hadis 2917, Ath-Thabrani, Al-Mu’jam Al-Awsath, III:44, No. hadis 2421)

Hadis-hadis di atas menunjukkan bahwa Nabi saw. tidak membatasi mustahiq Qurban Non Qurbani itu hanya faqir-miskin, bahkan dengan kalimat:
مَنْ شَاءَ اقْتَطَعَ
“Barang siapa yang menginginkan maka boleh ia mengambil sepotong darinya." Menunjukkan bahwa siapa pun pada dasarnya berhak memperoleh daging qurban.

Ukuran Hak Mustahiq

Berdasarkan analisa sejarah, “perintah” yang ditujukan kepada qurbani (orang yang berkurban), yaitu:
فَكُلُوا مِنْهَا وَأَطْعِمُوا الْبَائِسَ الْفَقِيرَ
”Maka makanlah sebahagian daripadanya dan (sebahagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara (sangat fakir).” QS.Al-Hajj:28
فَكُلُوا مِنْهَا وَأَطْعِمُوا الْقَانِعَ وَالْمُعْتَرَّ
“Maka makanlah sebahagiannya dan beri makanlah orang yang rela dengan apa yang ada padanya (yang tidak meminta-minta) dan orang yang meminta.” QS.Al-Hajj:36

“pernah mengalami” perubahan sejalan dengan kondisi social-ekonomi masyarakat muslim ketika itu. Ketika disyariatkan ibadah qurban pada tahun ke-2 Hijrah, keadaan perekonomian umat Islam masih ”elit” (ekonomi sulit). Ketika itu, sebagai seorang pemimpin Rasulullah saw. menetapkan satu aturan bahwa setiap orang yang berkurban tidak boleh mengambil daging kurbannya melebihi keperluan tiga hari. Hal itu dilakukan oleh Rasul mengingat  jumlah penerima jauh lebih banyak dibanding orang yang berkurban. Namun aturan ini tidak berlangsung lama, karena di tahun berikutnya (tahun ke-3 H), setelah Rasulullah saw. mampu membangkitkan perekonomian kaum muslimin di Madinah, sehingga jumlah yang berkurban meningkat lebih banyak dari tahun sebelumnya, maka beliau membebaskan bagi setiap orang yang berkurban mengambil sebagiannya sesuai dengan keperluannya. Demikian itu sebagaimana diterangkan dalam beberapa hadis sebagai berikut:
عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَابِسٍ عَنْ أَبِيهِ قَالَ قُلْتُ لِعَائِشَةَ أَنَهَى النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ تُؤْكَلَ لُحُومُ الْأَضَاحِيِّ فَوْقَ ثَلَاثٍ قَالَتْ مَا فَعَلَهُ إِلَّا فِي عَامٍ جَاعَ النَّاسُ فِيهِ فَأَرَادَ أَنْ يُطْعِمَ الْغَنِيُّ الْفَقِيرَ وَإِنْ كُنَّا لَنَرْفَعُ الْكُرَاعَ فَنَأْكُلُهُ بَعْدَ خَمْسَ عَشْرَةَ قِيلَ مَا اضْطَرَّكُمْ إِلَيْهِ فَضَحِكَتْ قَالَتْ مَا شَبِعَ آلُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ خُبْزِ بُرٍّ مَأْدُومٍ ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ حَتَّى لَحِقَ بِاللَّهِ
Dari Abdurrahman bin Abis, dari bapaknya ia berkata, "Aku bertanya kepada Aisyah, 'Apakah Nabi saw. melarang untuk makan daging sembelihan hari raya Adlha lebih dari tiga hari?' Aisyah menjawab, "Beliau tidak melakukan itu kecuali pada tahun paceklik (manusia kelaparan), sehingga beliau berharap orang kaya memberi makan kepada yang miskin. Dan sungguh, kami biasa makan lengan kambing setelah lima belas hari." Lalu dikatakan, “Apa yang mendorong kalian melakukan itu?” Aisyah tertawa, lalu ia berkata, “Keluarga Muhammad saw. tidak pernah merasa kenyang karena makan roti atau gandum lebih dari tiga hari hingga beliau bertemu dengan Allah.” (HR. Al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari, V:2068, No. hadis 5107, Ahmad, Musnad Ahmad, VI:187, No. hadis 25.581, An-Nasai, Sunan An-Nasai, VII:235, No. hadis 4432) عَنْ سُلَيْمَانَ بْنِ بُرَيْدَةَ عَنْ أَبِيهِ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كُنْتُ نَهَيْتُكُمْ عَنْ لُحُومِ الْأَضَاحِيِّ فَوْقَ ثَلَاثٍ لِيَتَّسِعَ ذُو الطَّوْلِ عَلَى مَنْ لَا طَوْلَ لَهُ فَكُلُوا مَا بَدَا لَكُمْ وَأَطْعِمُوا وَادَّخِرُوا قَالَ وَفِي الْبَاب عَنْ ابْنِ مَسْعُودٍ وَعَائِشَةَ وَنُبَيْشَةَ وَأَبِي سَعِيدٍ وَقَتَادَةَ بْنِ النُّعْمَانِ وَأَنَسٍ وَأُمِّ سَلَمَةَ قَالَ أَبُو عِيسَى حَدِيثُ بُرَيْدَةَ حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ وَالْعَمَلُ عَلَى هَذَا عِنْدَ أَهْلِ الْعِلْمِ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَغَيْرِهِمْ
Dari Sulaiman bin Buraidah dari Bapaknya, ia berkata, "Rasulullah saw. bersabda, ‘Aku pernah melarang kalian makan daging sembelihan lebih dari tiga hari, agar orang-orang yang berkurban bisa memberikan kepada orang yang tidak bisa berkurban. Maka, sekarang makanlah daging tersebut, kalian bisa berikan kepada orang lain dan kalian simpan." HR. At-Tirmidzi, Ia berkata, "Dalam bab ini ada hadis serupa dari Ibnu Masud, Aisyah, Nubaisyah, Abu Sa'id, Qatadah bin An-Nu'man, Anas dan Ummu Salamah." Ia berkata, "Hadis Buraidah derajatnya hasan shahih, dan menjadi pedoman amal menurut para ulama` dari kalangan sahabat Nabi saw. dan selain mereka." (Sunan At-Tirmidzi, IV:94, No. hadis 1510)
Hadis di atas diriwayatkan pula oleh Al-Baihaqi (As-Sunan Al-Kubra, VIII:311, No. hadis 17.263)

عَنْ عَمْرَةَ بِنْتِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ الضَّحِيَّةُ كُنَّا نُمَلِّحُ مِنْهُ فَنَقْدَمُ بِهِ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالْمَدِينَةِ فَقَالَ لَا تَأْكُلُوا إِلَّا ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ وَلَيْسَتْ بِعَزِيمَةٍ وَلَكِنْ أَرَادَ أَنْ يُطْعِمَ مِنْهُ وَاللَّهُ أَعْلَمُDari 'Amrah binti Abdurrahman, dari Aisyah ra. dia berkata, “Kami pernah menggarami daging kurban, lalu kami menyerahkannya kepada Nabi saw. di Madinah, maka beliau bersabda, ‘Janganlah kalian memakannya jika melebihi tiga hari, hal ini bukan karena keharusan, akan tetapi aku hanya hendak membagikannya kepada yang lain." Wallahu a'lam.” (HR. Al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari, V:2116, No. hadis 5250, Al-Baihaqi, As-Sunan Al-Kubra, IX:293, No. hadis 19.002)
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ وَاقِدٍ قَالَ نَهَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ أَكْلِ لُحُومِ الضَّحَايَا بَعْدَ ثَلَاثٍ قَالَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ أَبِي بَكْرٍ فَذَكَرْتُ ذَلِكَ لِعَمْرَةَ فَقَالَتْ صَدَقَ سَمِعْتُ عَائِشَةَ تَقُولُ دَفَّ أَهْلُ أَبْيَاتٍ مِنْ أَهْلِ الْبَادِيَةِ حَضْرَةَ الْأَضْحَى زَمَنَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ادَّخِرُوا ثَلَاثًا ثُمَّ تَصَدَّقُوا بِمَا بَقِيَ فَلَمَّا كَانَ بَعْدَ ذَلِكَ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ النَّاسَ يَتَّخِذُونَ الْأَسْقِيَةَ مِنْ ضَحَايَاهُمْ وَيَجْمُلُونَ مِنْهَا الْوَدَكَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَمَا ذَاكَ قَالُوا نَهَيْتَ أَنْ تُؤْكَلَ لُحُومُ الضَّحَايَا بَعْدَ ثَلَاثٍ فَقَالَ إِنَّمَا نَهَيْتُكُمْ مِنْ أَجْلِ الدَّافَّةِ الَّتِي دَفَّتْ فَكُلُوا وَادَّخِرُوا وَتَصَدَّقُوا
Dari Abdullah bin Waqid, dia berkata, "Rasulullah saw. melarang makan daging binatang kurban setelah tiga hari." Abdullah bin Abu Bakar berkata, "kemudian saya memberitahukan hal itu kepada 'Amrah, lantas 'Amrah berkata, "Dia benar, saya juga pernah mendengar 'Aisyah berkata, "Para penduduk kampung mempercepat langkahnya dan bersegera menghadiri iedul Adhha di zaman Rasulullah saw, maka Rasulullah saw, bersabda, "Simpanlah (daging kurban tersebut) hingga tiga hari, setelah itu sedekahkanlah yang masih tersisa." Setelah hal itu berlalu, orang-orang berkata, "Wahai Rasulullah, sesungguhnya orang-orang memanfaatkan dari kurban, mereka mencairkan lemaknya dan darinya mereka membuat geriba." Beliau bersabda, "Ada apa dengan hal itu?" Mereka berkata, "Engkau telah melarang memakan daging kurban setelah lewat tiga hari." Beliau bersabda, "Sesungguhnya saya melarang sekelompok orang yang datang terburu-buru, oleh karena itu makan, simpan dan bersedekahlah." (HR. Muslim, Shahih Muslim, III:1561, No. hadis 1971, Ishaq bin Rahawaih, Musnad Ishaq bin Rahawaih, II:443, No. hadis 1012)

عَنْ أَيُّوبَ عَنْ أَبِي قِلَابَةَ وَعَنْ ابْنِ سِيرِينَ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ كِلَاهُمَا يَرْوِيهِ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَحَدُهُمَا قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنِّي كُنْتُ حَرَّمْتُ لُحُومَ الْأَضَاحِيِّ فَوْقَ ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ فَكُلُوا وَتَزَوَّدُوا وَادَّخِرُوا مَا شِئْتُمْ وَقَالَ الْآخَرُ كُلُوا وَأَطْعِمُوا وَادَّخِرُوا مَا شِئْتُمْ
Dari Ayyub dari Abu Qilabah dan dari Ibnu Sirin, dari Abu Sa'id Al-Khudriy. Keduanya meriwayatkannya dari Nabi saw., salah seorang dari keduanya berkata, “Rasulullah saw. bersabda, ‘Sesungguhnya aku telah mengharamkan bagi kalian daging sembelihan hewan kurban di atas tiga hari, sekarang makan dan berbekallah dengannya serta simpanlah sekehendak kalian.’ sedang yang lainnya menyebutkan, "hendaklah kalian makan, berikan kepada orang lain serta simpanlah sekehendak kalian." (HR. Ahmad, Musnad Ahmad, III:57, No. hadis 11.560)

Dalam riwayat Salamah bin Al-Akwa’ lebih ditegaskan lagi dengan redaksi:
 عَنْ سَلَمَةَ بْنِ الْأَكْوَعِ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ ضَحَّى مِنْكُمْ فَلَا يُصْبِحَنَّ بَعْدَ ثَالِثَةٍ وَبَقِيَ فِي بَيْتِهِ مِنْهُ شَيْءٌ فَلَمَّا كَانَ الْعَامُ الْمُقْبِلُ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ نَفْعَلُ كَمَا فَعَلْنَا عَامَ الْمَاضِي قَالَ كُلُوا وَأَطْعِمُوا وَادَّخِرُوا فَإِنَّ ذَلِكَ الْعَامَ كَانَ بِالنَّاسِ جَهْدٌ فَأَرَدْتُ أَنْ تُعِينُوا فِيهَا Dari Salamah bin Al-Akwa', dia berkata, “Nabi saw. bersabda, "Siapa saja di antara kalian yang berkurban, janganlah menyisakan daging kurban di rumahnya melebihi tiga hari." Pada tahun berikutnya orang-orang bertanya, "Wahai Rasulullah, apakah kami harus melakukan sebagaimana yang kami lakukan pada tahun lalu?" Beliau bersabda, "Makanlah daging kurban tersebut dan bagilah sebagiannya kepada orang lain serta simpanlah sebagian yang lain, sebab tahun lalu orang-orang dalam keadaan kesusahan, oleh karena itu saya bermaksud supaya kalian dapat membantu mereka." (HR. Al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari, V:2115, No. hadis 5249, Ibnu Hibban, Shahih Ibnu Hibban, XIII:253, No. hadis 5248, Al-Baihaqi, As-Sunan Al-Kubra, IX:292, No. hadis 19.000)

Pada tahun ke-10 H, ketetapan itu diungkapkan kembali oleh Nabi saw. sewaktu haji wada.
عَنْ قَتَادَةَ بْنِ النُّعْمَانِ اَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَامَ (فِى حَجَّةِ الْوَدَاعِ) فَقَالَ : إِنِّى كُنْتُ أَمَرَتُكُمْ اَنْ لاَ تَأْكُلُوا اْلأَضَاحِيَ فَوْقَ ثَلاَثَةِ أَيَّامٍ لِتَسَعَكُمْ وَإِنِّى أُحِلُّهُ لَكُمْ فَكُلُوا مِنْهُ مَا شِئْتُمْ وَلاَ تَبِيْعُوا لُحُومَ الْهَدْيَ وَاْلأَضَاحِي فَكُلُوا وَتَصَدَّقُوا وَاسْتَمْتِعُوا بِجُلُوْدِهَا وَلاَ تَبِيْعُواهَا وَاِنْ أُطْعِمْتُمْ مِنْ لُحُوْمِهَا فَكُلُوا إِنْ شِئْتُمْ
Dari Qatadah bin Nu'man, "Bahwa sesungguhnya Nabi saw. berdiri (diwaktu haji wada'), maka beliau bersabda, "Kami pernah memerintahkan kamu agar tidak memakan daging kurban lebih dari tiga hari, supaya daging itu merata diterima , dan sekarang sungguh aku membolehkannya, maka silahkan makan sekehendak kamu, dan janganlah menjual daging hadyu atau kurban, makanlah, sedekahkanlah, dan manfaatkanlah kulitnya, dan jangan dijual, kalau kamu diberi daging kurban, maka makanlah jika kamu mau." (HR. Ahmad, Musnad Ahmad, IV:15, No. hadis 16.311, 16.312)

Dalam hadis-hadis itu tampak jelas hak-hak mustahiq (qurbani dan non qurbani) yang dibedakan dengan kalimat
كُلُوا وَأَطْعِمُوا وَادَّخِرُوا
“Makanlah, bagikanlah, dan simpanlah.” Redaksi Salamah
فَكُلُوا وَتَصَدَّقُوا وَاسْتَمْتِعُوا بِجُلُوْدِهَا
“Makanlah, sedekahkanlah, dan manfaatkanlah kulitnya.” Redaksi Qatadah
فَكُلُوا وَادَّخِرُوا وَتَصَدَّقُوا
“Maka makanlah, simpanlah, dan bagikanlah” Redaksi Abdullah bin Waqid.

Meski demikian, baik dalam hadis-hadis itu maupun pada kedua ayat di atas, tidak dijelaskan ukuran yang pasti berapa banyak daging yang boleh dimakan dan dianjurkan untuk dibagikan itu. Memang ada sebagian ulama yang berpendapat bahwa distribusi daging kurban itu dibagi 3 bagian: 1/3 untuk qurbani, 1/3 sebagai hadiah untuk shahabat dan kerabat qurbani, 1/3 disadaqahkan kepada fakir-miskin. Namun pendapat ini tidak berdasarkan dalil sama sekali.

Dengan demikian, maka ukuran daging yang boleh dimakan dan dibagikan itu tergantung kewenangan qurbani, bila ia yang mengurus langsung hewannya. Namun bila ia menitipkan pengurusan hewannya kepada panitia, dan ia menyerahkan kewenangan sepenuhnya kepada panitia, maka ukuran itu tergantung kewenangan panitia, sebagaimana dijelaskan dalam hadis-hadis di atas tentang perintah Nabi saw. kepada Ali bin Abu Thalib. Dalam hadis-hadis itu diterangkan dengan kalimat sebagai berikut:
وَأَمَرَهُ أَنْ يَقْسِمَ بُدْنَهُ كُلَّهَا لُحُومَهَا وَجُلُودَهَا وَجِلاَلَهَا فِي الْمَسَاكِينِ وَلاَ يُعْطِيَ فِي جِزَارَتِهَا مِنْهَا شَيْئًا.
”Dan beliau menyuruhnya (Ali) agar dia membagi-bagikan seluruh bagiannya (kurbannya) baik berupa daging, kulit maupun pelananya kepada orang-orang miskin. Dan dagingnya tidak boleh diberikan kepada tukang potong sedikitpun sebagai upah.” (HR. Muslim, Shahih Muslim, II:954, No. hadis 1317, An-Nasai, As-Sunan Al-Kubra, II:455, No. hadis 4143, Al-Baihaqi, As-Sunan Al-Kubra, V:241, No. hadis 10.022, Abd bin Humaid, Musnad Abd bin Humaid, I:51, No. hadis 64)

Dalam riwayat lain dengan redaksi:
أَمَرَهُ أَنْ يَقْسِمَ بُدْنَهُ كُلَّهَا لُحُومَهَا وَجُلُودَهَا وَجِلاَلَهَا لِلْمَسَاكِينِ
“Beliau menyuruhnya agar dia membagi-bagikan seluruh bagiannya (kurbannya) baik berupa daging, kulit maupun pelananya kepada orang-orang miskin." (HR. Ibnu Majah, Sunan Ibnu Majah, II:1054, No. hadis 3157, Ibnu Khuzaimah, Shahih Ibnu Khuzaimah, IV:295, No. hadis 2920, Ibnu Hibban, Shahih Ibnu Hibban, IX:330, No. hadis 4022) Nabi saw. bersabda kepada Ali:اقْسِمْ لُحُومَهَا بَيْنَ النَّاسِ وَجُلُودَهَا وَجِلَالَهَا وَلَا تُعْطِيَنَّ جَازِرًا مِنْهَا شَيْئًا"Bagikanlah kepada orang-orang, dagingnya, kulitnya dan pelananya, dan jangan kamu beri orang yang menyembelih (penjagal) sedikitpun." (HR. Ahmad, Musnad Ahmad, I:160, No. hadis 1374)  Dalam riwayat lain dengan redaksi:اقْسِمْ لُحُومَهَا وَجِلَالَهَا وَجُلُودَهَا بَيْنَ النَّاسِ وَلَا تُعْطِيَنَّ جَزَّارًا مِنْهَا شَيْئًا وَخُذْ لَنَا مِنْ كُلِّ بَعِيرٍ حُذْيَةً مِنْ لَحْمٍ ثُمَّ اجْعَلْهَا فِي قِدْرٍ وَاحِدَةٍ حَتَّى نَأْكُلَ مِنْ لَحْمِهَا وَنَحْسُوَ مِنْ مَرَقِهَا فَفَعَلَ“Bagikanlah dagingnya, pelananya dan kulitnya kepada orang-orang dan jangan engkau memberikan sedikit pun kepada tukang potongnya. Ambilkan untuk kami sepotong daging dari setiap ekor itu, kemudian masukkan ke dalam satu periuk sehingga kami memakan dari dagingnya dan minum dari kuahnya." Maka Ali pun melaksanakannya. (HR. Ahmad, Musnad Ahmad, I:260, No. hadis 2359)

Dari hadis-hadis di atas tampak jelas bahwa Nabi saw. menyerahkan kewenangan sepenuhnya kepada Ali sebagai panitia/Jami’ Qurban dalam menetapkan ukuran itu.

SYARIAT SEPUTAR IEDUL ADHA (BAGIAN I)

Pada 12 bulan hijriah terdapat 4 bulan yang ditetapkan oleh Allah kehormatannya. Allah berfirman:
إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ
Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram (terhormat). (QS. At-Taubah:36)

Bulan haram yang dimaksud adalah bulan Dzulqa`dah, Dzulhijjah, Muharram dan Rajab. (H.r. Al-Bukhari). Penghormatan terhadap bulan-bulan ini, khususnya bulan Dzulhijjah, antara lain terkait dengan syariat ibadah haji.

Bagi orang yang tidak melaksanakan haji, ada ibadah lain yang ditetapkan oleh Allah sebagai wujud dari memelihara kehormatan bulan Dzulhijjah, yaitu

Shaum  Arafah

عَنْ أَبِي قَتَادَةَ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم : صَوْمُ يَوْمِ عَرَفَةَ يُكَفِّرُ سَنَتَيْنِ مَاضِيَةً وَمُسْتَقْبِلَةً ، وَصَوْمُ عَاشُوراَءَ يُكَفِّرُ سَنَةً مَاضِيَةً . - رواه الجماعة إلا البخاري والترمذي -
Artinya :Dari Abu Qatadah, ia berkata,”Rasulullah saw. telah bersabda,’Shaum Hari Arafah itu akan mengkifarati (menghapus dosa) dua tahun, yaitu setahun yang telah lalu dan setahun kemudian. Sedangkan shaum Asyura akan mengkifarati setahun yang lalu” H.r. Al-Jama’ah kecuali Al-Bukhari dan At-Tirmidzi (Lihat, Ahmad, Musnad Ahmad, XXXVII:222, No. hadis 22.535,  Muslim, Shahih Muslim, I:520, An-Nasai, As-Sunan Al-Kubra, II:150, No. hadis 2796, Ibnu Majah, Sunan Ibnu Majah, II:340, 343, Ath-Thabrani, Al-Mu’jam Al-Awsath, VI:300, No. hadis 5642)

Hadis ini diriwayatkan pula oleh Ath-Thabrani dari Sahabat Zaid bin Arqam, Sahl bin Saad, Qatadah bin Nu’man, Ibnu Umar, dan Abu Sa’id Al-Khudriy. Dalam versi Abu Sa’id Al-Khudriy dengan redaksi
عَنْ أَبِي سَعِيدٍالخُدِرِيِّ قَالَ : قَالَ رسول الله صلى الله عليه وسلم صَوْمُ يَوْمِ عَرَفَةَ كَفَّارَةُ السَّنَةِ المَاضِيَةِ وَالسَّنَةِ المُسْتَقْبِلَةِ . - رواه الطبراني -
Artinya : Dari Abu Said, dari Nabi saw. Shaum Arafah itu merupakan kifarat tahun yang telah lalu dan tahun yang akan datang. (H.r. Ath-Thabrani, Al-Mu’jam Al-Awsath, III:45. No. hadis 2086)

Takbiran Iedul Adha

Selain Shaum sunat Arafah, pada bulan Dzulhijjah kaum muslimin juga disyariatkan untuk bertakbir. Bertakbir dilakukan sejak subuh 9 Dzulhijjah hingga ashar 13 dzulhijjah. Membacanya tidak terus menerus, melainkan bila ada kesempatan, baik ketika berkumpul di masjid atau di rumah masing-masing. Hal itu sebagaimana dijelaskan dalam hadis sebagai berikut:
عَنْ عَلِيٍّ وَعَمَّارِ أَنَّ النَّبِيَّ  صلى الله عليه وسلم… وَكَانَ يُكَبِّرُ مِنْ يَوْمِ عَرَفَةَ بَعْدَ صَلاَةَ الْغَدَاةِ وَيَقْطَعُهَا صَلاَةَ الْعَصْرِ آخِرَ أَيَّامِ التَّشْرِيْقِ
Dari Ali dan Ammar sesungguhnya Nabi saw… dan beliau bertakbir sejak hari Arafah setelah salat shubuh dan menghentikannya pada salat Ashar di akhir hari tasyriq (13 Dzulhijjah). (H.r. Al-Hakim, Al-Mustadrak, I:439; Al-Baihaqi, As-Sunan Al-Kubra, III:312)

Bagi Calon Qurbani: Makruh Memotong Rambut dan Kuku 

عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا دَخَلَتِ الْعَشْرُ وَأَرَادَ أَحَدُكُمْ أَنْ يُضَحِّيَ فَلَا يَمَسَّ مِنْ شَعَرِهِ وَبَشَرِهِ شَيْئًا رواه مسلم
Dari Umi Salamah bahwasannya Nabi saw. bersabda, “Apabila masuk sepuluh hari (bulan Dzulhijjah) sedangkan salah seorang di antara kalian hendak berkurban maka janganlah menyentuh (janganlah memotong) rambut dan kukunya sedikitpun. (H.R. Muslim)

Dalam redaksi lain
إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ وَعِنْدَهُ أُضْحِيَّةٌ يُرِيدُ أَنْ يُضَحِّيَ فَلَا يَأْخُذَنَّ شَعْرًا وَلَا يَقْلِمَنَّ ظُفُرًا رواه مسلم
Apabila masuk sepuluh hari (bulan Dzulhijjah) sedangkan ia mempunyai hewan kurban yang hendak dikubankan (disembelih) maka janganlah memotong rambut dan kukunya. (H.r. Muslim)

إِذَا رَأَيْتُمْ هِلَالَ ذِي الْحِجَّةِ وَأَرَادَ أَحَدُكُمْ أَنْ يُضَحِّيَ فَلْيُمْسِكْ عَنْ شَعْرِهِ وَأَظْفَارِهِ رواه مسلم
Apabila kalian melihat Hilal (tanggal 1 ) Dzulhijjah sedangkan salah seorang diantara kalian hendak berkurban maka peganglah (janganlah memotong) rambut dan kukunya. (H.r. Muslim)

Penjelasan lebih lengkap dapat dibaca pada makalah terpisah.

Amaliah Ketika Iedul Adha

Qurban

Qurban merupakan salah satu bagian dari Ibadah nusuk, yakni ibadah dalam bentuk sembelihan. Ibadah nusuk terbagi kepada tiga macam:
Pertama, al-Hadyu, yaitu menyembelih binatang tertentu yang disyariatkan bagi hujjaj (orang yang beribadah haji). Dan hadyu itu adalah rangkaian dari ibadah haji.

Kedua, al-Udhhiyyah atau yang biasa disebut kurban,  yaitu menyembelih binatang tertentu yang disyariatkan bagi orang yang tidak sedang beribadah haji.
Udhhiyyah, Idhhiyyah, Dhahiyyah, Dhihiyyah, Adhhat, Idhhat dan Dhahiyyah maknanya sama, yaitu binatang yang disembelih dengan tujuan taqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah pada hari Iedul Adhha sampai akhir hari-hari tasyriq. Kata itu diambil dari kata dhahwah yang berarti waktu dhuha. Disebut demikian, dilihat dari awal waktu pelaksanaan yaitu waktu dhuha (Lihat, Lisanul ’Arab, XIX:211, Mu'jam Al-Wasith, I:537)

Baik al-hadyu maupun al-Udhiyyah terikat oleh miqat zamani (ketentuan waktu), yaitu tanggal 10 hingga 13 Dzulhijjah sebelum maghrib. Namun berbeda dengan udlhiyah yang dapat disembelih dimana saja, al-hadyu terikat pula oleh miqat makani (ketentuan tempat), yaitu wajib disembelih di kota Mekah, dan apabila hadyu tidak dilaksanakan di Mekah maka hajinya tidak sah.

Ketiga, al-Aqiqah,  yaitu menyembelih binatang tertentu pada hari ke-7 dari kelahiran seorang anak.

Karena qurban itu termasuk nusuk, maka terikat dengan berbagai ketentuan yang berhubungan dengan jenis binatang, cara dan waktu penyembelihan, termasuk pendistribusiannya

Hukum Berkurban

Para ulama berbeda pendapat tentang hukum berkurban, ada yang berpendapat wajib dan ada pula yang berpendapat sunnah mu’akkadah. Namun mereka sepakat bahwa amalan mulia ini memang disyariatkan. (Lihat, Hasyiyah Asy-Syarh Al-Mumti’, VII:519). Sehingga tak sepantasnya bagi seorang muslim yang mampu untuk meninggalkannya, karena amalan ini banyak mengandung unsur penghambaan diri kepada Allah, taqarrub, syiar kemuliaan Islam dan manfaat besar lainnya.

Ureman kurban

Untuk tiap orang dianjurkan berqurban satu ekor kambing dan bila yang diqurbankannya itu unta mencukupi dari sepuluh orang. Sedangkan sapi mencukupi dari tujuh orang, sebagaimana diterangkan dalam hadis berikut ini:
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ : كُنَّا مَعَ رَسُولِ اللهِ  صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِى سَفَرٍ فَحَضَرَ الأَضْحَى فَاشْتَرَكْنَا فِى الْبقَرَةِ سَبْعَةً وَفِى الْبَعِيْرِعَشْرَةً. -رواه الترمذي-
Dari Ibnu Abbas, ia berkata, "Kami bersama Rasululah saw. dalam perjalanan, maka tiba waktu iedul Adha, lalu kami patungan untuk seekor sapi tujuh orang dan seekor unta untuk sepuluh orang." H.R. At-Tirmidzi

Syarat Umur dan kondisi Hewan Kurban

Ketentuan hewan Qurban telah ditegaskan oleh Nabi saw sebagaimana diterangkan dalam hadis-hadis berikut ini:
عَنْ جَابِرٍ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : لاَ تَذْبَحُوا اِلاَّ مُسِنَّةً اِلاَّ أَنْ يَعْسُرَ عَلَيْكُمْ فَتَذْبَحُوا جَدْعَةً مِنَ الضَّأْنِ. -رواه ابو داود-
Dari Jabir, ia berkata, "Rasulullah saw. bersabda, 'Janganlah kamu menyembelih hewan kurban kecuali yang musinnah (cukup umurna), sekiranya menyusahkan atas kamu maka sembelihlah kambing jadz'ah." Hr. Abu Dawud

Kata Ibnu Malik, “Arti asal al-Musinnah hiya al-kabirah bis sinni (tua umurna). Standar usia musinnah tergantung jenis hewannya. Apabila jenis Unta berarti berumur 5 tahun masuk tahun ke-6. Sapi berumur 2 tahun masuk tahun ke-3. Domba/kambing berumur 1 tahun (Lihat, Aunul Ma’bud, juz VII:352-353).
Sedangkan arti asal jad’un muda umurnya. Standar usia jad’un juga tergantung jenis hewannya. Jenis unta berumur maju ke 5 th. Sapi berumur maju ke-2. Domba/kambing berumur 6 bulan. (Lihat, Taudhihul Ahkam syarah Bulughul Maram, VII:87)

Keterangan di atas menunjukkan bahwa Qurban tidak sah bila hewannya bukan unta, sapi, atau domba/kambing. Adapun kerbau termasuk jins al-baqar (jenis sapi). Hewan-hewan tersebut disyariatkan cukup umur.

Perihal berqurban dengan binatang jenis betina, kita belum mendapatkan keterangan dari Rasulullah yang melarang berqurban dengan betina. Adapun keterangan yang sharih, yang tegas-tegas menerangkan akan bolehnya betina dijadikan qurban ialah dalam aqiqah.
Ummu Karzin pernah bertanya kepada Rasulullah perihal aqiqah, maka Rasulullah bersabda:
نَعَمْ, عَنِ الغُلاَمِ شَاتَانِ وَعَنِ الأُنْثَى وَاحِدَةً, لاَ يَضُرُّكُمْ ذُكْرَنًا كُنَّ أَوْ إِنَاثًا
“Ya, bagi anak laki-laki dua kambing dan bagi anak perempuan satu, dan tidak mengapa kambing jantan atau betina”. Hr. Ahmad dan At-Tirmidzi

Orang tidak biasa menyembelih qurban dengan binatang jenis betina, mungkin mengingat akan kelanjutan keturunan binatang termaksud. Sebab dengan adanya penyembelihan binatang jenis betina yang terlampau banyak dapat mengakibatkan kekurangan ternak, bahkan dapat mengakibatkan musnah atau habisnya keturunan ternak termaksud.

Selain jenis hewan, disyariatkan pula tentang kondisi hewan tersebut sebagaimana diterangkan dalam hadis berikut ini:
عَنِ الْبَرَّاءِ بْنِ عَازِبٍ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَرْبَعٌ لاَ تَجُوزُ فِى الضَّحَايَا العَوْرَاءُ الْبَيِّنُ عَوْرُهَا وَالْمَرِيْضَةُ الْبَيِّنُ مَرَضُهَا االْعَرْجَاءُ الْبَيِّنُ ضَلْعُهَا وَالْكَسِيْرُ الَّتِى لاَ تُنْقِى. رواه الخمسة
Dari Bara bin 'Azib, "Rasulullah saw. telah bersabda, 'Empat (cacat) yang tidak boleh dipakai qurban: Juling atau buta sebelah yang benar-benar julingnya, sakit yang benar-benar sakitnya, pincang yang benar-benar pincangnya, dan hewan yang telah tua yang sudah tidak bersumsum lagi." H.r. Al-Khamsah (Imam yang lima)

Pada dasarnya hadis di atas hendak menegaskan bahwa berqurban itu harus dengan binatang yang baik, sehat, gemuk, dan tidak ada cacat pada tubuhnya. Bagaimana halnya dengan kambing yang dikebiri ? Kambing yang dikebiri tidaklah termasuk cacat. Dalam riwayat Ahmad dan at-Tirmidizi ada diriwayatkan dari Siti Aisyah, bahwasanya Rasulullah pernah berqurban dengan dua kibasy yang gemuk, bertanduk dan telah dikebiri (mawjuain).

Syarat Waktu Penyembelihan

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِي اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ ذَبَحَ قَبْلَ الصَّلَاةِ فَإِنَّمَا ذَبَحَ لِنَفْسِهِ وَمَنْ ذَبَحَ بَعْدَ الصَّلَاةِ فَقَدْ تَمَّ نُسُكُهُ وَأَصَابَ سُنَّةَ الْمُسْلِمِينَ  رواه البخاري
Dari Anas r.a. ia berkata, “Nabi saw. telah bersabda, ’siapa yang menyambelih qurban sebelum salat ied, ia kurban untuk dirinya (bukan ibadah). Dan siapa yang menyembelih setelah salat, telah sempurna ibadahnya dan sesuai sunnah muslimin.’” H.r. al-Bukhari

عَنْ اَنَسٍ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ النَّحْرِ : مَنْ كَانَ ذَبَحَ قَبْلَ الصَّلاَةِ فَلْيُعِدْ متفق عليه
Dari Anas r.a. ia berkata, “Nabi saw. telah bersabda, ‘Pada hari raya qurban, siapa yang menyambelih qurban sebelum salat ied, maka hendaklah ia mengulangi lagi." Muttafaq Alaih

Senin, 01 Oktober 2012

IED BERTEPATAN DENGAN HARI JUMAT (BAGIAN III-TAMAT)


Ketiga, Ibnu Umar

عَنِ ابْنِ عُمَرَ ، قَالَ : اجْتَمَعَ عِيدَانِ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى الله عَليْهِ وسَلَّمَ , فَصَلَّى بِالنَّاسِ ، ثُمَّ قَالَ : مَنْ شَاءَ أَنْ يَأْتِيَ الْجُمُعَةَ فَلْيَأْتِهَا ، وَمَنْ شَاءَ أَنْ يَتَخَلَّفَ فَلْيَتَخَلَّفْ
Dari Ibnu Umar, ia berkata, “Telah bersatu dua ied pada zaman Rasulullah saw. maka beliau shalat mengimami orang-orang, lalu beliau bersabda, ‘Siapa yang akan melaksanakan shalat Jum’at maka datanglah, dan siapa yang akan meninggalkannya (tidak melaksanakannya), maka tinggalkanlah’.”  

Takhrij (penelusuran sumber) Hadis

Hadis di atas diriwayatkan oleh Ibnu Majah (Sunan Ibnu Majah, I:416, No. hadis 1312), Ibnu ‘Addiy (Al-Kamil fi Dhu’afa` Ar-Rijal, IV:468), Ibnul Jawziy (Al-‘Ilal Al-Mutanahiyyah, I:469), dan Ath-Thabrani (Al-Mu’jam Al-Kabir, XII:435, No. hadis 13.591). Riwayat Ath-Thabrani dengan redaksi:

اجْتَمَعَ عِيدَانِ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمُ فِطْرٍ وَجُمْعَهٌ فَصَلَّى بِهِمْ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلاةَ الْعِيدِ ثُمَّ أَقْبَلَ عَلَيْهِمْ بِوَجْهِهِ فَقَالَ:يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّكُمْ قَدْ أَصَبْتُمْ خَيْرًا وَأَجْرًا وَإِنَّا مُجْمِعُونَ فَمَنْ أَرَادَ أَنْ يُجْمِعَ مَعَنَا فَلْيُجْمِعْ وَمَنْ أَرَادَ أَنْ يَرْجِعَ إِلَى أَهْلِهِ فَلْيَرْجِعْ
“Dua ied berkumpul pada masa Rasulullah saw. yaitu Iedul fitri dan Jumat, maka beliau salat Ied mengimami mereka, kemudian beliau mengahadap mereka, lalu berkhutbah, ‘Wahai orang-orang, kalian telah memperoleh kebaikan dan pahala, dan sesungguhnya kami akan melaksanakan shalat Jumat, maka siapa yang akan melaksanakan salat Jum’at bersama kami, datanglah, dan siapa yang akan kembali kepada keluarganya (tidak melaksanakannya), maka kembalilah’.”

Seluruh jalur periwayatannya melalui rawi Jubarah bin Al-Mughallis. Ia menerima dari Mindal bin Ali, dari Abdul Aziz bin Umar, dari Nafi, dari Ibnu Umar.

Kedudukan Hadis

Sebagian ulama menyatakan bahwa hadis ini dhaif dengan dua alasan:
Pertama, terdapat rawi Jubarah bin Al-Mughallis, ia dinilai dhaif karena kadzdab (pendusta). Kata Ibnu Ma’in, “Dia kadzdab.”
Kata Imam Ahmad:
أَحَادِيْثُهُ كُذَّبٌ أَوْ مَوْضُوْعَةٌ
“Hadis-hadisnya dusta atau palsu.”
Kata Ad-Daraquthni, “Dia matruk (tertuduh dusta).” (Lihat, Mizan Al-I’tidal, I:387; Tahdzib At-Tahdzib, II:58)

Kedua, terdapat rawi Mindal bin Ali.
Dia telah dinilai dha’if oleh Ahmad, Ibnu Ma’in, Ibnul Madini, Abu Zur’ah, An-Nasai dan Ad-Daraquthni. (Lihat, Mizan Al-I’tidal, IV:180; Tahdzib At-Tahdzib, X:298)
Kata Ibnul Jawzi:
وَهذَا لاَ يَصِحُّ ، مِنْدَلُ بْنُ عَلِيٍّ ضَعِيْفٌ جِدًّا وَأَمَّا جُبَارَةُ فَلَيْسَ بِشَيْئٍ
“Dan hadis ini tidak shahih, Mindal bin Ali sangat dha’if. Adapun Jubarah tidak bernilai sama sekali.” (Lihat, Al-‘Ilal Al-Mutanahiyyah, I:469)

Imam Al-Bushiri berkata
إِسْنَادُهُ ضَعِيْفٌ لِضَعْفِ جُبَارَةَ وَ مِنْدَلَ
“Sanadnya dha’if karena kadha’ifan Jubarah dan Mindal.” (Mishbah Az-Zujajah fi Zawa`id Ibn Majah, I:155)

Adapun riwayat Ath-Thabari dinilai dhaif karena pada sanadnya terdapat rawi Sa’id bin Rasyid As-Sammak. Menurut Imam Al-Bukhari, “Dia munkar al-Hadits.” Menurut Yahya bin Ma’in, “Dia laisa bisya`in (tidak bernilai sama sekali).” An-Nasai berkata, “Dia matruk.” Kata Ibnul Jawzi, “Hadis ini tidak shahih.” (Lihat, Al-Badr Al-Munir fi Takhrij Al-Ahadits wa Al-Atsar Al-Waqi’ah fi Asy-Syarh Al-Kabir, V:104-105)

Berdasarkan penilaian para ulama di atas dapat diambil kesimpulan bahwa hadis tentang Iedul fitri jatuh pada hari Jumat—yang bersumber dari Ibnu Umar—derajatnya dha’if secara sanad, namun secara matan (kandungan hadis) berderajat shahih, karena sesuai dengan periwayatan dua shahabat lainnya yang telah disampaikan pada pembahasan sebelumnya.

Sehubungan dengan itu, Imam Al-Bushiri berkata:
إِسْنَادُهُ ضَعِيْفٌ لِضَعْفِ جُبَارَةَ وَ مِنْدَلَ وَلَهُ شَاهِدٌ مِنْ حَدِيْثِ زَيْدِ بْنِ أَرْقَمَ رَوَاهُ النَّسَائِي فِي الصُّغْرَى وَرَوَاهُ الْحَاكِمُ فِي الْمُسْتَدْرَكِ مِنْ حَدِيْثِ عَبْدِ اللهِ بْنِ السَّائِبِ وَقَالَ هذَا حَدِيْثٌ صَحِيْحٌ عَلَى شَرْطِ الشَّيْخَيْنِ
“Sanadnya dha’if karena kadha’ifan Jubarah dan Mindal, dan hadis itu mempunyai syahid (penguat) dari hadis Zaid bin Arqam riwayat An-Nasai dalam kitab Sunan-nya dan Al-Hakim dalam kitab Al-Mustadrak dari hadis Abdullah bin As-Sa`ib, dan ia berkata, ‘Hadis ini shahih sesuai syarat Al-Bukhari-Muslim.” (Lihat, Mishbah Az-Zujajah fi Zawa`id Ibn Majah, I:155)

Demikian pula penilaian Syekh Al-Albani, meskipun yang dijadikan syahidnya adalah hadis Ibnu Abas sebagai berikut:
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ عَنْ رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم أَنَّهُ قَالَ إِجْتَمَعَ عِيْدَانِ في يَوْمِكُمْ هذَا فَمَنْ شَاءَ أَجْزَأَهُ مِنَ الْجُمُعَةِ وَإِنَّا مُجَمِّعُونَ إِنْ شَاءَ اللهُ
Dari Ibnu Abbas, dari Rasulullah saw. bahwa beliau bersabda, “Sungguh telah bersatu dua ied pada hari ini, maka siapa yang mau (tidak melaksanakan shalat Jum’at), maka shalat ied ini mencukupkan dari (shalat) Jum’at, dan sesungguhnya kami akan melaksanakan shalat Jum’at, insya Allah.” (Lihat, Shahih wa Dha’if Sunan Ibn Majah, III:311-312)

Dari berbagai penjelasan yang telah disampaikan dari awal (bagian I) hingga akhir, dapat diambil kesimpulan bahwa hadis tentang Iedul fitri jatuh pada hari Jumat—yang bersumber dari beberapa shahabat—derajatnya shahih, atau paling tidak hasan, yaitu dibawah derajat shahih, namun hadisnya dapat dijadikan hujjah.

Adapun fiqih atau pemahaman terhadap kandungan hadis itu akan disampaikan pada pembahasan terpisah, insya Allah.

IED BERTEPATAN DENGAN HARI JUMAT (BAGIAN II)


Kedua, Zaid bin Arqam

عَنْ إِيَاسِ بْنِ أَبِي رَمْلَةَ الشَّامِي قَالَ : شَهِدْتُ مُعَاوِيَةَ يَسْأَلُ زَيْدَ بْنَ أَرْقَمَ : أَشَهِدْتَ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عِيدَيْنِ اجْتَمَعَا فِي يَوْمٍ ؟ قَالَ نَعَمْ ، قَالَ : فَكَيْفَ صَنَعَ ؟ قَالَ : صَلَّى الْعِيدَ ثُمَّ رَخَّصَ فِي الْجُمْعَةِ فَقَالَ : مَنْ شَاءَ أَنْ يُصَلِّيَ فَلْيُصَلِّ
Dari Iyas bin Abu Ramlah Asy-Syamiy, ia berkata, “Aku menyaksikan Muawiyah bertanya kepada Zaid bin Arqam, ‘Apakah engkau bersama Rasulullah saw. pernah menyaksikan dua ied pada hari yang sama?’ Ia menjawab, ‘Benar.’ Ia bertanya lagi, ‘Bagaimana beliau berbuat?’ Ia menjawab, ‘Beliau shalat ied, kemudian menetapkan rukhsah pada shalat Jumat, yaitu beliau bersabda, ‘siapa yang akan salat Jum’at, maka lakukanlah.”

Takhrij (penelusuran sumber) Hadis

Hadis di atas diriwayatkan oleh Imam Ahmad (Al-Musnad, IV:372, No. hadis 19.337), Abu Dawud (Sunan Abu Dawud, I:281, No. 1070), An-Nasai (Sunan An-Nasai, III:194, No. 1591, As-Sunan Al-Kubra, I:551, No. 1793), Ibnu Majah (Sunan Ibnu Majah, I:415, No. hadis 1310), Ibnu Khuzaimah (Shahih Ibnu Khuzaimah, II:359, No. 1464), At-Thabrani (Al-Mu’jam Al-Kabir, V:209, No. 5120), Al-Hakim (Al-Mustadrak ‘ala As-Shahihain, I:425, No. 1063), Abu Dawud At-Thayalisi (Musnad At-Thayalisi, I:94, No. hadis 685), Ad-Darimi (Sunan Ad-Darimi, I:459, No. 1612), Al-Baihaqi (As-Sunan Al-Kubra, III:317, No. hadis 6080), Ibnu Abu Syaibah (Al-Mushannaf, II:8, No. hadis 5846), dengan sedikit perbedaan redaksi, melalui jalur periwayatan yang sama, yaitu rawi Israil. Ia menerima dari Usman bin Al-Mughirah. Ia menerima dari Iyas bin Abu Ramlah As-Syamiy. Ia menerima dari Zaid bin Arqam, dari Nabi saw.
Dalam riwayat An-Nasai dengan redaksi:
نَعَمْ صَلَّى الْعِيدَ أَوَّلَ النَّهَارِ ثُمَّ رَخَّصَ فِي الْجُمُعَةِ
Kata Zaid bin Arqam, “Benar, beliau shalat ied pada awal siang, lalu beliau memberikan rukhsah pada shalat Jumat.”

Dalam riwayat Ahmad dengan tambahan redaksi:
نَعَمْ صَلَّى الْعِيدَ أَوَّلَ النَّهَارِ ثُمَّ رَخَّصَ فِي الْجُمُعَةِ فَقَالَ مَنْ شَاءَ أَنْ يُجَمِّعَ فَلْيُجَمِّعْ
“Benar, beliau shalat ied pada awal siang, lalu beliau memberikan rukhsah pada shalat Jumat, beliau bersabda, ‘Siapa yang akan shalat Jumat, maka lakukanlah’.”

Kedudukan Hadis

Imam Al-Hakim berkata:
هَذَا حَدِيْثٌ صَحِيْحُ الْإِسْنَادِ وَلَمْ يُخْرِجَاهُ قَالَ: وَلَهُ شَاهِدٌ عَلَى شَرْطِ مُسْلِمٍ
“Hadis ini shahih sanadnya dan keduanya (Al-Bukhari-Muslim) tidak meriwayatkannya. Dan hadis ini memiliki syahid (hadis lain sebagai penguat) yang memenuhi criteria shahih Muslim.”
Selanjutnya, ia menyebutkan riwayat Abu Huraerah.

Al-Atsram berkata:
سُئِلَ أَبُو عَبْدِ اللهِ - يَعْنِي أَحْمَدَ بْنَ حَنْبَلٍ - عَنِ الْعِيدَيْنِ يَجْتَمِعَانِ فِي يَوْمٍ (وَاحِدٍ) فَذَكَرَ هَذَا الحَدِيْثَ
“Abu Abdullah—yakni Ahmad bin Hanbal—ditanya tentang dua ied yang bertemu di hari yang sama, maka ia menyebutkan hadis ini.”

Ibnul Jawzi berkata:
هَذَا حَدِيْثٌ يُعْتَمَدُ عَلَيْهِ
“Ini adalah hadis yang dapat dipercaya.”
Dalam karyanya yang lain, ia berkata:
إِنَّهُ أَصَحُّ مَا فِي الْبَابِ
“Sesungguhnya hadis itu merupakan yang paling shahih dalam topic itu.”

An-Nawawi berkata:
إِسْنَادُهُ حَسَنٌ
“Sanadanya hasan.” (Lihat, Al-Badr Al-Munir fi Takhrij Al-Ahadits wa Al-Atsar Al-Waqi’ah fi Asy-Syarh Al-Kabir, V:99-100)

Komentar para ulama di atas menunjukkan bahwa derajat hadis ini shahih, atau paling tidak hasan, yaitu dibawah derajat shahih, namun hadisnya dapat dijadikan hujjah.

Meski demikian terdapat sebagian ulama yang mendhaifkan hadis tersebut dengan dua alasan:
Pertama, terdapat rawi Iyas bin Abu Ramlah, ia dinilai dhaif karena majhul hal (tidak dikenal identitasnya dan punya murid lebih dari satu orang).
Kata Ibnul Qathan:
إِنَّه مَجْهُول الْحَال
“Sesungguhnya dia majhul hal.”
Dan ketika Ibnul Mundzir menyebutkan hadis ini, ia berkata, “Sesungguhnya hadis itu tidak tsubut (kuat) dan sungguh Iyas bin Abu Ramlah majhul.”

Kedua, terdapat rawi Israil bin Yunus bin Abu Ishaq As-Sabi’i, yang menerima dari Usman bin Al-Mughirah, dari Iyas.
Kata Ibnu Hazm:
لَيْسَ بِالْقَوِيّ وَلَا يَصح وَإِسْرَائِيل هَذَا من رجال «الصَّحِيحَيْنِ» وَبَاقِي الْكتب السِّتَّة وَوَثَّقَهُ أَحْمد وَأَبُو حَاتِم وَغَيرهمَا وَعَن ابْن الْمَدِينِيّ تَضْعِيفه
“Ia (Israil) tidak kuat dan tidak shahih. Dan Israil ini termasuk dari para rawi Shahih Al-Bukhari-Muslim dan kitab-kitab induk hadis lainnya. Dia dinilai tsiqah (kredibel) oleh Ahmad, Abu Hatim dan lain-lain, namun Ibnul Madini menilainya sebagai rawi yang dhaif.” (Lihat, Al-Badr Al-Munir fi Takhrij Al-Ahadits wa Al-Atsar Al-Waqi’ah fi Asy-Syarh Al-Kabir, V:100)

Sehubungan dengan penilaian dhaif dari sebagian ulama di atas, Syekh Al-Albani memberikan penjelasan sebagai berikut:
(قلت: حديث صحيح، وصححه ابن المديني والحاكم والذهبي) إسناده: حدثنا محمد بن كثير: أخبرنا إسرائيل: ثنا عثمان بن المغيرة عن إياس بن أبي رملة.
قلت: وهذا إسناد رجاله كلهم ثقات رجال الشيخين؛ غير إياس بن أبي رملة؛ فهو مجهول، كما قال الحافظ. لكن الحديث صحيح بشواهده الآتية في الكتاب.
والحديث أخرجه الطيالسي في "مسنده " (1/ 145/704) قال: حدثنا إسرائيل... به.
وأخرجه النسائي (1/235) ، والدارمي (1/378) ، وابن ماجه (1/393) ، والطحاوي في "المشكل " (2/53) ، والحاكم (1/ول 2) ، والبيهقي (3/317) ، وأحمد 4/372) من طرق أخرى عن إسرائيل... به. وقال الحاكم:صحيح الإسناد ووافقه الذهبي مع أنه أورد إياساً هذا في "الميزان " بهذا الحديث، وقال: قال ابن المنذر: لا يثبت هذا؛ فإن إياساً مجهول. وقال ابن القطان: هو كما قال. وتبعهم الحافظ كما سبق. وأما ابن حبان؛ فذكره في الثقات وصحح حديثه ابن الديني، كما في "التلخيص " (2/88) ؛ وهو صحيح كما ذكرنا.
 “Menurut saya, ini adalah hadis yang shahih. Dan hadis itu telah dishahihkan oleh Ibnul Madini dan Al-Hakim serta disetujui oleh Adz-Dzahabi. Adapun sanadnya: Muhammad bin Katsir telah menceritakan kepada kami. Ia berkata, ‘Israil telah mengabarkan kepada kami.’ Usman bin Al-Mughirah telah menceritakan kepada kami, dari Iyas bin Abu Ramlah. Menurut saya, dan ini sanad hadis yang para rawinya semuanya tsiqat (kredibel), para rawi Al-Bukhari-Muslim, selain Iyas bin Abu Ramlah, maka dia majhul, sebagaimana dinyatakan oleh Al-Hafizh Ibnu Hajar, namun hadis itu shahih berdasarkan syawahid (sejumlah hadis penguat) yang akan datang dalam kitab tersebut. Hadis yang dimaksud riwayat Ath-Thayalisi dalam Musnad-nya (I/145/704). Ia berkata, “Israil menceritakan kepada kami…dengannya. Diriwayatkan pula oleh An-Nasai (1/235), Ad-Darimi (1/378), Ibnu Majah (1/393), Ath-Thahawi dalam Musykil Al-Atsar (2/53), Al-Hakim, Al-Baihaqi (III:317), Ahmad (IV:372) melalui beberapa jalan lainnya dari Israil…Dan Al-Hakim berkata, “Sahih Sanad.” Dan disetujui oleh Adz-Dzahabi di samping ia sendiri mencantumkan rawi Iyas dalam kitabnya Mizanul I’tidal dengan hadis ini. Ia berkata, ‘Ibnul Mundzir berkata, “Hadis ini tidak tsabit (kokoh), karena Iyas majhul.’ Ibnul Qathan berkata, “Ia (Iyas) sebagaimana dikatakan olehnya (Ibnul Mudzir). Dan Al-Hafizh Ibnu Hajar mengikuti penilaian mereka sebagaimana keterangan terdahulu. Adapun Ibnu Hibban telah menerangkannya dalam kitabnya Ats-Tsiqat. Dan hadis itu  dinyatakan shahih oleh Ibnul Madini sebagaimana tercantum pada kitab At-Talkhish (2/88), dan hadis itu shahih sebagaimana telah kami tertangkan.” (Lihat, Shahih Sunan Abu Dawud, IV:236-237)

Berdasarkan penjelasan Syekh Al-Albani di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa hadis tentang Iedul fitri jatuh pada hari Jumat—yang bersumber dari Zaid bin Arqam—derajatnya shahih atau paling tidak hasan, yaitu dibawah derajat shahih, namun hadisnya dapat dijadikan hujjah.

IED BERTEPATAN DENGAN HARI JUMAT (BAGIAN I)

Sebagaimana yang kita maklumi bahwa Iedul Adha di tahun ini, 10 Dzulhijjah 1433 H, diduga kuat akan jatuh pada hari Jumat bertepatan dengan 26 Oktober 2012. Sehubungan dengan itu terdapat tiga hal yang penting untuk dibahas:

Pertama, kedudukan Hadis: “Ied Jatuh Pada Hari Jumat. Masalah ini perlu ditegaskan kembali sehubungan dengan pandangan sebagian kalangan yang menilai hadis yang berkenaan dengan itu statusnya dhaif.
Kedua,  kedudukan shalat Jumat bila bertepatan dengan Ied.
Ketiga,  peristiwa  Ied jatuh pada hari Jumat pada masa kekhalifahan Ibnu Zubair dan praktek shalat yang dilakukan oleh beliau ketika itu.

Ied Zaman Nabi saw.

Berdasarkan analisa sejarah dan riwayah dapat diketahui bahwa sepanjang hayat Rasulullah saw., beliau telah mengalami iedul fitri dan iedul Adha sebanyak sembilan kali. Iedul Fitri perdana Nabi terjadi pada hari Senin, 1 Syawal 2 H/26 Maret 624 M. Sedangkan Iedul Adha perdana terjadi pada (sekitar) 10 Dzulhijjah 2 H/Juni 624 M. Adapun iedul fitri terakhir terjadi pada Senin, 1 Syawal 10 H/30 Desember 631 M. Sedangkan Iedul Adha pada (sekitar) 10 Dzulhijjah 10 H/Maret 632 M.
Dari jumlah sebanyak itu (Sembilan kali iedul fitri dan adha) hanya satu kali terjadi hari ied pada hari Jumat, yaitu Iedul Fitri 1 Syawal 3 H yang bertepatan dengan 15 Maret 625 M.
Informasi tentang peristiwa Ied jatuh pada hari Jumat pada zaman Rasulullah, bersumber dari empat sahabat:

Pertama, Abu Huraerah

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ، عَنْ رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم أَنَّهُ قَالَ قَدِ اجْتَمعَ في يَوْمِكُمْ هذَا عِيدَانِ فَمَنْ شَاءَ أَجْزَأَهُ مِنَ الْجُمُعَةِ وَإِنَّا مُجَمِّعُونَ
Dari Abu Huraerah, dari Rasulullah saw. bahwa beliau bersabda, “Sungguh telah bersatu pada hari ini dua ied, maka siapa yang mau (tidak melaksanakan shalat Jum’at), maka shalat ied ini mencukupkan dari (shalat) Jum’at, dan sesungguhnya kami akan melaksanakan shalat Jum’at.”

Takhrij (penelusuran sumber) Hadis

Hadis di atas diriwayatkan oleh Abu Dawud (Sunan Abu Dawud, I:281, No. 1073), Ibnu Majah (Sunan Ibnu Majah, I:416, No. 1311), Al-Baihaqi (As-Sunan Al-Kubra, III:318, No. hadis 6082), Al-Hakim (Al-Mustadrak ‘ala As-Shahihain, I:425, No. 1064), Ibnul Jarud (Al-Muntaqa, I:84, No. hadis 302), dengan sedikit perbedaan redaksi, melalui jalur periwayatan yang sama, yaitu rawi Baqiyyah bin Al-Walid. Ia menerima dari Syu’bah, dari Al-Mughirah bin Miqsam Ad-Dhabbi, dari Abdul Aziz bin Rufai’, dari Abu Shalih, dari Abu Huraerah, dari Rasulullah saw.

Imam Al-Baihaqi meriwayatkan dengan dua redaksi; pada satu riwayat redaksinya sama dengan di atas, sementara pada riwayat lainnya dengan redaksi sebagai berikut:
(إِنَّهُ قَدِ اجْتَمَعَ عِيدُكُمْ هَذَا وَالْجُمُعَةُ وَإِنَّا مُجَمِّعُونَ ، فَمَنْ شَاءَ أَنْ يُجَمِّعَ فَلْيُجَمِّعْ ) فَلَمَّا صَلَّى الْعِيدَ جَمَّعَ
Beliau bersabda, “Sungguh telah bersatu ied kalian ini dan Jumat, dan sesungguhnya kami akan melaksanakan shalat Jum’at. Maka siapa yang mau melaksanakan shalat Jum’at, lakukanlah.” Setelah beliau melaksanakan shalat ied, beliau melaksanakan shalat Jum’at (pada waktunya) (As-Sunan Al-Kubra, III:318, No. hadis 6081)

Sementara pada riwayat Ibnul Jarud, setelah kalimat wa innaa mujammi’uun terdapat kalimat tambahan: “insya Allah.” (Al-Muntaqa, I:84, No. hadis 302)

Kedudukan Hadis
  
Imam Al-Hakim berkata:
هذَا حَدِيْثٌ صَحِيْحٌ عَلَى شَرْطِ مُسْلِمٍ فَإِنَّ بَقِيَّةَ بْنَ الْوَلِيْدِ لَمْ يَخْتَلِفْ فِي صِدْقِهِ إِذَا رَوَى عَنْ الْمَشْهُوْرِيْنَ وَهذَا حَدِيْثٌ غَرِيْبٌ مِنْ حَدِيْثِ شُعْبَةَ وَالْمُغِيْرَةِ وَعَبْدِ الْعَزِيْزِ ، وَكُلُّهُمْ مِمَّنْ يُجْمَعُ حَدِيْثُهُ
“Hadis ini shahih sesuai dengan kriteria Muslim sanadnya. Maka sungguh Baqiyyah bin Al-Walid tidak diperselisihkan lagi tentang kebenaran/kejujurannya apabila ia meriwayatkan dari para rawi yang popular (kredibilitasnya).  Dan hadis ini gharib (tunggal) dari hadis Syu’bah, Al-Mughirah, dan Abdul Aziz, dan semuanya termasuk orang yang disepakati hadisnya.” (Al-Mustadrak ‘ala As-Shahihain, I:425, No. 1064)
Kata Imam Al-Kanani:
هذَا إِسْنَادٌ صَحِيْحٌ رِجَالُهُ ثِقَاتٌ
“Ini sanad yang shahih, para rawinya tsiqat (kredibel).” (Lihat, Mishbah Az-Zujajah fii Zawa`id Ibn Majah, I:155)

Komentar para ulama di atas menunjukkan bahwa derajat hadis ini shahih, atau paling tidak hasan, yaitu dibawah derajat shahih, namun hadisnya dapat dijadikan hujjah.

Meski demikian terdapat sebagian ulama yang mendhaifkan hadis tersebut dengan dua alasan:

Pertama, terdapat rawi bernama Baqiyyah bin Al-Walid, ia dinilai dhaif karena banyak melakukan tadlis (penyamaran dalam sanad).

Abdullah bin Ahmad bin Hanbal mengatakan, “Ayahku ditanya tentang Baqiyah dan Isma’il bin Ayyas, ia menjawab, ‘Baqiyah lebih aku cintai. Bila ia meriwayatkan dari suatu kaum yang tidak terkenal (majhul), maka periwayatannya jangan diterima’.”

Ibnu Khuzaimah berkata, “Aku tidak menjadikan hujjah dengan Baqiyyah.” Ahmad bin Hasan At-Tirmidzi telah menceritakan kepadaku (Ibnu Khuzaimah), “Aku mendengar Ahmad bin Hanbal mengatakan, ‘Aku mengira bahwasanya Baqiyah tidak meriwayatkan hadis-hadis munkar dari rawi rawi yang majhul. Apabila ia meriwayatkan hadis munkar dari rawi-rawi yang masyhur maka aku tahu min aena ataa (dari mana sumbernya)? Menurutku, ataa minat Tadlis.”

Abu Hatim mengatakan, “Hadisnya ditulis tapi tidak dijadikan hujjah.” Ibnu Hajar berkata, “Ia itu shaduq (benar/jujur), banyak mentadlis dari rawi yang dhaif.”  Abul ‘Arab Al-Qairawani mengatakan, “Ia banyak meriwayatkan dari rawi-rawi yang daif dan majhul.” (Lihat, Tahdzibul Kamal, IV:192-200)

Abul Hasan bin Al-Qathan mengatakan, “Baqiyah mentadlis dari rawi-rawi yang daif, wa yasytabihu dzalik (dal hal itu meragukan). Dengan sebab ini maka walaupun ia sahih tetap ia mufsid (rusak) dengan sebab ‘adalahnya.” Menurutku (Imam Adz-Dzhabi), “Ya, demi Allah, memang benar demikian tentang dirinya, melakukannya (hal-hal seperti di atas)…” (Lihat, Mizanul ‘Itidal,  I:331-339)

Kedua, terdapat rawi Al-Mughirah bin Miqsam Adh-Dhabbi, dia rawi mudallis (menyamarkan sanada) dan ia meriwayatkannya dengan shigah (bentuk) periwayatan ‘an (dari) tanpa menjelaskan dengan tahdits. (Lihat, Taqrib At-Tahdzib, hal. 966, Ta’rif Ahl At-Taqdis, hal. 121)

Catatan:
Tahdits adalah periwayatan seorang rawi dengan bentuk haddatsanaa (menceritakan kepada kami) atau akhbaranaa (mengabarkan kepada kami)

Sehubungan dengan penilaian dhaif dari sebagian ulama di atas, Syekh Al-Albani memberikan penjelasan sebagai berikut:
(قلت: حديث صحيح، وقال الحاكم: " صحيح على شرط مسلم وافقه الذهبي وقال البوصيري:  هذا إسناد صحيح "إسناده: حدثنا محمد بن المُصَفَّى وعمر بن حفص الوَصابي- المعنى- قالا:ثنا بقية: ثنا شعبة عن المغيرة الضّبي عن عبد العزيز بن زفَيْع عن أبي صالح عن أبي هريرة... قال عمر: عن شعبة.
قلت: وهذا إسناد رجاله ثقات كلهم؛ وبقية إنما يخشى منه إذا عنعن؛ لأنه مدلس، وقد صرح بالتحديث في رواية ابن المصفى، وكذا في رواية غيره كما يأتي، فزالت شبهة تدليسه، فيتبادر إلى الذهن أنه صح الإسناد، وليس كذلك - وإن ظنه كثيرون-؛ فإن فيه مدلساً آخر، ذهلوا عنه؛ لأنه ليس مشهوراً بالتدليس مثل بقية، ألا وهو المغيرة بن مِقْسَم الضبي؛ فإنه- مع إتقانه- كان يدلس كما في "التقريب " وغيره؛ فهو علة هذا الإسًناد؛ إلا أن الحديث صحيح يشواهده المتقدمة.
“Menurut saya, hadis itu shahih. Dan Al-Hakim berkata, ‘Hadis itu shahih sesuai dengan syarat Muslim.’ Dan penilaian Al-Hakim disetujui oleh Adz-Dzahabi, dan Al-Bushairi berkata, ‘Ini sanad yang shahih’. Adapun sanadnya: Muhammad bin Al-Mushaffa dan Umar bin Hafsh Al-Washabiy telah menceritakan kepada kami. Keduanya berkata, ‘Baqiyyah telah menceritakan kepada kami, Syu’bah telah menceritakan kepada kami, dari Al-Mughirah Ad-Dhabbi, dari Abdul Aziz bin Rufai’, dari Abu Shalih, dari Abu Huraerah…Umar berkata, ‘Dari Syu’bah.’
Menurut saya, ‘Sanad hadis ini semua rawinya tsiqat (kredibel), dan kehawatiran terhadap Baqiyyah tiada lain apabila ia meriwayatkan hadis dengan bentuk ‘an, karena ia mudallis. Namun dalam periwayatan hadis ini, ia menjelaskannya secara tahdits pada riwayat Ibnu Mushaffa dan lain-lain, sebagaimana akan dikemukakan, maka hilanglah syubhat tadlisnya. Dengan demikian, yang segera dipahami bahwa sanad hadis itu shahih—sebagaimana diduga oleh kebanyakan ulama—namun ternyata tidaklah demikian, sebab masih ada rawi lain yang mudallis yang kurang mendapat perhatian dari mereka karena tadlis rawi itu tidak sepopuler Baqiyah. Rawi yang dimaksud ialah Al-Mughirah bin Miqsam Adh-Dhabbi. Meskipun ia dapat dikategorikan rawi yang cermat, namun ia melakukan tadlis sebagaimana diterangkan dalam kitab Taqrib At-Tahdzib dan lainnya. Maka dialah yang menjadi kecacatan pada sanad ini. Namun, hadis ini dapat dikategorikan shahih berdasarkan periwayatan para rawi lainnya sebagaimana telah disampaikan sebelumnya.” (Lihat, Shahih Sunan Abu Dawud, IV:239-240)

Berdasarkan penjelasan Syekh Al-Albani di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa hadis tentang Iedul fitri jatuh pada hari Jumat—yang bersumber dari Abu Huraerah—derajatnya shahih.